Bandarlampung (Netizenku.com): Solidaritas Perempuan Sebay Lampung mengecam kekerasan dan perampasan sumber kehidupan perempuan di Desa Wadas, Purworejo, Selasa (8/2).
Perjuangan warga Wadas mempertahankan sumber hidup dan kehidupannya direspon dengan kekerasan oleh negara.
Pengerahan ribuan personel Polri dan kriminalisasi yang dialami warga menjadi teror yang dilakukan negara terhadap warganya di Purworejo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak Selasa (8/2) kemarin hingga hari ini, ribuan polisi masuk ke Desa Wadas dengan senjata lengkap. Kehadiran mereka menimbulkan guncangan dan trauma bagi warga, terlebih dengan penangkapan setidaknya 60 warga dan pendamping.
Perempuan Sebay Lampung dalam keterangannya, Rabu (9/2), menuturkan tiga orang di antaranya adalah perempuan.
Polisi menurunkan banner protes penolakan tambang batu andesit yang menjadi ekspresi perlawanan warga.
Mereka juga sempat mengambil paksa alat pertanian dan pisau-pisau yang biasa digunakan untuk menganyam besek.
“Hingga hari ini kami terus melakukan koordinasi dengan teman-teman yang ada di lokasi, dalam hal ini Solidaritas Perempuan Kinasih Jogjakarta, informasi yang kami dapatkan masyarakat tidak berani keluar rumah, mengambil video, maupun gambar karena diawasi oleh polisi dengan ketat hingga malam tadi,” kata Armayanti Sanusi selaku Ketua Solidaritas Perempuan Sebay Lampung.
Solidaritas Perempuan Sebay Lampung mendukung perjuangan masyarakat dan perempuan di Desa Wadas yang sampai hari ini masih terus berjuang untuk menyelamatkan ruang hidup dan sumber penghidupan.
Perempuan Wadas menolak keras penambangan di desanya untuk Bendungan Bener sejak tahun 2015.
Bagi mereka, tanah adalah ibu, darah daging mereka, sumber kebahagiaan, sumber keselamatan dan sumber kebijaksanaan hidup. Maka, proyek penambangan batuan andesit dan Bendungan Bener akan menjadi petaka.
Menganyam besek menjadi simbol perlawanan perempuan yang bertekad mempertahankan vegetasi bambu yang terancam proyek penambangan.
Menganyam juga mencerminkan tradisi yang dijaga oleh perempuan Wadas dalam merajut kebersamaan dan perjuangan merawat alam, termasuk menjaga ketersediaan air.
“Kehadiran aparat hari ini di bumi Wadas menunjukkan bahwa negara tidak hadir untuk pemenuhan hak dan kesejahteraan warganya, melainkan untuk merampas kehidupan warga,” ujar Armayanti.
Tindakan represif dan kekerasan yang dilakukan oleh negara terhadap rakyat dalam mempertahankan ruang penghidupannya sangat mungkin akan terus terjadi di wilayah lain termasuk Lampung.
Hal ini mengingat program starategis nasional masih gencar dilakukan oleh pemerintah.
“Sehingga saya rasa kita harus memperkuat konsolidasi gerakan rakyat untuk memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan rakyat atas penghidupannya,” kata dia.
Untuk itu, Perempuan Sebay Lampung mendesak agar :
1. Hentikan intimidasi dan kekerasan di Desa Wadas dan kembalikan barang milik warga yang dirampas paksa oleh Polri.
2. Tarik mundur pasukan Polri dari Desa Wadas.
3. Bebaskan warga dan pendamping yang ditangkap paksa oleh Polsek Bener.
4. Hentikan pengukuran tanah yang dilakukan oleh Tim Pengukur dari Kantor Pertanahan Purworejo dan rencana pertambangan di Desa Wadas, Bener, Purworejo.
5. Pemulihan trauma warga, terutama perempuan dan anak-anak. (Josua)








