Lampung Harus Melakukan Ini Agar Kenaikan NTP Bulanan Benar-Benar Bermakna

Ilwadi Perkasa

Rabu, 3 Desember 2025 - 14:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NTP Provinsi Lampung melejit ke angka 129,33 pada November 2025, naik 1,25 persen dibanding bulan sebelumnya. Bagi sebagian besar petani, ini bukan sekadar angka, ini pertanda perbaikan daya tukar antara hasil panen dan biaya hidup serta produksi. Harga yang diterima petani (It) naik 1,28 persen, sedangkan biaya hidup dan produksi (Ib) nyaris datar, hanya naik 0,02 persen. Dengan demikian, petani Lampung memperoleh ruang daya beli dan margin usaha yang lebih sehat. Namun, angka statistik juga menunjukkan ada yang tak merata. Masih ada ketimpangan kenaikan per subsektor yang harus dibenahi.

Subsektor hortikultura menyumbang lonjakan paling dramatis. NTP naik 7,10 persen, terutama karena lonjakan harga sayuran seperti wortel dan cabai yang meroket lebih dari 11 persen sebulan. Perkebunan rakyat, seperti kopi, juga mencatat kenaikan, didorong pasokan yang menipis akibat musim panen yang belum tiba. Namun sektor budidaya perikanan, terutama udang payau justru terpuruk, NTP turun 1,88 persen. Harga murah di musim panen dengan pasokan melimpah menjadi paradoks. Produksi tinggi, pendapatan rendah. Sementara itu, sektor peternakan dan tanaman pangan hanya mencatat kenaikan moderat, menandakan bahwa peningkatan umum pada NTP tidak otomatis berarti seluruh petani merasakan “kehidupan lebih baik.”

Baca Juga  Gubernur Lampung Tinjau Vokasi GERCEP di Desa Marang

Kenaikan konsumsi rumah tangga (IKRT +0,15 persen) menunjukkan bahwa sedikit demi sedikit, petani mulai mengakses layanan dan barang konsumsi, seperti kesehatan, perawatan pribadi, makanan. Ini menunjukan daya beli bergerak. Namun konsumsi yang naik tanpa jaminan pendapatan stabil bisa dengan cepat berubah menjadi tekanan biaya hidup.

Keadaan ini mestinya menjadi alarm dan peluang sekaligus. Alarm karena ketimpangan antar subsektor bisa memantik ketidaksetaraan. Petani hortikultura dan kopi hari ini tersenyum, tetapi pembudi daya udang bisa merana. Peluang, karena momentum kenaikan NTP ini memberi legitimasi bagi kebijakan propetani dengan beragam stimulus seperti pemberian subsidi input pertanian, penguatan rantai distribusi, dan intervensi pasar untuk stabilisasi harga komoditas musiman.

Baca Juga  Lampung Punya Potensi PLTS Ratusan MW, Tapi Kapan Dibangun?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika pemerintah lokal dan pusat mengabaikan disparitas ini, maka NTP tinggi cuma akan menjadi angka cantik dalam laporan bulanan, bukan fondasi kesejahteraan jangka panjang.

Sebaliknya, jika kebijakan diarahkan pada hilirisasi (pengolahan hasil panen lokal), proteksi harga saat panen besar, dan dukungan modal/teknologi untuk subsektor lemah (seperti perikanan budidaya), maka Lampung bisa menciptakan basis ekonomi pedesaan yang tidak mudah goyah oleh siklus musim atau fluktuasi harga global.

Baca Juga  DPRD Lampung Dorong Solusi Kemacetan Merak–Bakauheni 

NTP 129,33 seharusnya menjadi momentum, bukan sekadar perayaan, melainkan kesempatan untuk mendorong reformasi agraria dan kebijakan yang menyentuh akar persoalan (biaya produksi, rantai distribusi, akses modal, dan stabilitas harga). Bila dikelola dengan bijak, angka ini bisa menjadi pijakan ke arah desa yang produktif, petani yang sejahtera, dan ekonomi daerah yang resilient.

Karena pada akhirnya, kemakmuran petani bukan ditentukan oleh satu bulan yang bagus, melainkan oleh keberlanjutan pendapatan, akses ke pasar adil, dan perlindungan terhadap gejolak harga. Lampung sudah mendapatkan angin segar. Terserah kita, apakah angin itu akan membuahkan panen kemakmuran, atau sekadar jadi embusan angin sementara.

Berita Terkait

PKB Lampung Resmi Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2026–2031
Hilirisasi Ayam Jadi Mesin Baru Perputaran Ekonomi Lampung
Pemprov Lampung Bersama Pemkot Gelar Aksi Kebersihan di Pulau Pasaran
Bidik Kemenangan Pemilu 2029, Chusnunia Chalim Siap Melantik 100 Lebih Pengurus PKB Lampung
Meski Damai, Fraksi PDI Perjuangan Tetap Dukung Proses Etik Andi Robi di BK DPRD Lampung
IJP FC Resmi Diluncurkan, Sekdaprov Lampung Siap Turun ke Lapangan
Pemprov Lampung Dorong BRT ITERA Jadi Proyek Percontohan Transportasi Publik
DPRD Lampung Dorong Hilirisasi Sawit dan Kopi untuk Tingkatkan Nilai Tambah Ekspor
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 8 Februari 2026 - 14:06 WIB

PKB Lampung Resmi Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2026–2031

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:13 WIB

Hilirisasi Ayam Jadi Mesin Baru Perputaran Ekonomi Lampung

Jumat, 6 Februari 2026 - 14:50 WIB

Pemprov Lampung Bersama Pemkot Gelar Aksi Kebersihan di Pulau Pasaran

Kamis, 5 Februari 2026 - 12:28 WIB

Bidik Kemenangan Pemilu 2029, Chusnunia Chalim Siap Melantik 100 Lebih Pengurus PKB Lampung

Kamis, 5 Februari 2026 - 12:26 WIB

Meski Damai, Fraksi PDI Perjuangan Tetap Dukung Proses Etik Andi Robi di BK DPRD Lampung

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:10 WIB

Pemprov Lampung Dorong BRT ITERA Jadi Proyek Percontohan Transportasi Publik

Rabu, 4 Februari 2026 - 12:33 WIB

DPRD Lampung Dorong Hilirisasi Sawit dan Kopi untuk Tingkatkan Nilai Tambah Ekspor

Selasa, 3 Februari 2026 - 18:21 WIB

Pemprov Lampung Putuskan Bangun Ulang Jembatan Way Bungur

Berita Terbaru

Lampung

PKB Lampung Resmi Kukuhkan Pengurus Baru Periode 2026–2031

Minggu, 8 Feb 2026 - 14:06 WIB

Lampung

Hilirisasi Ayam Jadi Mesin Baru Perputaran Ekonomi Lampung

Jumat, 6 Feb 2026 - 19:13 WIB