Lampung terpuruk di sektor perhotelan. TPK hotel berbintang Juli 2025 hanya 47%, jauh di bawah rata-rata nasional 52,79%. Hotel bintang tinggi nyaris kehilangan tamu. sebab wisatawan domestik lebih memilih hotel menengah karena harga lebih terjangkau.
Mendasari pada data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan terjadi fluktuasi tajam sepanjang tahun 2025 yang menegaskan provinsi ini masih belum mampu memaksimalkan potensi wisatanya. Keadaan ini dapat mengancam peluang ekonomi lokal yang seharusnya besar.
Data bulanan Januari–Juli 2025 memperlihatkan TPK yang bergejolak ekstrim. Okupansi anjlok dari 40,97% di Januari menjadi 27,10% pada Maret, lalu sempat pulih di Juni.
Keadaan ini sedikit tertolong dengan adanya kenaikan TPK hotel berbintang 3 dari dari 43,82% pada Juni menjadi 48,55% pada Juli. Namun hotel bintang 1–2 dan 4–5 terus menurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pola ini menunjukkan wisatawan domestik lebih memilih hotel menengah karena harga terjangkau, sebuah sinyal keras bahwa hotel premium gagal menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang fluktuatif.
Analisis terhadap pola ini menggambarkan bahwa Lampung menghadapi kelemahan serius oleh sebab promosi wisata yang terbatas. Hasil analisis lain juga menunjukan kualitas hotel premium yang kurang kompetitif membuat provinsi ini tertinggal dibandingkan nasional.
Perhotelan Lampung masih sangat menggantungkan okupansinya pada musim liburan dan event tertentu sehingga menyebabkan TPK tidak pernah stabil. Strategi harga dan segmentasi pasar yang lemah membuat hotel bintang tinggi kalah bersaing, sementara wisatawan memilih opsi yang lebih murah.
Namun, masih ada kekuatan yang bisa dimanfaatkan, yakni stabilitas hotel menengah yang cukup tahan banting di tengah tekanan ekonomi. Peningkatan TPK hotel berbintang 3 dapat dijadikan model untuk memperluas pangsa pasar. Kekuatan ini bisa dimaksimalkan sejalan dengan peningkatan event dan atraksi wisata yang lebih masif.
Langkah perbaikan harus dilakukan cepat. Hotel premium perlu meningkatkan kualitas layanan agar bisa bersaing dan menarik tamu. Promosi wisata harus digencarkan melalui kolaborasi pemerintah dan pelaku industri untuk menonjolkan keunikan Lampung.
Diversifikasi event dan atraksi, mulai dari festival budaya hingga konferensi dan atraksi unik, wajib dijalankan agar okupansi tidak lagi tergantung pada musim puncak.
Jika Lampung gagal bertindak sekarang, provinsi ini akan terus menjadi “pemain kelas menengah” di sektor perhotelan, kehilangan peluang ekonomi, dan gagal memaksimalkan potensi wisatanya.
Waktu hampir habis, hanya menyisakan beberapa bulan lagi di tahun ini. Lampung harus membuktikan bahwa sektor perhotelannya bisa lebih dari sekadar angka di laporan statistik.***








