Analisis Ekonomi oleh Ilwadi Perkasa
Lampung tampak semakin percaya diri di hadapan investor nasional dan global. Melalui Lampung Economic and Investment Forum (LEIF) 2025 yang digelar di Jakarta pada 4 November, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal memaparkan ambisi besar menjadikan provinsi di ujung selatan Sumatera itu sebagai pusat hilirisasi lima komoditas unggulan: kelapa, kopi, lada, ubi kayu, dan udang.
Dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp483,8 triliun pada 2024 tertinggi keempat di Sumatera, Lampung dinilai punya modal kuat untuk melangkah ke arah industrialisasi daerah. “Kami ingin memperkuat nilai tambah dari dalam. Lampung tidak boleh berhenti di bahan mentah,” ujar Gubernur Rahmat di hadapan puluhan investor dari berbagai negara.
Forum ini juga menampilkan sebelas proyek investasi unggulan, mulai dari Bakauheni Harbour City, Way Kanan Industrial Park, hingga Floating Solar Power Plant dan Gunung Tiga Geothermal Power Plant. Dukungan datang dari Bank Indonesia, BKPM, serta sektor swasta yang menandatangani Letter of Intent pengembangan energi baru terbarukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun di tengah optimisme investasi itu, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan sisi lain dinamika ekonomi Lampung. Sektor pariwisata dan akomodasi masih berjalan tertatih.
Naik, Tapi Belum Pulih
Laporan BPS Lampung menunjukkan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2025 tercatat 43,37 persen, naik tipis 2,56 poin dibanding Agustus (40,81 persen). Kenaikan ini menandai perbaikan bulanan, tetapi masih lebih rendah 5,90 poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah tamu hotel berbintang mencapai 89.236 orang pada September, dengan durasi rata-rata menginap hanya 1,33 hari. Dari angka itu, 99 persen lebih merupakan wisatawan domestik. Hotel berbintang empat dan lima masih mencatat tingkat hunian tertinggi (sekitar 49 persen), sementara hotel nonbintang tertinggal jauh di kisaran 22 persen.
Angka-angka ini memberi sinyal bahwa pergerakan wisatawan memang mulai membaik, tetapi belum kembali ke tingkat “sehat” bagi industri perhotelan.
Ekonomi Bergerak, Wisata Belum Menyala
Kenaikan TPK yang terbatas menunjukkan bahwa geliat ekonomi belum sepenuhnya menetes ke sektor jasa wisata dan akomodasi. Padahal, dalam strategi hilirisasi yang dicanangkan Gubernur Rahmat, pariwisata seharusnya menjadi penopang ekonomi kreatif dan penarik arus modal baru.
Masalahnya bukan semata jumlah pengunjung, melainkan durasi singgah dan belanja wisatawan yang masih rendah. Rata-rata lama menginap 1,3 hari menunjukkan mayoritas wisatawan hanya transit, bukan berlibur panjang. Sementara itu, porsi wisatawan mancanegara yang minim membuat devisa pariwisata belum berperan signifikan dalam struktur PDRB Lampung.
Kondisi ini kontras dengan geliat investasi industri. Lampung tengah menata kawasan industri energi bersih, mengembangkan pelabuhan logistik, dan memperluas jaringan jalan tol. Semua itu memberi sinyal bahwa infrastruktur ekonomi tumbuh lebih cepat dibanding infrastruktur pariwisata.
Tantangan dan Peluang Baru
Ada peluang besar jika kedua arus ini, investasi dan pariwisat, bisa disatukan dalam strategi pembangunan terpadu. Hilirisasi komoditas bisa melahirkan wisata industri, energi baru terbarukan bisa diolah menjadi wisata edukasi hijau, dan pelabuhan modern bisa mendukung wisata bahari yang lebih luas.
Selain itu, peningkatan kualitas hotel menengah ke bawah perlu menjadi perhatian. Tingkat hunian rendah di segmen ini menunjukkan perlunya peningkatan layanan, promosi digital, dan kerja sama dengan biro perjalanan domestik.
Menatap Sinergi Ekonomi Baru
Di akhir forum LEIF 2025, Gubernur Rahmat menegaskan pentingnya menciptakan pertumbuhan inklusif. “Dari total PDRB Rp483,8 triliun, hanya enam persen yang bersumber dari anggaran pemerintah. Sisanya digerakkan oleh usaha dan investasi,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan arah baru ekonomi Lampung tumbuh dari sektor riil, investasi, dan produktivitas masyarakat. Jika sektor pariwisata mampu bertransformasi mengikuti laju hilirisasi, Lampung tak hanya akan menjadi pusat industri baru Sumatera, tetapi juga destinasi ekonomi hijau yang hidup dan berdaya.
Kenaikan kecil tingkat hunian hotel mungkin tampak sepele di atas kertas, tetapi di balik angka itu tersimpan tanda-tanda kehidupa, bahwa mesin ekonomi Lampung mulai berdetak dari berbagai arah, menunggu untuk disatukan dalam satu irama pembangunan yang lebih berkelanjutan.***








