Jejak Sandi di Lampung

Redaksi

Rabu, 10 Oktober 2018 - 11:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Nizwar Affandi. (Pembaca dan pemerhati berita)

Oleh Nizwar Affandi. (Pembaca dan pemerhati berita)

Oleh: Nizwar Affandi

DI beberapa WA Group di Lampung yang saya ikuti, dalam beberapa hari ini sedang ramai dengan rangkaian kedatangan Cawapres Sandiaga Uno.

Keriuhan yang terjadi lebih pada hal remeh temeh yang tidak menyentuh substansi, sentimen like and dislike yang diwakili oleh berbagai meme.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi saya Sandi adalah figur yang cukup inspiratif walaupun ia misalnya tidak menjadi Cawapres atau Wagub DKI Jakarta sekalipun.

Gelora Pilpres yang memberikan amplifikasi sehingga figur yang inspiratif itu mengalami gigantisme menjadi seperti manusia setengah dewa kalau meminjam lagunya Iwan Fals.

Bagi saya sebagai putra Lampung walaupun menetap di Jakarta, jauh lebih menarik untuk mencari jejak beliau di Lampung sepanjang riwayat dirinya berkiprah dalam dunia usaha.

Di mulai dengan sebuah pertanyaan, apakah pernah beliau melakukan aktivitas usahanya di Lampung?

Baca Juga  Abu Vulkanik Krakatau Ancam Siswa, Syukron Desak Sekolah Libur Sementara

Dari penelusuran secara awam saya mendapatkan sebuah fakta: Dipasena, areal tambak udang yang pernah menjadi salah satu yang terbesar di dunia ternyata pernah memiliki persinggungan erat dengan Sandiaga.

Saya menemukan banyak berita dan artikel lama tentang itu. Sandi bersama dengan Rosan Roeslani melalui Recapital Advisors adalah pembeli pertama Dipasena Citra Darmaja (DCD) dalam lelang BPPN dan PPA setelah DCD diserahkan Gajah Tunggal ke negara karena Sjamsul Nursalim tidak bisa membayar kewajiban BLBI.

Konon harga pembeliannya jika dihitung per meter persegi jauh lebih murah daripada pembelian Gula Putih Mataram (GPM) dan perusahaan-perusahaan lainnya yang sama-sama berusaha di atas tanah negara beralas hukum HGU.

Setelah membaca berbagai arsip artikel dan berita itu, bagi saya menjadi menarik untuk ditanyakan mengapa Recapital Advisors dinyatakan gagal bayar memenuhi kewajiban kepada negara dan gagal melakukan revitalisasi DCD?

Baca Juga  Seminar Al-Aqsha di Lampung Dorong Generasi Muda Temukan Peran Nyata untuk Palestina

Mengapa begitu cepat DCD kemudian berpindah tangan lagi ke konsorsium Neptune kemudian berpindah-pindah lagi sampai akhirnya dimiliki Charoen Pokphand (konglomerasi Thailand) melalui Aruna Wijaya Sakti (AWS)?

Pada riwayat perjalanan hidupnya melalui berbagai kendaraan perusahaan, Sandi memang sangat bertalenta.

Membeli perusahaan yang mati suri atau kinerjanya jeblok dengan harga murah kemudian menjualnya kembali dengan harga mahal.

Mengingatkan saya pada tokoh yang diperankan Richard Gere dalam film \’Pretty Woman\’ dua dekade yang lalu.

Menarik untuk ditanyakan apakah pada saat itu Sandi dan Recapital Advisors melihat Dipasena hanya sekadar sejumlah angka-angka, sehingga diperlakukan seperti mobil tua yang cukup didempul alakadarnya kemudian dijual kembali?

Apakah pada saat itu Sandi tidak tergerak hatinya melihat nasib ribuan petambak dan puluhan ribu jiwa keluarganya yang harus menanggung jebakan hutang Gajah Tunggal dan terkatung-katung nasibnya?

Baca Juga  Perubahan KUA-PPAS 2026 Pringsewu Disepakati, Belanja Daerah Naik Jadi Rp1,195 Triliun

Pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan melahirkan sejumlah pertanyaan lain.

Bagi saya dan mungkin masyarakat Lampung, penjelasan soal Dipasena menjadi cukup penting, karena bisa menjadi salah satu parameter untuk mengukur komitmen kerakyatan dan kemampuan Sandi dalam membenahi dan membangun ulang sebuah entitas usaha dengan begitu banyak hajat hidup didalamnya dan bukan sekedar kotak-katik angka di atas setumpuk porto folio tanpa nurani.

Kita semua mungkin sependapat bahwa memimpin negara dan mengurus hajat hidup ratusan jiwa adalah sebuah pekerjaan yang tidak main-main. Karena itu, rekam jejak calon menjadi sangat penting.

Melalui rekam jejak dan sejumlah narasi yang menjelaskannya, publik akan mengetahui dengan lebih terang dan dapat mendudukkan postur para calon secara lebih wajar dan proporsional. Insha Allah. (*)

*Penulis adalah Alumni FISIP Unila dan Pasca Sarjana FISIP UI

Berita Terkait

Marindo Buka Evaluasi Pembinaan Bahasa Indonesia, Enam Lembaga Raih Apresiasi
Abu Vulkanik Krakatau Ancam Siswa, Syukron Desak Sekolah Libur Sementara
Seminar Al-Aqsha di Lampung Dorong Generasi Muda Temukan Peran Nyata untuk Palestina
Perubahan KUA-PPAS 2026 Pringsewu Disepakati, Belanja Daerah Naik Jadi Rp1,195 Triliun
Gubernur Lampung Perkuat Operasi Terpadu Tangani Karhutla
Tubaba Nihil PHK Semester I 2026, Disnakertrans Siapkan Tim Monitoring ke Perusahaan
BPBD Padamkan Kebakaran TPA Bakung Teluk Betung Barat
32 Pramuka Tubaba Siap Bawa Nama Daerah ke Jambore Nasional XII 2026

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:33 WIB

Purwanto Unggul dengan 1.516 Suara, Menuju Kursi Kepala Pekon Tulung Agung

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:25 WIB

Polsek Gadingrejo Bersama TNI dan Satpol PP Kawal Pilkakon di Enam Pekon

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:03 WIB

Kajari Pringsewu Dukung HPN dan Porwanas 2027, Siap Ramaikan PWI Running

Minggu, 25 Oktober 2026 - 18:30 WIB

Dihadiri Menteri Pertanian, Pesta Rakyat Petani 2026 Dipusatkan di Pringsewu

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:13 WIB

Wabup Pringsewu Imbau Orangtua Hargai Proses Tumbuh Kembang Anak

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Pemkab dan DPRD Pringsewu Sahkan Empat Perda, Atur Aset hingga Pesantren

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:50 WIB

Polisi Gerebek Enam Lokasi di Margakaya Pringsewu, Dua Pria Diamankan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Lantik Delapan Pejabat, Bupati Pringsewu Ingatkan Pentingnya Kerja Nyata

Berita Terbaru

Lampung

Sahdana Ajak Masyarakat Perkuat Kamtibmas di Lampung

Kamis, 29 Okt 2026 - 14:01 WIB

Lampung

Mikdar Ilyas Desak Penertiban Pengerukan Bukit Tanpa Izin

Rabu, 28 Okt 2026 - 20:02 WIB