oleh

BKBH Unila: fotokopi surat dapat menjadi alat bukti di pengadilan

Bandarlampung (Netizenku.com): Sidang Praperadilan dengan terdakwa Revta Sa Fallas dengan agenda pembacaan putusan digelar di Pengadilan Negeri Kota Agung pada hari Senin, 14 Juni 2021. Sidang Praperadilan tersebut berjalan dengan lancar.

Pemohon atas nama Revta Sa Fallas melalui kuasa hukumnya dari Bidang Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) mengajukan permohonan Praperadilan ke Pengadilan Negeri Kota Agung mengenai pengujian terhadap sah atau tidaknya penetapan Tersangka dan Penahan yang dilakukan oleh Penyidik Polres Tanggamus kepada kliennya.

Baca Juga  Tuduh Aksi Bela Kalimat Tauhid Politis, Abu Janda Dipolisikan

Rinaldy Amrullah dari BKBH FH Unila, dalam siaran persnya mengatakan hakim pada putusannya menolak seluruh permohonan pemohon.

Dasar diajukannya permohonan Praperadilan dikarenakan Penyidik dianggap belum memiliki dua alat bukti yang cukup sebagaimana diwajibkan oleh Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 21 Tahun 2014.

“Terkait hal ini seperti mengingatkan kita pada saat dunia hukum dihebohkan dengan putusan Praperadilan dalam perkara Komjen Pol Budi Gunawan, dimana Hakim Sarpin mengabulkan permohonan demi menegakkan Hak Asasi Manusia sehingga bebas dari jeratan hukum,” ujar Rinaldy dalam pernyataan tertulis yang diterima Netizenku.com pada Selasa (15/6).

Baca Juga  Polres Pringsewu Nyatakan Berkas Perkara Penyalahgunaan Narkoba P21

Hari ini persoalan penegakan Hak Asasi Manusia sepertinya dipertanyakan kembali, melihat putusan praperadilan yang dibacakan oleh Hakim Murdian di PN Kota Agung, Tanggamus.

“Penetapan tersangka yang dilakukan penyidik telah dibenarkan meskipun alat bukti tidak memenuhi syarat yakni minimal dua alat bukti sebagaimana Putusan MK tentang Praperadilan, melihat penyidik hanya memiliki bukti keterangan saksi dan bukti surat berupa fotokopi sertifikat tanah tanpa surat aslinya,” ujar Rinaldy.

Beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung menjadi pedoman tidak diakuinya fotokopi tanpa aslinya sebagai alat bukti seperti salah satunya Nomor: 3609 K/Pdt/1985 “Surat bukti yang hanya berupa fotokopi dan tidak pernah ada surat aslinya, harus dikesampingkan sebagai surat bukti”.

Menjadi persoalan terbesar jika Lembaga Praperadilan yang seharusnya dapat menjadi tempat masyarakat mencari keadilan atas tindakan aparat penegak hukum.

Baca Juga  Pelaku Pembunuhan Ayah-Anak di Pesawaran, Meninggal Dunia

“Namun justru menjadi runtuh akibat putusan hakim berdasarkan kewenangannya yang luas untuk mengartikan hukum demi menutupi kesewenang-wenangan dari aparat itu sendiri,” pungkas dia. (Josua)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *