oleh

Suprapto Suryodarmo, Penggagas Sharing Time Megalitic Millennium Art Tubaba Wafat

Tulangbawang Barat (Netizenku.com): Suprapto Suryodarmo (74) penggagas Sharing Time Megalitic Millennium Art Tubaba wafat pada Minggu (29/12) sekitar pukul 02.00 dini hari di rumah sakit dr Oen Solo.

Gagasan tersebut berawal pada April 2019 lalu, Mbah Prapto mengunjungi Tubaba, bersama murid-muridnya dari Spanyol dan Hongaria dan kemudian mengajak murid-murid Sekolah Seni Tubaba untuk latihan joget Amerta di Ulluan Nughik (Rumah Baduy), sempat pula membuat showcase di Berugo Cottage bersama Alexander Gebe dan Edhitiya Rio.

Dalam kunjungan itu pula terjadi percakapan dengan Bupati Tubaba, Umar Ahmad untuk membuat satu event yang merefleksikan persoalan manusia, lingkungan dan masa depan sebuah kota. Kemudian event itu diberi nama “Sharing Time: Megalitic Millennium Art”.

\”Kabar duka ini sangat memukul kami, bagaimana tidak pada malam harinya kami masih berbincang soal perhelatan budaya lewat pesan Whatsapp. Pesan dengan substansi yang sama  disampaikan pula kepada Bupati Tubaba, Umar Ahmad. Dan ternyata merupakan pesan terakhirnya.\” terang Semi Ikra Anggara Direktur Sharing Time: Megalitic Millennium Art Tubaba, kepada netizenku.com, Minggu (29/12) pukul 15.23 Wib.

Terkait rencana kegiatan sharing time: Megalitic Millennium Art Tubaba, kata Semi, gelaran bertaraf internasional ini, rencananya akan dihelat pada tanggal 22-26 Januari 2020 di sejumlah venue: Kota Ulluan Nughik, Berugo Cottage dan Las Sengok.

Baca Juga  Umar Ahmad Terima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat

Sebelum gelaran tersebut penggagas acara ini Suprapto Suryodarmo akan memberikan workshop joget amerta kepada warga Tubaba dan murid-muridnya yang berasal dari Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Kanada, Jepang dan sejumlah seniman yang akan hadir dari sekiataran Lampung, workshop khusus tersebut sedianya digelar pada tanggal 10-20 Januari 2020.

\”Event akan dibagi ke dalam tiga kategori, sarsehan, workshop dan pertunjukan. Diharapkan dari ketiga kategori acara tersebut setiap penyaji dan audiens bisa saling berbagi dan saling menginspirasi. Direncanakan remaja Tubaba juga akan menjadi pembicara dalam salah satu sarasehan, kita akan mendengarkan bagaimana kota yang ideal di masa depan menurut pendapat kaum millenial,\” terangnya.

Hingga saat ini, sejumlah penyaji yang dipastikan akan hadir dalam event tersebut yakni Keith Miller (Inggris), Andy Burnham (Inggris),Diane Butler (Amerika Serikat), Ari Rudenko (Amerika Serikat), Peter Chin (Kanada), Riyanto (Jepang), Katsura Kan (Jepang), Margit Galanter (Amerika Serikat), Frances Rosario (Amerika Serikat), Mara Poliak (Amerika Serikat), Betina Mainz, Rudolfo Mertig dan Sbastian Mainz Mertig (Jerman) dan  Anna Thu Schmidt (Jerman).

Baca Juga  Tubaba Akan Tetapkan Aturan Pedoman Disiplin Protokol Kesehatan

Sedangkan dari Indonesia akan hadir Tisna Sanjaya (Bandung), Arif Yudi (Majalengka), Halilintar Latief (Makassar), Rizaldi Siagian (Jakarta), Transpiosa Riomandha (Yogyakarta), Daniel Oscar Baskoro (New York/ Yogyakarta), Alexander Gebe (Lampung), Dantori (Lampung), Dian Anggraini (Lampung), Agus Sangisu (Lampung) dan Edhitia Rio ( Lampung).

\”Pejabat negara yang rencananya hadir adalah Hilmar Farid (Dirjen Kemendikbud Republik Indonesia), sementara Duta Besar Denmark, Rasmus Kristensen, diundang untuk berbagi tentang keberhasilan Denmark dalam mengembangkan teknologi Terbarukan,\” ujarnya.

Menurut Semi, Suprapto Suryodarmo adalah maestro seni pertunjukan Indonesia yang dikenal secara luas, meskipun publik tidak melihatnya sebagai penari atau koreografer dalam pengertian konvensial. Tapi gerakan kebudayaan “Joget Amerta” menginspirasi banyak orang dari lintas profesi: penari, perupa, dramawan, arkeolog hingga ahli matematika. Joget Amerta adalah gerak improvisasi bebas yang mengikuti alam bawah sadar, setiap subjek merasuk ke dalam interior dirinya tapi juga sekaligus membuat komunikasi harmonis dengan alam sekitarnya.

\”Secara esensi Joget Amerta adalah menyelaraskan tubuh, mnyeimbangkan hubungan dengan manusia, alam dan Tuhan. Sepintas gerakan-gerakan dalam Joget Amerta seperti gerak mimesis keseharian, demikian sederhana tanpa tendensi,\” kata dia.

Jejaring internasional Mbah Prapto bermula pada festival Pantomim di Jerman pada tahun 1982, bersama maestro Sardono W Kusumo beliau menampilkan satu pementasan. Pada forum ini pula bertemu dengan para pelaku seni gerak bebas dari seluruh dunia, sejak itu dia aktif memberikan workshop di berbagai belahan dunia, dari Australia, Asia, Eropa hingga Amerika.

Baca Juga  Unila Harap Tubaba Perbesar Beasiswa Pendidikan

Pada tahun 1986 beliau mendirikan Padepokan Lemah Putih, sebuah ruang publik bagi pertemuan seniman atau siapa saja pada seni gerak improvisasi dan khususnya Joget Amerta.  Program bernama “Srawung Seni Candi” salah satunya digelar di Candi Sukuh, mempertemukan berbagai seniman dan lintas profesi dari seluruh dunia untuk saling berbagi metode latihan dan pementasan.

Umar Ahmad mengucapkan turut bela sungkawa yang mendalam atas kepergian mbah Suprapto Suryodarmo tersebut.

\”Beliau merupakan tokoh budayawan nasional yang patut di jadikan cerminan bagi setiap seniman yang ada di Indonesia,\” kata bupati.

Selain merasa kehilangan sosok inspiratif, Umar juga berharap mudah-mudahan hanya raganya mbah prapto saja yang terpisah dari kita semua, sedangkan untuk ide-ide pikiran nya akan tetap ada untuk kita lanjutkan.

\”Kami berharap ke depan muncul generasi baru yang melanjutkan tradisi karya beliau sekaligus memperkaya karya itu,\” tuturnya.(Arie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *