Keputusan Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus menggandeng Perguruan Tinggi Negeri, khususnya Institut Teknologi Sumatera (ITERA), patut dibaca sebagai langkah rasional seorang pemimpin yang tidak ingin daerahnya berjalan di tempat.
Lampung Barat (Netizenku.com): Ketika sebagian pembantu di lingkaran kekuasaan gagal menunjukkan kerja yang inovatif, kreatif, dan cerdas, maka menghadirkan kekuatan eksternal berbasis ilmu pengetahuan menjadi pilihan yang sah, bahkan perlu.
Pemerintahan daerah sejatinya tidak kekurangan struktur, jabatan, maupun anggaran. Yang sering langka justru gagasan segar dan keberanian melampaui rutinitas. Program yang itu-itu saja, laporan yang penuh basa-basi, serta kebijakan yang minim terobosan membuat visi besar kepala daerah kehilangan daya dorong. Dalam situasi seperti inilah kampus menjadi mitra strategi, bukan sekadar pelengkap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengundang mahasiswa ITERA melalui program KKN dalam jumlah besar adalah bentuk kejujuran politik: daerah ini membutuhkan perspektif baru. Mahasiswa hadir membawa semangat eksperimentasi, keberanian mencoba, dan kepekaan lapangan yang sering kali hilang di ruang-ruang rapat birokrasi. Mereka bisa melihat potensi desa bukan dari sudut pandang proyek, melainkan dari kebutuhan nyata masyarakat.
Lebih dari itu, perguruan tinggi menyimpan kekuatan yang selama ini belum dimaksimalkan: dosen dan peneliti. Di saat sebagian “menteri daerah” sibuk menjaga zona nyaman, para akademisi justru terbiasa bekerja dengan data, riset, dan target yang terukur. Melibatkan mereka untuk mengkaji potensi unggulan Lampung Barat sekaligus kerawanan bencana adalah langkah cerdas agar pembangunan tidak lagi berbasis asumsi.
Menggandeng PTN bukan berarti melemahkan peran internal pemerintahan, tetapi menjadi alarm keras bahwa daerah tidak boleh dikorbankan oleh ketidakmampuan aparatur beradaptasi dengan tantangan zaman. Jika birokrasi tak mampu berinovasi, maka ilmu pengetahuan harus diberi ruang untuk mengambil peran.
Pada titik ini, langkah Bupati Lampung Barat layak didukung sepenuhnya. Ia memilih bergerak, bukan menunggu. Ia membuka pintu kolaborasi, bukan larut dalam pembelaan. Karena membangun daerah bukan soal menjaga perasaan pejabat, melainkan memastikan masa depan rakyat berjalan ke arah yang benar.
Jika kolaborasi dengan PTN ini dijalankan secara konsisten, maka Lampung Barat memiliki peluang besar melompat lebih jauh, menjadi daerah yang dibangun dengan akal sehat, bukan sekadar rutinitas kekuasaan. (*)








