Labuhan Jukung di Era Perubahan: Masuk Bayar, Parkir Bayar, Bersihnya Entah di Mana

iwan

Sabtu, 3 Januari 2026 - 13:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pantai Labuhan Jukung Krui Pesisir Barat, hari ini bukan hanya pantai, tapi juga monumen kecil tentang arti “perubahan”. Perubahan yang dulu digaungkan lantang saat Pilkada, dielu-elukan di baliho, disebar lewat slogan, dan dikemas manis seperti permen kapas. Sayangnya, begitu dibuka, isinya bukan gula—melainkan karcis.

Pesisir Barat (Netizenku.com): Di era rezim saat ini, hampir semua hal di pantai ini harus bayar. Masuk bayar, parkir bayar, pakai fasilitas bayar. Lengkap. Yang gratis tinggal ombak dan angin laut, itu pun mungkin tinggal menunggu regulasi. Warga Krui yang sejak dulu menganggap Labuhan Jukung sebagai halaman rumah sendiri, kini harus antre di loket seolah sedang berwisata ke daerah orang lain.

Baca Juga  Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?

Keluhan bukan cuma datang dari wisatawan luar. Justru warga lokal yang lebih dulu mengelus dada. Mereka tahu betul, fasilitas yang ada itu bukan hasil kerja rezim baru. Itu dibangun dari pajak rakyat, di atas tanah milik pemerintah. Tapi anehnya, begitu pengelola berganti, pantai pun ikut ganti watak. Dari ramah menjadi ribet, dari terbuka menjadi penuh tarif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu di mana perubahan yang dulu dijanjikan? Mana kemajuan yang katanya akan dirasakan masyarakat? Kalau jujur melihat kondisi di lapangan, jawabannya sederhana: perubahan memang ada, tapi arahnya ke belakang. Fasilitas yang dulu relatif tertata, kini terlihat lebih kusam. Pantai yang dulu lebih bersih, sekarang makin jorok. Sampah lebih mudah ditemukan daripada papan informasi.

Baca Juga  Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?

Oh iya, salah. Perubahan memang sudah nampak jelas. Pertama, perubahan pengelola. Kedua, perubahan fasilitas—dari yang tadinya lumayan bagus, sekarang terlihat makin memprihatinkan. Ketiga, perubahan paling nyata dan paling konsisten: semuanya berbayar. Ini perubahan yang benar-benar terasa, bahkan sebelum kaki menyentuh pasir.

Dalihnya tetap sama: demi penataan, demi pariwisata, demi peningkatan PAD. Tapi kalau pungutan jalan terus sementara pembenahan jalan di tempat, publik wajar bertanya. Uang masuk ke mana? Kenapa pantai justru terlihat makin semrawut? Apakah konsep pariwisata sekarang cukup dengan mencetak karcis?

Baca Juga  Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?

Labuhan Jukung sejatinya tetap indah secara alami. Alam masih bekerja dengan jujur, tanpa janji kampanye. Ombak datang tepat waktu, matahari tetap tenggelam dengan indah. Sayangnya, yang tidak seindah itu adalah cara manusia mengelolanya. Pantai ini seperti etalase bagus dengan isi yang dibiarkan berantakan.

Warga kini hanya bisa senyum kecut. Janji perubahan sudah lewat masa berlaku, tersapu angin laut. Yang tersisa adalah realita: pantai makin jorok, fasilitas stagnan, dan akses makin mahal. Kalau ini yang disebut perubahan, mungkin publik hanya salah paham. Atau jangan-jangan, perubahan memang terjadi—tapi bukan untuk rakyat. (*)

Berita Terkait

Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?
Bumi Lebu Bercerita, Warga Bercanda, Begitulah Ngejalang Fest 2025 Adanya
Ngejalang Fest 2025, Bumi Lebu Pesisir Barat Siap Menyala!
Ngejalang Fest Bumi Lebu: Desa Mini, Budaya Maksimal dan Drama Pantun Tanumbang
Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Resmi Beroperasi di Pesisir Barat
Keluarga Karya Kartadilaga Pulang Kampung ke Pulau Pisang
Tingkatkan Aksesibilitas Warga, Satgas TMMD Pasang Gorong-Gorong
TMMD Bangun Jalan, Warga Pemerihan Antusias Gotong Royong

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 00:02 WIB

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Senin, 2 Februari 2026 - 21:18 WIB

Triga Lampung Temui Kemenhan, Bahas Keberlanjutan Lahan Tebu Eks SGC

Senin, 2 Februari 2026 - 17:28 WIB

Kempeskan Ban Mobil Mahasiswa, Anggota DPRD Lampung Terancam Sidang Etik

Senin, 2 Februari 2026 - 13:53 WIB

KONI Lampung Intensif Pantau Atlet Berprestasi Jelang PON 2028 dan Persiapan Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Februari 2026 - 13:38 WIB

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:51 WIB

Yusnadi, Sesalkan Kebijakan RSUD Sukadana yang Wajibkan Pasien Gunakan Ambulans Rumah Sakit Saat Rujukan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:18 WIB

TRIGA Lampung Kepung Kejaksaan Agung–KPK, Bongkar Dugaan Oligarki Gula, Pajak, dan Politik Uang

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:13 WIB

Bapenda Lampung dan GGPC Perkuat Sinergi Optimalisasi PAD

Berita Terbaru

Lampung

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:02 WIB

Lampung

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Feb 2026 - 13:38 WIB