oleh

Kala Luna \’Bukan Maya\’ Digiring ke Penangkaran

-Travel-26 views

Bandarlampung (Netizenku.com): Pilihan hobi yang satu ini bagi sebagian orang memang terasa janggal. Musang sebagi hewan mamalia yang pintar memanjat dan memiliki habitat asli di perkebunan maupun hutan itu, justru dijadikan peliharaan layaknya kucing. Tak khawatirkah dengan ancaman gigitan berdampak rabies dari binatang yang acapkali dianggap hama pengganggu itu?

Kalau pertanyaan itu disodorkan kepada Anisa Sintia, perempuan 21 tahun ini, pasti menggeleng. Sebab, musang yang diperoleh dari pemberian pacarnya itu, tampak imut sekaligus jauh dari kesan ganas apalagi menyeramkan.

\”Saya dapat dari pacar. Dia enggak sengaja beli dari petani di Tanggamus yang ngakunya nemuin bayi musang di hutan,\” kata Icut -sapaan akrab Anisa Sintia- kepada Netizenku.com, Kamis (12/4). Saat pertama kali bertemu musang anakan yang ditaksir masih berumur 4 bulan itu, kondisinya terlihat menggemaskan.

Diketahui musang betina ini berjenis musang bulan dengan warna hitam kecokelatan. \”Saya nggak merasa takut sama sekali, malah musangnya manja-manja gitu. Akhirnya saya pelihara dan kasih nama ke dia Nandini,\” kisah Icut sambil membelai seekor musang yang berada di pangkuannya.

Baca Juga  Mantap! Kopi Lampung Raih Penghargaan Tingkat Dunia di Paris

Mengingat ketika itu usia Nandini masih terbilang \’bocah ingusan\’ maka Icut juga harus berperan seperti induknya dalam merawat dan memberi makan. \”Waktu itu saya kasih minum pakai botol dot yang biasa dipakai bayi,\” imbuhnya seraya tersenyum.

Seiring waktu, Nandini menunjukkan sikap yang berbeda jauh dengan perilaku musang di habitat aslinya. Bulu-bulunya yang tak lepas dari perawatan menjadi lebih lebat dan halus. \”Pembawaan Nandini juga cenderung lebih kalem bila di banding musang lain. Kalau sedang saya bawa jalan naik motor dia anteng tidak agresif. Dia juga nggak badung berlari kesana-kemari kalau sedang diajak jalan-jalan sore. Nandini selalu jalan di belakang mengikuti arah gerak saya,\” timpal Icut.

Selain kalem, Nandini juga termasuk musang yang tahu diri. Dia tidak ingin membikin repot majikannya dengan pup di sembarang tempat. Atau mungkin musang betina ini termasuk musang yang demen ketertiban sehingga hanya BAB di satu tempat yang sudah disediakan.

\"\"

Selain disiplin, menurut Icut, musang kesayangannya juga sudah kehilangan naluri alamiahnya. \”Dia takut, malah bisa dibilang phobia, dengan ayam,\” ucapnya. Kalau musang betina itu kebetulan sedang di luar rumah dan melihat ayam, Nandini bakal terbirit-birit tunggang langgang berlari ke arah Icut, lalu mencari perlindungan menelusup di antara kakinya.

Baca Juga  Di Kampung Ini Komplotan Kera yang Punya Kuasa!

\”Jangankan melihat, mendengar suara ayam aja Nandini sudah panik. Bisa senewen dia. Pokoknya aneh, deh,\” sergah Icut tentang musang peliharaannya yang hingga kini masih ngedot itu.

Icut bukan satu-satunya pemelihara musang. Karena tren mengurusi \’hewan peliharaan anti mainstream\’ belakangan ini sudah makin digandrungi di Lampung. Bahkan, untuk penggemar musang peliharaan sudah memiliki perhimpunan tersendiri dengan nama Musang Lovers Lampung atau disingkat Malam. Tak heran bila sedang berkumpul ada banyak cerita yang berhamburan seputar musang peliharaan para anggotanya.

Anggi Fillian adalah salah satu di antaranya. Bahkan pria 25 tahun ini, tercatat sebagai Ketua Malam regional Kota Metro. Anggi mengaku sudah bergaul dengan musang sejak 2005. Perkenalan itu melalui seorang karibnya yang sudah lebih dulu memelihara musang. Anggi lalu terinfluense dan mulai juga memelihara musang yang sejenis dengan Nandini yakni musang bulan.

Baca Juga  Kasubag yang Jago Tarik Suara

Hanya saja musang milik Anggi berkelamin jantan. Maka selaras ketika pemiliknya menyematkan nama tokoh bertopeng di salah satu serial TV Indonesia pada awal 2000-an. \”Saya kasih nama dia Panji. Tapi bukan manusia milenium ya, Mas,\” seloroh Anggi.

Awalnya, dia tidak tahu sama sekali kalau musang bisa dijadikan hewan jinak, layaknya binatang peliharaan lain. Setelah memelihara Panji sejak musang itu berusia 5 bulan, baru dipahami bahwa musang memang bisa dibikin sangat penurut. \”Apalagi sekarang umurnya sudah 13 tahun. Panji sama aku sudah lengket banget,\” tambahnya.

Saking lengket dan jinak, tak pelak Panji kerap menjadi daya magnet setiap kali dibawa ke luar rumah. \”Enaknya musang ini bisa kita ajak main kemana-mana. Panji ini punya pesona tersendiri. Kalau diajak jalan dia anteng. Nah, itu mungkin yang bikin orang gemes lihatnya. Akhirnya aku sama Panji sering jadi pusat perhatian gitu, enggak heran kalau Panji jadi target orang-orang untuk selfi,\” ucap Anggi, sambil mengaku jadi ikut ketiban rezeki lantaran kerap dikerumuni orang yang ngajak foto bareng.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *