Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung M. Syukron Mukhtar mendesak Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pendidikan untuk meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah menyusul sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Lampung (Netizenku.com): Syukron menegaskan keselamatan dan kesehatan siswa, guru, serta seluruh civitas akademika harus menjadi prioritas utama di tengah kondisi sebaran abu vulkanik yang berdampak terhadap sejumlah wilayah di Lampung.
“Kesehatan siswa dan civitas sekolah, guru, karyawan, petugas sekolah, dan sebagainya itu lebih utama daripada proses pembelajaran,” ujar Syukron, Minggu (6/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Lampung itu mengatakan terdapat sejumlah pertimbangan yang mendasari perlunya penghentian sementara pembelajaran tatap muka. Selain potensi aktivitas erupsi susulan yang sulit diprediksi, kondisi lingkungan sekolah yang terdampak abu vulkanik juga dinilai belum sepenuhnya kondusif.
Menurutnya, pembersihan abu vulkanik di lingkungan sekolah juga tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Abu yang menempel tidak dianjurkan langsung disapu dalam kondisi kering karena partikel halusnya berisiko terhirup dan mengganggu kesehatan pernapasan.
“Abu vulkanik ini cukup berbahaya, bisa menyerang pernapasan. Sekolah juga masih kotor dan belum kondusif, karena pembersihan debu ini tidak bisa langsung disapu, harus disiram dulu dengan air menurut para ahli,” katanya.
Untuk memastikan hak belajar siswa tetap terpenuhi, Syukron menyarankan sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring apabila fasilitas dan infrastruktur pendukung tersedia, baik di sekolah maupun di rumah siswa.
Namun, apabila pembelajaran daring belum memungkinkan, ia menilai peliburan sementara dapat menjadi pilihan untuk mengutamakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
“Jika memang siap melaksanakan daring, silakan daring. Tapi jika tidak siap, diliburkan untuk sementara tidak mengapa. Merujuk pada kaidah fiqih bahwa menghindari bahaya harus didahulukan daripada mengambil manfaat,” ujarnya.
Syukron meminta peliburan sekolah, apabila diterapkan, tetap disertai pengawasan dari orang tua. Menurutnya, siswa sebaiknya tetap berada di rumah dan tidak melakukan aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih terdampak abu vulkanik.
“Dengan catatan orang tua juga memantau perkembangan anak-anak, jangan sampai libur tapi anak-anak malah bermain di luar rumah,” katanya.
Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda antara Pulau Sumatra dan Jawa merupakan salah satu gunung api aktif yang terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam beberapa waktu terakhir memicu lontaran abu vulkanik. Material abu kemudian terbawa angin hingga mencapai sejumlah wilayah daratan di Lampung.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas udara dan dampaknya terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak usia sekolah. (*)







