BERBAGI

Pesawaran (Netizen.com): Nasib miris di alami Harni (44) seorang pedagang warung makanan warga Dusun 5 Desa Suka Raja Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran.  Dirinya merasa kecewa atas perlakukan Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (DPK PKPI) Kabupaten Pesawaran, Mardian Shah ST lantaran sudah satu tahun ini belum membayar hutang makan minum diwarungnya tersebut sebesar Rp1 juta.

Menurut Harni, terjadinya hutang sebesar Rp1 juta tersebut ketika para kader partai ini memesan makan, minum dan snek di warung milik nya saat setiap digelarnya rapat dikantor DPC PKPI Pesawaran di Desa Sukaraja Gedongtataan, yang kebetulan warung miliknya ini berdampingan tidak jauh dari kantor DPC PKPI Pesawaran.

“Hutang ini sudah lama kurang lebih sudah satu tahun ini sebelum suami saya meninggal. Uang sebesar satu juta ini saat mereka, mesan makan, ngambil rokok, kopi,  teh dan snack yang diambil pada saat setiap rapat digelar, atas tanggung jawab Ketua DPK PKPI Kabupaten Pesawaran, Mardian Shah ST,” kata dia.

Jadi, setiap mereka ngambil apa saja diwarungnya itu tidak pernah dibayar lunas paling cuma diberi uang Rp200 ribu Oleh Mardian sebagai uang cicilan.

Diutarakan wanita setengah baya ini, uang sebesar Rp1 juta tersebut menurutnya sangat berarti baginya untuk mencukipi kebutuhan warung dan hidup nya sehari-hari yang saat ini dirinya telah menjanda sejak ditinggal suaminya tiga bulan terakhir ini.

“Dulu pernah saya tagih langsung ke Pak Mardian Shah nya, pak gimana hutangnya, tapi ga juga dibayar hanya memberikan janji, katanya sorenya dia akan balik lagi untuk melunasi semuanya sambil memesan rokok dan makanan, tapi yang terjadi dia tak kunjung datang untuk menyelesaikan hutangnya itu,” keluhnya.

Tak putus asa sampai disitu Harni kembali mencoba menagih hutang itu via ponselnya0 saat suaminya sedang sakit dan di rawat di RS Adven. “Tapi ya iitu, yang tadinya ditelpon diangkat sampai sekarang saya telpon, sms juga ga di bales, padahal saat itu saya lagi butuh sekali uang itu, untuk biaya berobat suami saya yang sedang sakit yang akhirnya hingga meninggal dunia pun hutang itu tak juga kunjung dibayar juga,” lirihnya.

Dengan berlinang air mata Harni kembali menceritakan tentang kehidupan semenjak ditinggal pergi suaminya dengan 3 orang anak ini harus berjuang ektra untuk berjuang mencukupi kehidupannya bersama ke 3 orang anaknya ini.

“Katanya partai itu memperjuangkan nasib masyarakat kecil tapi kok ini yang terjadi sebaliknya, malah mengsengsarakan rakyat seperti saya ini pedagang kecil. Saya sih berharap mudah-mudahan mereka ini terketuk hatinya dan segera menulani hutang yang menurut saya sangat besar dan berarti,” harap Harni sambil mengusap air matanya.

Sementara itu saat wartawan ini mencoba mendatangi Kantor DPC PKPI Pesawaran di Desa Suka Raja Gedongtataan untuk mengklarifikasi, nampak terlihat kantor tersebut dalam keadaan terkunci dan tidak ada satu pun kader partai yang terlihat.

Ketua DPK PKPI Kabupaten Pesawaran Mardian Shah ST melalui ponselnya membantah, bahwa hutang tersebut mencapai hingga Rp1 juta. Menurutnya, hitungannya hanya tinggal Rp300 ribu. “Sepengetahuan saya hutang tersebut sudah dibayar sekitar Rp600 ribu tingal 300 ribu lagi, karena posisinya Pak Eko selaku sekretaris bersama tim nya sering ngambil rokok, ngambil makan itu masuk bon saya, saya juga kaget kok bisa sampek sebesar itu. Artinya terkait hutang ini bukan ga dibayar tapi belum ada dananya. Karena kalo hitungan saya kurangnya hanya Rp300 ribu tapi sudah lah tidak ada maslah, sekarang sudah saya stop kalau ada yang ngambil jangan dikasih lagi, kecuali ada acara partai dan saya ada disitu ga masalah,” jelasnya.

“Emang bener kita ketua tapi kan bukan ketua yang mencetak duit jadi pasti akan kita selesaikan masalah ini soalnya kita tahu kan keadaan teh harni seperti apa,” janji Mardian. (Soheh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here