oleh

Sampoerna Agro Berhasil Bukukan EBITDA Rp1,1 Triliun

Jakarta (Netizenku.com): PT Sampoerna Agro Tbk (Perseroan) merupakan salah satu emiten yang melakukan paparan publik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Public Expose Live 2022 yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia.

Harga pasar minyak sawit (CPO) tetap menguat dengan harga rata-rata RM6.453/ton pada triwulan kedua 2022 (2Q22) dibandingkan dengan triwulan pertama 2022 sebesar RM6.166 per ton.

Ketegangan geopolitik di Ukraina yang masih berlanjut, kekurangan tenaga kerja di Malaysia, kenaikan harga minyak mentah, serta perubahan kebijakan regulasi di negara-negara produsen dan pengekspor membuat harga minyak nabati tetap kokoh di 2Q22.

Hal tersebut menyembabkan harga CPO melonjak sebesar 55% yoy menjadi RM6.309/ton selama paruh pertama tahun 2022 (“1H22”).

“Menguatnya harga CPO yang mencapai harga tertinggi sepanjang masa pada periode 1Q22 dan dampak dari pulihnya produksi TBS di 2Q22 dimana kondisi cuaca yang menguntungkan telah membuat perusahaan mempertahankan profitabilitasnya yang solid di paruh pertama tahun ini (1H22). Dengan demikian, Perseroan berhasil membukukan EBITDA yang kokoh sebesar Rp1,1 triliun di 1H22,” kata Budi Halim, CEO Perseroan.

Baca Juga  Pemkot Bandarlampung Diminta Kampanyekan Produk UMKM

Berkat menguatnya harga CPO di awal tahun 2022, harga jual rata-rata (ASP) Sampoerna Agro mencapai sekitar Rp14.800/kg pada 1H22, meningkat 48% yoy dibandingkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya (1H21).

Pada inti sawit (PK), yang merupakan produk penyumbang penjualan terbesar kedua, harga jual rata-ratanya sekitar Rp10.800/kg pada 1H22, meningkat 63% yoy dibandingkan dengan 1H21.

Perseroan membukukan total penjualan Rp2,6 triliun pada 1H22, atau sedikit menurun 2% yoy dari 1H21. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari CPO, penyumbang pendapatan terbesar.

Pendapatan dari CPO turun 6% yoy akibat volume penjualan CPO yang lebih rendah. Di sisi lain, PK mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 32% yoy, ditopang oleh penguatan harga rata-rata PK.

Penyumbang penjualan terbesar ketiga adalah kecambah perseroan dengan merk dagang DxP Sriwijaya yang berhasil menduduki pangsa pasar di posisi kedua terbesar di Indonesia. Penjualan dari DxP Sriwijaya pada 1H22 adalah sebesar Rp84 miliar, atau sekitar 3% dari total penjualan konsolidasian.

Baca Juga  KAI Divre IV Tanjungkarang Gelar Pengobatan Gratis di Stasiun Tarahan

Penjualan dari DxP Sriwijaya tahun ini semakin cemerlang dari tahun sebelumnya karena mengalami kenaikan 15% yoy jika dibandingkan 1H21. Hal ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan sebesar 17% yoy menjadi 10 juta butir kecambah.

Kondisi cuaca yang mendukung telah meningkatkan kegiatan panen kami pada kuartal kedua tahun 2022, sehinga menghasilkan produksi Tandan Buah Segar (TBS) yang lebih baik. Total produksi TBS, termasuk pembelian dari pihak eksternal pada 2Q22 mencapai 462 ribu ton, meningkat 42% qoq dibandingkan 1Q22, tetapi lebih rendah 2% yoy dibandingkan tahun sebelumnya (2Q21).

Akan tetapi, dampak dari kondisi cuaca yang kurang mendukung di 1Q22 menyebabkan total produksi TBS turun sebesar 19% yoy menjadi 787 ribu ton di 1H22.

Baca Juga  Pertamina Sukses Uji Coba Penyaluran Minyak Pertama Proyek Pipa Rokan

Perseroan berupaya untuk meningkatkan daya saing secara berkesinambungan yang dijalankan oleh manajemen seperti peningkatan kualitas posisi keuangan dan kinerja operasional. Di samping itu, kami juga terus berkomitmen dalam menerapkan ESG dan tata kelola perkebunan yang terbaik.

Prospek bisnis Perseroan ke depannya cukup baik, didukung oleh profil tanaman sawit yang masih berada dalam masa produktif dan ditopang oleh kegiatan intensifikasi kebun yang akan terus berjalan dalam beberapa tahun kedepan. Selain itu, adanya peningkatan produksi dari kebun inti serta proporsi panen yang semakin merata turut menambahkan optimisme manajemen dalam melihat kinerja yang baik bagi Sampoerna Agro.

“Didukung oleh kondisi cuaca yang baik, profil perkebunan serta kesinambungan perusahaan dalam mengoptimalkan produksi melalui intensifikasi, kami berharap produksi kelapa sawit dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang dan mencapai puncak produksinya sekitar bulan September atau Oktober 2022,” tutup Budi. (Leni)