Dampak Diksar Maut, Sispala Terancam Sulit Berkegiatan

Redaksi

Minggu, 13 Oktober 2019 - 18:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandarlampung (Lentera SL): Kasus tewasnya Aga Trias Tahta (19), mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) UKM pecinta alam Cakrawala, Minggu (29/9) silam, Kabupaten Pesawaran, terus berlanjut.

Atas insiden tersebut, rupanya berdampak pada organisasi kepecintaalaman lain di wilayah setempat, salah satunya pada ekstrakulikuler Siswa Pecinta Alam (Sispala) di Lampung.

Ketua Dewan Pengurus Watala, Joko Hartono, sekaligus merupakan Pembina Sekretariat bersama (Sekber) Sispala Lampung, mengatakan bahwa untuk sebuah kegiatan Diksar memiliki level tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

\”Kalau untuk diksar sispala di Watala sudah punya SOP untuk sebuah pendidikan dasar. Ada level di atas siswa ada level di bawah siswa. Kalau kita menggunakan standar yang sudah disusun oleh Watala, saya pikir tidak ada hal yang cenderung negatif,\” ujar Joko, Minggu (13/10).

Baca Juga  Pompa Air di Perum Bukit Beringin Raya Rusak, Kadis Perkim Minta PT Sinar Waluyo Tanggung Jawab

Menurutnya, pendidikan pecinta alam memang harus dilakukan. Selain untuk regenerasi, dengan mengikuti diksar pecinta alam dapat memasuki dunianya dengan baik dan benar.

\”Karena dunia pecinta alam itu bukan hanya naik gunung. Ketika bicara alam tentunya bicara kemanusiaan juga di sana, nah salah satunya seperti yang dilakukan adik-adik kita (Sispala) di Sekber pecinta alam ini aktif dalam kegiatan sosial.\” jelasnya.

Selain itu, Joko mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah berupaya dalam membantu mensosialisasikan kegiatan diksar ke sekolah yang memiliki Sispala. Hal itu dilakukan agar persepsi miring pada kegiatan pecintaalaman dapat dicegah. \”Supaya bisa memberikan wawasan juga kepada pembina dan kepala sekolah bahwa kegiatan jika dilakukan dengan SOP yang benar maka akan terlaksana dengan aman,\” ujar Joko.

Wakil Ketua Pastabel SMK Negeri 4 Bandarlampung, Khalil Faza, mengungkapkan bahwa peristiwa Diksar maut tersebut jelas mampu berdampak besar pada perizinan kegiatan kepecintaalaman di setiap sekolah di Bandarlampung.

Baca Juga  Pompa Air di Perum Bukit Beringin Raya Rusak, Kadis Perkim Minta PT Sinar Waluyo Tanggung Jawab

\”Kita ada forum pecinta alam se-Lampung. Nah kita diskusikan itu hampir semua sispala sulit dapat izin untuk kegiatan,\” jelasnya.

Di Kota Bandarlampung sendiri, sekolah yang memiliki ekstrakulikuler pecinta alam berkisar 14 sekolah, namun sebagian besarnya sulit mendapat perizinan kegiatan. \”Sebenarnya sispala di Bandarlampung aja itu ada sekitar 14-an. Tapi memang rata-rata ya kendala kita sama, di sekolah masing-masing itu soal perizinan kegiatan susah,\” bebernya.

Alasannya, sekolah tidak mau mengambil resiko yang terlalu besar. Hal itu lantaran berita yang menyebar terkait tewasnya peserta diksar selalu mewarnai di sepanjang tahun. \”Padahal kegiatan kita kan kalau diksar itu lebih banyak ke praktek yang sebenarnya sebelumnya sudah diisi dengan materi ruang di sekolah, kaya survival, rock climbing atau navigasi darat,\” kata dia.

Baca Juga  Pompa Air di Perum Bukit Beringin Raya Rusak, Kadis Perkim Minta PT Sinar Waluyo Tanggung Jawab

Dijelaskan Faza, kegiatan diksar diharamkan menggunakan kontak fisik.\”Nggak ada kontak fisik, apalagi sampai ninju gitu. Kalau senior (atau panitia) ngelakuin kontak fisik ya kita otomatis diskors atau dihukum dengan instruktur,\” jelasnya.

Hal itu dikarenakan, kegiatan diksar berpusat kepada instruktur. Jika panitia melanggar hal tersebut, maka justru panitia yang mendapatkan hukuman.\”Kami kan pakai SOP dari Watala, nah di situ ada instruktur. Instruktur yang punya hak untuk ngasih hukuman ke peserta,\” terang Faza.

Sementara, instruktur sendiri merupakan hasil kesepakatan pada rapat sebelumnya. Di mana, posisi yang menjadi ujung tombak kegiatan itu akan diisi dengan pemateri, atau alumni yang sudah memumpuni.

\”Instruktur kegiatan itu dipilih dari hasil rapat, ada yang dari pemateri ahli, ada satu dari alumni. Jadi nggak ada istilah balas dendam junior dan senior,\” tukasnya. (Adi)

Berita Terkait

Pompa Air di Perum Bukit Beringin Raya Rusak, Kadis Perkim Minta PT Sinar Waluyo Tanggung Jawab
Kwarda Lampung Sambut Pembentukan Racana UIM
Disdikbud Lampung Kembali Gelar UKG
Yuliana Safitri, Kontraktor Perempuan Lampung yang Kini Menjalani Penahanan, Tetap Teguh Menghadapi Proses Hukum
Fadli Zon Jadikan Lampung Panggung Pernyataan Pentingnya Pelestarian Budaya
Kampanye Anak Indonesia Hebat, Purnama Wulan Sari Mirza Ajak Perkuat Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
KPK dan DPRD Lampung Perkuat Sinergi Pencegahan Korupsi
DPP ABRI Gelar Pelatihan Paralegal Nasional 2025

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 16:05 WIB

FLL Ajak Penggiat Perkuat Kolaborasi Literasi

Sabtu, 14 Februari 2026 - 13:39 WIB

Lewat Mini Soccer, Pemprov Lampung dan Jurnalis Perkuat Sinergi Pembangunan Daerah

Jumat, 13 Februari 2026 - 13:51 WIB

Pemprov Lampung Tebar 50 Ribu Benih Ikan dan Bersih Bersih di PKOR Way Halim

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:38 WIB

Wakil Gubernur Lampung Resmikan Penerbangan Internasional Lampung–Kuala Lumpur

Rabu, 11 Februari 2026 - 17:00 WIB

DPRD Lampung Dorong Keberlanjutan Rute Internasional Lampung–Malaysia

Selasa, 10 Februari 2026 - 23:07 WIB

Pemprov Lampung Siapkan Percepatan Pembangunan Jalan Provinsi di 2026

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:59 WIB

Kostiana Dorong Digitalisasi UMKM di Peringatan HUT ke-51 IWAPI Lampung

Selasa, 10 Februari 2026 - 13:20 WIB

Yusnadi, Jembatan Kali Pasir Segera Dibangun, Ada Solusi Sementara

Berita Terbaru

Lampung

FLL Ajak Penggiat Perkuat Kolaborasi Literasi

Selasa, 17 Feb 2026 - 16:05 WIB