oleh

Lagi, Aktivitas Penambangan Sebabkan Longsor di Gunung Kunyit

Bandarlampung (Netizenku.com): Aktivitas penambangan batu di Kota Bandarlampung kian menjadi-jadi. Kali ini peristiwa longsor terjadi di Gunung Kunyit, Sukaraja, Bandarlampung, Selasa (3/12). Ditelisik para pekerja atau kuli angkut dan penambang batu justru mengharapkan peristiwa longsor terjadi.

Longsor di gunung tersebut berhasil diabadikan warga sekitar, tergambar jelas dalam video debu yang mengepul tebal hingga radius sekitar 50 sampai 100 meter itu beredar di pesan berantai dan media sosial.

Di lokasi, salah satu pekerja penambang batu, Wiwin Garong, dengan gambling mengungkapkan, peristiwa longsor tersebut justru merupakan aktivitas yang disengaja. Di mana hal itu dilakukan untuk mempermudah dalam proses penambangan di sebuah gunung atau bukit, yakni perlu dilakukannya pengerukan hingga longsor itu terjadi.

Baca Juga  IK-DMI Minta Hamartoni Jadi Penasehat

\”Ya ini hanya aktivitas masyarakat aja, ya memang dibuat. Itu pun memang kerjaan kita digerong (dikeruk bagian bawah bukit, red) dulu baru jatuh. Memang manual. Ini semua warga, hampir 80 persen pekerja cari nafkah di sini,\” terangnya.

Aktivitas ini cukup membahayakan, selain debu, kemungkinan yang tidak diinginkan dapat terjadi pada pelaku penambangan itu sendiri. Beruntung tidak ada korban jiwa pada peristiwa ini. Akan tetapi, longsor ini justru diharapkan kedatangannya oleh para penambang, pasalnya pada peristiwa ini ada sedikit angka yang cukup menjanjikan.

Baca Juga  Kunjungan Didik ke DPRD Provinsi Disambut Prosesi Adat Lampung

Padahal, lima rumah warga di kawasan Sukaraja, Bandarlampung, pernah hancur tertimbun longsoran batu Gunung Kunyit, Sabtu (21/6/2003). Tak sedikit pula di tempat lainnya cara penambangan seperti ini kerap merenggut korban jiwa.

\”Ya memang kita sudah ngerti, kalau memang sudah mau longosor sudah ada gerakannya,\” jelasnya.

Pengakuan Wiwin jika sudah terjadi longsor yang sengaja dibuat dengan menggeruk batu-batu di bagian bawah gunung agar dapat terjadinya longsor. Penantian ini berlangsung sekitar 3 sampai dengan 4 bulan setelah dilakukannya pengerukan.

Hasilnya pun berbanding jauh, ketika terjadinya longsor seperti ini pekerja akan mendapatkan upah berkali lipat ketimbang hari biasanya, yakni menghasilkan sekitar 30 rit dengan muatan mobil truk. Setiap truk nya para pekerja mendapatkan upah di angka Rp80 ribu. Artinya, jika dalam sehari batu yang dihasilkan dari longsor tersebut berhasil diangkut, para pekerja mendapatkan upah di kisaran Rp2,4 juta per orangnya.

Baca Juga  Wabup Hadiri Penandatanganan dan Deklarasi Komitmen Penyelenggaraan Pelayanan Publik

\”Nggak menentu, bisa 3 sampai 4 bulan baru bisa longsor. Sekali longsor kaya gini, paling 30 mobil. Kuli nya dapet 80 ribuan sekali muat,\” bebernya.

Peristiwa seperti ini bukanlah yang pertama kali, sebelumnya juga pernah terjadi peristiwa serupa di Bukit Sukamenanti, Kedaton, Rabu (30/10) beberapa waktu lalu. Diketahui aktivitas penambangan batu di Bukit Sukamenanti masih terus berlangsung hingga saat ini. (Adi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *