Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB

Tauriq Attala Gibran

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kenaikan tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) menuai sorotan dari kalangan akademisi. Meski jalan tol bukan faktor utama penentu pertumbuhan ekonomi, kebijakan tersebut dinilai berdampak pada biaya logistik, mobilitas barang dan orang, serta berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Lampung (Netizenku.com): Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, mengatakan kenaikan tarif mulai berdampak pada berkurangnya volume kendaraan yang melintas di jalan tol.

“Secara kasat mata volume kendaraan di jalan tol menurun. Kemungkinan besar karena banyak pengguna kembali memilih jalur non-tol setelah tarif naik. Untuk memastikan angkanya memang perlu penelitian lebih lanjut,” kata Usep, Selasa (7/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, kenaikan tarif menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha, terutama perusahaan angkutan logistik yang mengirim hasil pertanian dan perkebunan dari Lampung ke Pulau Jawa.

Baca Juga  Stok BBM Lampung Aman, Mukhlis Basri Duga Banyak Penyelewengan di Lapangan

Ia mencontohkan, jika tarif tol yang sebelumnya sekitar Rp200 ribu naik menjadi Rp250 ribu, pelaku usaha hanya memiliki dua pilihan, yakni mengurangi margin keuntungan atau membebankan kenaikan biaya kepada konsumen melalui harga jual.

“Pada akhirnya masyarakat sebagai konsumen yang akan menanggung kenaikan biaya tersebut. Kondisi ini terjadi ketika daya beli masyarakat juga sedang menghadapi berbagai tekanan,” ujarnya.

Usep menjelaskan, tekanan terhadap pelaku usaha tidak hanya berasal dari kenaikan tarif tol. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM non-subsidi, hingga antrean BBM subsidi yang menghambat operasional angkutan turut meningkatkan biaya distribusi.

Menurutnya, perusahaan angkutan kini dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Jalan tol menawarkan waktu tempuh lebih singkat dengan biaya lebih tinggi, sedangkan jalur non-tol lebih murah namun membutuhkan waktu perjalanan lebih lama.

Baca Juga  DPRD Lampung dan Disnaker Lampung Siap Tindaklanjuti Aspirasi FSPMI

“Pengusaha pasti menghitung efisiensinya. Kalau lewat tol memang lebih cepat, tetapi apakah tambahan biaya itu bisa tertutupi dengan frekuensi perjalanan yang lebih banyak, itu yang menjadi pertimbangan,” katanya.

Usep menambahkan, untuk komoditas yang mudah rusak seperti buah dan sayuran segar, penggunaan jalan tol masih menjadi pilihan karena kecepatan distribusi sangat menentukan kualitas barang. Sebaliknya, untuk komoditas yang memiliki daya simpan lebih lama, kecenderungan beralih ke jalur non-tol dinilai akan semakin besar.

Sementara itu, ekonom sekaligus pakar Pengembangan Wilayah dan Ekonomi Regional Universitas Lampung, Dr. Asrian Hendi Caya, menilai jalan tol pada dasarnya merupakan salah satu instrumen infrastruktur sehingga tidak secara langsung menentukan kondisi perekonomian daerah.

Meski demikian, ia mengatakan kenaikan tarif yang terus terjadi membuat biaya penggunaan jalan tol semakin mahal dan mendorong masyarakat maupun pelaku usaha kembali menggunakan jalur arteri.

Baca Juga  Jihan Nurlela Dorong PERSI Perkuat Sinergi dan Tingkatkan Mutu Pelayanan Rumah Sakit

“Ketika tarif terus naik, banyak pengguna, terutama angkutan barang dan angkutan umum, memilih kembali ke jalan non-tol karena pertimbangan biaya. Akibatnya, fungsi jalan tol untuk mempercepat mobilitas orang dan barang menjadi tidak maksimal,” ujarnya.

Asrian menegaskan pembangunan infrastruktur seharusnya lebih berorientasi pada manfaat ekonomi bagi masyarakat, bukan semata-mata mengejar keuntungan finansial.

Menurutnya, tarif jalan tol bersifat elastis. Kenaikan tarif, meski relatif kecil, dapat memicu penurunan penggunaan jalan tol secara signifikan karena masyarakat akan mencari alternatif yang lebih murah.

“Kalau tarif semakin tinggi, pengguna akan menghitung ulang biaya perjalanan. Akhirnya banyak yang memilih jalan non-tol meski waktu tempuh lebih lama. Kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi agar tujuan pembangunan infrastruktur tetap tercapai,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Andika Wibawa Ajak Masyarakat Amalkan Nilai Pancasila untuk Jaga Persatuan
Komisi II DPRD Lampung Dorong Perluasan Akses Jagung Murah bagi Peternak
Insiden Forklift Tewaskan Pekerja, Fraksi PKB DPRD Lampung Minta Pengawasan Ditingkatkan
Winarti Minta Komang Koheri Prioritaskan Pertanian dan Infrastruktur Lampung Tengah
Lantik Komang Koheri, Mirzani Tekankan Sinergi Pembangunan dan Integritas
Lampung Perkuat Infrastruktur dan Layanan untuk Perluas Pasar Ekspor
Komang Koheri Resmi Dilantik, Siapkan Agenda Pembangunan Lampung Tengah
Mikdar Ilyas Dorong Penguatan Distribusi Pupuk untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Kapolres Tanggamus Atur Lalu Lintas di Kota Agung, Soroti Lampu Merah Mati Tiga Bulan

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Bupati Tanggamus Pastikan Relokasi Pasar Talang Padang Berlanjut, Pedagang Digratiskan Sewa Selama 12 Bulan

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:55 WIB

Delapan Siswa SMPN 1 Talangpadang Alami Keluhan, Sampel Makanan Diuji Laboratorium

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:52 WIB

Tanggamus Jajaki Beasiswa dan Investasi dengan Turki

Senin, 20 Juli 2026 - 20:35 WIB

RSUD Batin Mangunang Akui Minim Sosialisasi SOP Pelayanan

Kamis, 16 Juli 2026 - 18:32 WIB

DPRD Tanggamus Setujui LKPj Bupati 2025, Rekomendasikan Perbaikan Kinerja Pemerintahan

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:37 WIB

Sekda Tanggamus Minta Pekon Prioritaskan Layanan Kesehatan Primer

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:59 WIB

PBI BPJS Kesehatan Dinonaktifkan, Dinsos Tanggamus Sarankan Warga Beralih Sementara ke Peserta Mandiri

Berita Terbaru