Kekuasaan dalam Dunia Fiksi

Ilwadi Perkasa

Sabtu, 22 November 2025 - 09:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilusi: https://www.dosenpendidikan.co.id/

Ilusi: https://www.dosenpendidikan.co.id/

Dalam politik modern, batas antara kenyataan dan rekayasa semakin kabur. Pemerintah tampil sibuk meluncurkan program, mengumumkan rencana besar, dan menampilkan grafik penuh warna. Semua itu menciptakan kesan seolah negara bergerak maju. Namun ketika masyarakat mencari perubahan nyata, yang ditemukan justru ruang kosong. Inilah politik simulasi, yakni politik yang dirancang untuk menciptakan keyakinan, bukan hasil.

Kekuasaan yang menawarkan fiksi gemar menyuguhkan janji yang hidup di dokumen. Rencana kerja disusun megah, dipenuhi jargon teknokratis, tetapi hanya menjadi dekorasi birokrasi. Ia tidak dimaksudkan untuk dilaksanakan, melainkan untuk menunjukkan bahwa negara “punya arah”. Di atas kertas segalanya tampak menjanjikan, namun di lapangan langkah tak pernah benar-benar dimulai.

Fiksi kian menguat ketika pemerintah meluncurkan program atau aksi yang tidak pernah naik kelas menjadi kebijakan nyata. Program diluncurkan, dipromosikan, dan dirayakan, bahkan disebut-sebut bakal mengubah keadaan, namun kemudian lenyap tanpa evaluasi. Ia menjadi tameng retoris untuk menunda tanggung jawab.

Baca Juga  Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan

Dalam dunia fiksi kekuasaan, data juga mengalami transformasi. Angka tidak lagi menjadi alat membaca kenyataan, tetapi alat untuk menuliskan versi kenyataan yang diinginkan. Grafik dipoles, indikator negatif dipinggirkan, dan istilah teknis digunakan untuk meredam kritik. Yang muncul bukan kebohongan langsung, melainkan penyutradaraan realitas dengan menggunakan teknik halus yang membuat ilusi tampak wajar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di ruang seperti itu, prosedur menggantikan tindakan. Rapat koordinasi, gladi bersih, simulasi darurat, dan penyusunan pedoman dilakukan berulang-ulang untuk menampilkan citra negara yang bekerja. Namun aktivitas administratif yang padat tidak menghasilkan perbaikan nyata. Yang bergerak hanyalah kertas, bukan kebijakan. Yang berjalan adalah narasi, bukan solusi.

Baca Juga  Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan

Kekuasaan dalam dunia fiksi juga gemar memamerkan visi jangka menengah panjang. Transformasi besar, modernisasi total, dan lompatan masa depan ditulis indah dalam dokumen perencanaan. Namun visi itu tidak pernah mendekati kemungkinan untuk diwujudkan karena tidak memiliki anggaran, kapasitas birokrasi, atau komitmen politik yang memadai. Ia hidup sebagai fantasi pembangunan, bukan arah kebijakan. Publik diarahkan melihat masa depan agar tidak terlalu memperhatikan masa kini yang stagnan.

Pada akhirnya, politik simulasi adalah seni mengelola persepsi. Ketika kebijakan gagal, hadirkan rencana baru. Ketika kritik menguat, munculkan program simulatif melalui regulasi yang tidak bisa dieksekusi maksimal. Jika tekanan meningkat, bangun ilusi keberhasilan. Publik diarahkan membicarakan potensi, bukan kinerja, bukan rencana, bukan hasil,  bukan realitas.

Baca Juga  Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan

Masalah terbesar dari kekuasaan yang hidup dalam dunia fiksi bukan sekadar harapan palsu, tetapi penundaan kenyataan. Selama ilusi cukup untuk meredam kritik, kebijakan tidak perlu bekerja. Negara tampak bergerak, tetapi sebenarnya diam. Masyarakat tampak diurus, padahal dibiarkan menggantung dalam janji yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan rakyat itu bukan janji atau rencana baru, tapi perubahan yang benar-benar terasa. Jika pemerintah hanya sibuk membuat cerita tanpa menjalankan kebijakan, maka keadaan tidak akan pernah membaik. Negara terlihat bergerak, padahal sebenarnya diam. Dan selama itu terus terjadi, rakyat yang harus menanggung akibatnya.***

Berita Terkait

Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain
Tahun Baru di Bawah Bayang Siklon: Lampung Diminta Waras di Tengah Euforia
Ekonomi Lampung dan Ilusi Stabilitas (Bagian 3in3)
Kadalistik Kebijakan dan Produksi Citra di Lampung (Bagian 2 in 3)
Penghargaan dan Anomali Fiskal Lampung (Bagian 1 in 3)

Berita Terkait

Minggu, 1 Maret 2026 - 03:54 WIB

Pasca Banjir, Bupati Pringsewu Turunkan Alat Berat Bersihkan Drainase

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:39 WIB

Bupati Hadiri Buka Puasa Bersama PWI Pringsewu

Kamis, 26 Februari 2026 - 22:18 WIB

Jaksa Tuntut Dua Terdakwa Korupsi Kegiatan Bimtek Aparatur Desa Pringsewu

Rabu, 25 Februari 2026 - 21:57 WIB

Siswa Kelas 2 SD Muhammadiyah Pringsewu Berbagi Takjil, Tanamkan Kepedulian Sejak Dini

Rabu, 25 Februari 2026 - 21:13 WIB

Safari Ramadhan Jadi Momentum Sinergi Pemprov dan Pringsewu

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:30 WIB

Pemkab Pringsewu Awali Safari Ramadan 2026 di Kecamatan Ambarawa

Senin, 23 Februari 2026 - 19:27 WIB

Polres Pringsewu Raih Penghargaan Perlindungan Anak

Sabtu, 21 Februari 2026 - 08:03 WIB

Bupati Pringsewu Paparkan Capaian Satu Tahun Kepemimpinan pada Buka Bersama Insan Pers

Berita Terbaru

Pesawaran

Berkah Ramadan, NasDem Pesawaran Bagikan 1.000 Takjil

Minggu, 1 Mar 2026 - 07:57 WIB

Lampung Barat

Mukhlis Basri, Dapat Penugasan Baru Sebagai Ketua Ranting

Minggu, 1 Mar 2026 - 07:33 WIB

Tanggamus

Sekcam Kota Agung Timur Kukuhkan 9 Anggota BHP Kampung Baru

Jumat, 27 Feb 2026 - 23:43 WIB

Pringsewu

Bupati Hadiri Buka Puasa Bersama PWI Pringsewu

Jumat, 27 Feb 2026 - 23:39 WIB