oleh

Kita Mau Kemana Lagi, Bu?

Sore ini saya ajak istri bermotor. Selain memang hobi bermotor, saya bermaksud keliling ke beberapa ruas jalan di Kota Bandarlampung. Tujuannya untuk melihat suasana PPKM Level 4 yang sudah ‘dilonggarkan’.

Pelonggaran itu tercermin dari dibukanya sekat-sekat pembatas di jalan protokol yang beberapa waktu lalu diterapkan. Berawal dari Kedaton lalu motor di arahkan ke Jalan Raden Intan. Kendati penyekatan sudah tak ada lagi, namun kendaraan yang melintas tidak padat. Bahkan jalanan terkesan lengang.

Tak butuh waktu lama, roda motor sudah menggelinding hingga Taman Gajah, Enggal. Di area ini tampak warga kota sedang duduk santai menyambut senja. Memang tidak begitu ramai. Namun geliat kota mulai terasa.

Hanya melintas, saya dan istri melanjutkan perjalanan ke arah fly over Gajah Mada. Sampai simpang empat dekat Stadion Pahoman, kami memilih belok kiri. Mengambil lajur bawah fly over hendak menuju Jalan Gajah Mada lalu terus ke Jalan Antasari.

Di bawah jalan layang ini melintang rel kereta. Itu mengharuskan saya mengurangi kecepatan si kuda besi. Motor merayap perlahan. Tuas kopling sesekali digenggam untuk menjaga ritme mesin.

Butuh konsentrasi lebih saat melintasi rel. Terlebih ada gundukan kecil bebatuan di antara kedua rel. Setang motor pun agak bergoyang. Perlu sedikit tenaga buat mengendalikannya. Sedang fokus lewati rintangan, tetiba istri meminta saya menepikan motor. “Pinggir sebentar, Pa.”

Baca Juga  Maaf Kakak, Sudah 20 Menit!

Meski agak terkejut, tapi saya tetap manut. Setelah berada di pinggir jalan dan gigi motor sudah dinetralkan, saya tak sabar langsung bertanya. “Ada apa, Mem?”

“Sebentar ya, Pa.” Tanpa menunggu respon saya, dia langsung menengok ke arah belakang, lantas melambaikan tangan pada seorang perempuan yang sedang bersama bocah lelaki. Saya mengikuti arah yang dituju istri saya melalui pandangan di kaca spion.

Tampak seorang perempuan mengenakan hijab. Usianya masih relatif muda. Di tangan kirinya ada karung plastik berukuran cukup besar. Sedangkan tangan kanannya menuntun bocah lelaki yang saya perkirakan tak lebih dari 7 tahun.

Baik perempuan itu maupun si bocah tampak ‘bersih’. Si bocah mengenakan baju koko dan kopiah yang sama-sama sudah kusam. Kalau melihat plastik yang dibawa perempuan itu agaknya mereka pemulung. Tapi bukan gepeng (gelandangan pengemis) karena tampilannya yang terkesan ‘bersih’ itu.

Oke, apa yang selanjutnya terjadi tak perlu saya ceritakan. Sejenak kemudian starter motor saya tekan. Sontak knalpot menyalak. Roda pun berputar. Motor melaju kembali. Tapi kali ini saya tak berminat menarik tuas gas lebih dalam. Saya justru mempertahankan gigi rendah, sambil tetap mengambil jalur di sisi kiri jalan.

Baca Juga  Sandal Kiai dan Kacang (Rebus) Lupa Kulitnya

“Kenapa Mama tertarik pada mereka?” Tanya saya ingin melampiaskan penasaran. Sebab, sepanjang jalan tadi kami sempat menjumpai beberapa gepeng atau pemulung. Namun, itu tidak menarik perhatian istri saya.

Pertanyaan saya tak langsung dijawab. Sejenak terasa hening, meski mesin motor berderu berpadu derum knalpot. Hati saya mendadak merasa senyap. Sampai akhirnya istri saya bilang. “Papa tadi ga denger ya omongan anak itu ke ibunya?”

Saya diam, sengaja tak menyahut, karena menunggu penjelasan selanjutnya. “Waktu kita lewat di rel, ibu dan anak itu ada di pinggir jalan. Saat itulah mama denger ucapan anaknya. Anak itu nanya ke ibunya, “Kita mau kemana lagi, Bu?” Suaranya pelan. Tapi karena posisi mereka di sebelah kita, jadi mama dengar. Suara anak itu mengharukan, Pa. Mungkin karena dia sudah kecapean jalan,” tutur istri saya.

Mendengar itu saya termangu. Terbayang oleh saya, si ibu tentu bingung saat ingin menjawab pertanyaan buah hatinya. Sangat mungkin, si ibu juga sebenarnya sudah letih. Tapi pulang bukan jawaban bijak, lantaran pulang tanpa membawa bekal untuk sekadar mengganjal perut jelas bukan sebuah solusi.

Saya menduga. Sesungguhnya pemandangan miris nyaris serupa itu berserakan di berbagai tempat hari-hari ini, bak daun-daun kering yang berguguran ditiup angin kemarau. Pandemi, memang sudah membuat banyak saku dan dompet kering kerontang. Kalau pun masih tersisa pengharapan, sangat mungkin jumlahnya terbatas dan terancam tandas. Sedangkan pandemi belum juga menunjukkan tanda-tanda lekas berlalu.

Baca Juga  Telkomsel Serahkan Bantuan Ventilator Kepada Rumah Sakit Pertamina Dumai

Saya menjadi paham mengapa keluarga Akidi Tio tanpa sungkan sudah berkenan merogoh kocek hingga Rp 2 triliun untuk penanganan covid-19 di Sumatera Selatan. Tak diragukan lagi. Tentu Tuhan sudah menggerakkan hati keluarga pengusaha itu. Dia sudah terpilih oleh Tuhan. Itu sangat menguntungkan bagi Akidi Tio.

Sementara ada banyak pengusaha sukses, orang kaya dan pejabat makmur di negeri ini. Namun mereka belum tentu dipilih oleh Tuhan untuk membelanjakan hartanya di jalan berkah. Yang ada malah sebaliknya.

Tak sedikit para pembesar dan pejabat yang justru membebani negara. Pejabat dan wakil rakyat malah tanpa malu memaksa minta prioritas difasilitasi pelayanan kesehatan. Atau pejabat yang mengemban tugas menjadi penolong penanganan covid-19, di tengah jalan malah berubah perilaku justru bancakan menyolong duit rakyat.

Kalau realitanya banyak oknum berlomba mengambil kesempatan di tengah kesempitan seperti sekarang, relevan kiranya bila pertanyaan si bocah tadi juga ditujukan kepada anak bangsa atau lebih khusus buat para pemimpin dan pembesar. Nasib negara ini sesungguhnya hendak dibawa kemana? ()

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *