Bandarlampung (Netizenku.com): Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) Berdaulat, gelar aksi massa atas kekecewaan dalam pelaksanaan Pemilihan Raya (Pemira) Unila, Minggu (18/12).
Aksi protes ini terjadi, sebab dugaan yang muncul atas intervensi dari oknum birokrat kampus serta dugaan pemalsuan tanda tangan dalam Surat Keputusan (SK) Panitia Khusus (Pansus).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagaimana yang dikatakan Ketua Pansus dalam klarifikasinya bahwa tanda tangan Sekretaris yang tertuang adalah tanda tangan palsu, yang kemudian diperkuat dengannya pernyataan Sekertaris panitia pemira yang mengaku tidak menandatangani SK tersebut.
Sehingga atas pernyataan itu, semakin menggiring opini bahwa Panitia selaku penyelenggara pemira tidak profesional dalam segi administrasi dan pengambilan keputusan.
Adapun tuntutan yang disampaikan adalah menuntut Panitia pemira untuk menerima berkas dengan inisial UDA-DJ
bakal capres-cawapres
Kemudian, mengultimatum Panitia pemiria selidiki dalang di balik pemalsuan tanda tangan SK Panitia Pemira dan di publish melalui laman instagram Panitia pemira dengan waktu lambat pada hari Senin, 19 Desember 2022 pada pukul 09.00 WIB.
Sementara itu, atas tuntutan yang diajukan Panitia pemira akhirnya menyepakati poin-poin tuntutan dengan menerima berkas bakal capres-cawapres inisial UDA-DJ dengan syarat berkas tersebut telah lengkap.
Lebih lanjut, Panitia pemira juga menyetujui proses penyelidikan dari oknum pemalsuan tanda tangan serta akan diunggah melalui press release.
“Sangat disayangkan dalam hal kampus sebagai miniatur negara, terjadi perilaku-perilaku yang tidak melambangkan jati diri dari mahasiswa,” celetuk Alfin selaku salah satu mahasiswa Unila yang terlibat dalam aksi massa tersebut. Dea








