Di Kampung Ini Komplotan Kera yang Punya Kuasa!

Redaksi

Minggu, 25 Maret 2018 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yusak membawa buah tangan untuk para \'tuan rumah\'. (Foto: Agis)

Yusak membawa buah tangan untuk para \'tuan rumah\'. (Foto: Agis)

Bila Yusak selaku pengunjung memiliki kekhawatiran tersendiri, maka Bagio (64) warga setempat, juga memiliki kerisauan terhadap keberadaan \’gank kera\’ yang jumlahnya mencapai ratusan di sekitar tempat tinggalnya itu. \”Walau kelakuannya nakal, warga di sini nggak pernah berpikir untuk menyakiti atau mengusir pergi kera-kera itu,\” ungkapnya.

Padahal, sambung dia, bila kawanan kera itu sedang lapar mereka tak segan-segan merangsek ke rumah-rumah warga. \”Kalau sedang satroni rumah-rumah kami, mereka selalu datang berkelompok. Satu kelompok bisa sampai 30-an kera. Mereka biasanya sampai kepung rumah warga. Malah ada yang sampai naik ke atap dan kalau nggak dapat makanan, bisa rusak atap rumahnya diacak-acak. Begitu juga dengan tanaman punya warga, jadi sasaran dirusak mereka,\” cerita Bagio, saat disambangi di kediamannya yang berjarak paling dekat dengan himpunan pepohonan yang menjadi sarang kera.

Baca Juga  Pemprov Lampung Perkuat Kendali Inflasi Jelang Ramadan 2026

Tapi anehnya, imbuh dia, walau sering dijahili oleh kera-kera itu, warga sekitar tak pernah berniat membalas. \”Malah pernah ada orang-orang dari luar yang bawa senapan mau nembakin kera-kera. Kami warga di sini marah dan mengusir mereka. Kami sayang sama kera-kera itu,\” kata Bagio.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tentang kera-kera yang sering \’turun gunung\’ itu, menurut Bagio biasanya karena pasokan makanan alamiah mereka sudah habis, seperti buah-buahan atau biji-bijian. \”Pohon buah-buahan hampir sudah tidak ada lagi di dekat sarangnya, ditambah lagi kalau sepi pengunjung yang kasih makan mereka,\” tandasnya.

Baca Juga  IJP Lampung Pelajari Strategi Komunikasi Publik Jawa Barat dan Pola Kemitraan Media

Cerita pengalaman bertetangga dengan kera juga dialami Sam\’ah. Bahkan perempuan 49 tahun ini, memiliki traumatik tersendiri terhadap kera. \”Saya pernah dikejar-kejar sama gerombolan momyet itu. Untung bisa selamat karena cepat masuk rumah. Akhirnya sampai sekarang kalau abis dari luar terus mau pulang tapi ketemu sama monyet di jalan, saya mending mundur cari jalan lain,\” kisahnya.

Diceritakan Sam\’ah, agaknya kemarahan kawanan kera kepada dirinya karena disulut dendam. \”Saya kan buka warung di rumah. Nah, kalau ada monyet datang masuk warung mau ambil makanan, saya suka usir. Karena sering saya usir akhirnya mereka ciren sekaligus dendam sama saya. Makanya waktu saya ketemu mereka, semuanya mendadak pada ngejar mau jambak rambut saya. Monyet-monyet itu memang suka petantang-petenteng kalau lihat saya,\” timpalnya seraya tersenyum.

Baca Juga  Emado’s Perluas Jaringan, Lampung Jadi Cabang ke-99

Meski sudah sering dibuat repot oleh kera-kera itu, namun senada dengan Bagio, Sam\’ah pun tidak menginginkan kera-kera itu dievakuasi ke tempat lain, misalnya. Karena ternyata binatang yang demen berkelompok itu, sudah dianggap sebagai bagian dari warga setempat. \”Nggak apa tetap disitu. Tapi coba pemerintah bantu-bantu pelihara. Bantu kasih makan biar monyetnya nggak ngacak-acak rumah warga,\” harapnya.

Menurut dia, dulu pemerintah sempat berniat mau kelola tempat ini. \”Tapi entah kenapa sudah bangun pos jaga segala, sekarang malah berhenti. Bangunannya jadi terbengkalai. Mungkin orang-orang dinas itu nggak tahan ngandepin kelakuan monyet-monyet di sini,\” kata Sam\’ah berkelakar. (Agis)

Berita Terkait

Pemprov Lampung Perkuat Kendali Inflasi Jelang Ramadan 2026
Larangan Simbolik Petasan vs Perut Pedagang Kecil yang Berisik
Emado’s Perluas Jaringan, Lampung Jadi Cabang ke-99
Kwarcab Pesawaran Serahkan Dana Bumbung Kemanusiaan ke Kwarda Lampung
Pemprov Lampung Lantik Lima Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama
Triga Lampung Tagih Tanggung Jawab Menteri ATR/BPN soal HGU SGC
3.000 Bibit Kopi-Kakao Dibagikan, Menko Zulkifli Hasan Minta Petani Jaga Gunung Rajabasa
IJP Lampung Pelajari Strategi Komunikasi Publik Jawa Barat dan Pola Kemitraan Media

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 15:55 WIB

Pengangkatan Petugas MBG Jadi Pegawai Negara, DPRD Lampung Soroti Nasib Guru Honorer

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:34 WIB

PKB Tetapkan Chusnunia sebagai Ketua DPW Lampung 2026–2031

Jumat, 23 Januari 2026 - 16:52 WIB

Pemprov Lampung Siapkan PKN Tingkat II 2026

Jumat, 23 Januari 2026 - 13:06 WIB

Kominfo dan PPPA Lampung Perkuat Sinergi PUSPAGA

Jumat, 23 Januari 2026 - 11:35 WIB

DPRD Lampung Dukung Rencana Pabrik Rokok HS di Lampung Timur

Kamis, 22 Januari 2026 - 18:59 WIB

HGU SGC Dicabut, Triga Lampung, Negara Harus Pastikan Tak Ada Kelebihan Lahan

Kamis, 22 Januari 2026 - 17:52 WIB

Yozi Rizal Minta Pemerintah Pusat Transparan soal Pencabutan HGU Anak Usaha SGC di Lampung

Kamis, 22 Januari 2026 - 17:41 WIB

Rokok Ilegal Marak, DPRD Lampung Dorong Penindakan Menyeluruh

Berita Terbaru

Lampung Selatan

Imigrasi Kalianda Gelar Syukuran Hari Bakti ke-76

Senin, 26 Jan 2026 - 18:48 WIB