Kita Mau Kemana Lagi, Bu?

Redaksi

Rabu, 28 Juli 2021 - 21:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sore ini saya ajak istri bermotor. Selain memang hobi bermotor, saya bermaksud keliling ke beberapa ruas jalan di Kota Bandarlampung. Tujuannya untuk melihat suasana PPKM Level 4 yang sudah ‘dilonggarkan’.

Pelonggaran itu tercermin dari dibukanya sekat-sekat pembatas di jalan protokol yang beberapa waktu lalu diterapkan. Berawal dari Kedaton lalu motor di arahkan ke Jalan Raden Intan. Kendati penyekatan sudah tak ada lagi, namun kendaraan yang melintas tidak padat. Bahkan jalanan terkesan lengang.

Tak butuh waktu lama, roda motor sudah menggelinding hingga Taman Gajah, Enggal. Di area ini tampak warga kota sedang duduk santai menyambut senja. Memang tidak begitu ramai. Namun geliat kota mulai terasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hanya melintas, saya dan istri melanjutkan perjalanan ke arah fly over Gajah Mada. Sampai simpang empat dekat Stadion Pahoman, kami memilih belok kiri. Mengambil lajur bawah fly over hendak menuju Jalan Gajah Mada lalu terus ke Jalan Antasari.

Di bawah jalan layang ini melintang rel kereta. Itu mengharuskan saya mengurangi kecepatan si kuda besi. Motor merayap perlahan. Tuas kopling sesekali digenggam untuk menjaga ritme mesin.

Butuh konsentrasi lebih saat melintasi rel. Terlebih ada gundukan kecil bebatuan di antara kedua rel. Setang motor pun agak bergoyang. Perlu sedikit tenaga buat mengendalikannya. Sedang fokus lewati rintangan, tetiba istri meminta saya menepikan motor. “Pinggir sebentar, Pa.”

Baca Juga  Pemkab Lamsel Raih UHC Award 2026 Kategori Pratama

Meski agak terkejut, tapi saya tetap manut. Setelah berada di pinggir jalan dan gigi motor sudah dinetralkan, saya tak sabar langsung bertanya. “Ada apa, Mem?”

“Sebentar ya, Pa.” Tanpa menunggu respon saya, dia langsung menengok ke arah belakang, lantas melambaikan tangan pada seorang perempuan yang sedang bersama bocah lelaki. Saya mengikuti arah yang dituju istri saya melalui pandangan di kaca spion.

Tampak seorang perempuan mengenakan hijab. Usianya masih relatif muda. Di tangan kirinya ada karung plastik berukuran cukup besar. Sedangkan tangan kanannya menuntun bocah lelaki yang saya perkirakan tak lebih dari 7 tahun.

Baik perempuan itu maupun si bocah tampak ‘bersih’. Si bocah mengenakan baju koko dan kopiah yang sama-sama sudah kusam. Kalau melihat plastik yang dibawa perempuan itu agaknya mereka pemulung. Tapi bukan gepeng (gelandangan pengemis) karena tampilannya yang terkesan ‘bersih’ itu.

Oke, apa yang selanjutnya terjadi tak perlu saya ceritakan. Sejenak kemudian starter motor saya tekan. Sontak knalpot menyalak. Roda pun berputar. Motor melaju kembali. Tapi kali ini saya tak berminat menarik tuas gas lebih dalam. Saya justru mempertahankan gigi rendah, sambil tetap mengambil jalur di sisi kiri jalan.

Baca Juga  Pemprov Lampung Lantik Lima Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama

“Kenapa Mama tertarik pada mereka?” Tanya saya ingin melampiaskan penasaran. Sebab, sepanjang jalan tadi kami sempat menjumpai beberapa gepeng atau pemulung. Namun, itu tidak menarik perhatian istri saya.

Pertanyaan saya tak langsung dijawab. Sejenak terasa hening, meski mesin motor berderu berpadu derum knalpot. Hati saya mendadak merasa senyap. Sampai akhirnya istri saya bilang. “Papa tadi ga denger ya omongan anak itu ke ibunya?”

Saya diam, sengaja tak menyahut, karena menunggu penjelasan selanjutnya. “Waktu kita lewat di rel, ibu dan anak itu ada di pinggir jalan. Saat itulah mama denger ucapan anaknya. Anak itu nanya ke ibunya, “Kita mau kemana lagi, Bu?” Suaranya pelan. Tapi karena posisi mereka di sebelah kita, jadi mama dengar. Suara anak itu mengharukan, Pa. Mungkin karena dia sudah kecapean jalan,” tutur istri saya.

Mendengar itu saya termangu. Terbayang oleh saya, si ibu tentu bingung saat ingin menjawab pertanyaan buah hatinya. Sangat mungkin, si ibu juga sebenarnya sudah letih. Tapi pulang bukan jawaban bijak, lantaran pulang tanpa membawa bekal untuk sekadar mengganjal perut jelas bukan sebuah solusi.

Saya menduga. Sesungguhnya pemandangan miris nyaris serupa itu berserakan di berbagai tempat hari-hari ini, bak daun-daun kering yang berguguran ditiup angin kemarau. Pandemi, memang sudah membuat banyak saku dan dompet kering kerontang. Kalau pun masih tersisa pengharapan, sangat mungkin jumlahnya terbatas dan terancam tandas. Sedangkan pandemi belum juga menunjukkan tanda-tanda lekas berlalu.

Baca Juga  Kwarcab Pesawaran Serahkan Dana Bumbung Kemanusiaan ke Kwarda Lampung

Saya menjadi paham mengapa keluarga Akidi Tio tanpa sungkan sudah berkenan merogoh kocek hingga Rp 2 triliun untuk penanganan covid-19 di Sumatera Selatan. Tak diragukan lagi. Tentu Tuhan sudah menggerakkan hati keluarga pengusaha itu. Dia sudah terpilih oleh Tuhan. Itu sangat menguntungkan bagi Akidi Tio.

Sementara ada banyak pengusaha sukses, orang kaya dan pejabat makmur di negeri ini. Namun mereka belum tentu dipilih oleh Tuhan untuk membelanjakan hartanya di jalan berkah. Yang ada malah sebaliknya.

Tak sedikit para pembesar dan pejabat yang justru membebani negara. Pejabat dan wakil rakyat malah tanpa malu memaksa minta prioritas difasilitasi pelayanan kesehatan. Atau pejabat yang mengemban tugas menjadi penolong penanganan covid-19, di tengah jalan malah berubah perilaku justru bancakan menyolong duit rakyat.

Kalau realitanya banyak oknum berlomba mengambil kesempatan di tengah kesempitan seperti sekarang, relevan kiranya bila pertanyaan si bocah tadi juga ditujukan kepada anak bangsa atau lebih khusus buat para pemimpin dan pembesar. Nasib negara ini sesungguhnya hendak dibawa kemana? ()

Berita Terkait

Pemkab Lamsel Raih UHC Award 2026 Kategori Pratama
Pemprov Lampung Perkuat Kendali Inflasi Jelang Ramadan 2026
Larangan Simbolik Petasan vs Perut Pedagang Kecil yang Berisik
Emado’s Perluas Jaringan, Lampung Jadi Cabang ke-99
Kwarcab Pesawaran Serahkan Dana Bumbung Kemanusiaan ke Kwarda Lampung
Pemprov Lampung Lantik Lima Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama
Triga Lampung Tagih Tanggung Jawab Menteri ATR/BPN soal HGU SGC
3.000 Bibit Kopi-Kakao Dibagikan, Menko Zulkifli Hasan Minta Petani Jaga Gunung Rajabasa
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 12:51 WIB

DPRD Lampung Soroti Pelajar Menyeberang Sungai Way Bungur

Selasa, 3 Februari 2026 - 12:20 WIB

KONI Lampung Bentuk Panitia Persiapan Porprov X 2026 di Bandar Lampung

Selasa, 3 Februari 2026 - 00:02 WIB

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Senin, 2 Februari 2026 - 21:18 WIB

Triga Lampung Temui Kemenhan, Bahas Keberlanjutan Lahan Tebu Eks SGC

Senin, 2 Februari 2026 - 17:28 WIB

Kempeskan Ban Mobil Mahasiswa, Anggota DPRD Lampung Terancam Sidang Etik

Senin, 2 Februari 2026 - 13:38 WIB

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Februari 2026 - 12:20 WIB

Pemprov Lampung Prioritaskan Pembangunan Jembatan Kali Pasir untuk Akses Sekolah

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:51 WIB

Yusnadi, Sesalkan Kebijakan RSUD Sukadana yang Wajibkan Pasien Gunakan Ambulans Rumah Sakit Saat Rujukan

Berita Terbaru

Lampung

DPRD Lampung Soroti Pelajar Menyeberang Sungai Way Bungur

Selasa, 3 Feb 2026 - 12:51 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:02 WIB