oleh

\”Pejuang\” Budaya yang Siap Kembalikan Kelestarian Budaya Lampung

Bandarlampung (Netizenku.com): Kelestarian budaya Lampung saat ini mulai meredup. Hal ini dipicu dengan semakin berkembangnya teknologi dan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat, khususnya pemuda Lampung dalam melestarikan budaya lokal, yakni Lampung.

Berangkat dari situ, Srikandi Partai Hanura, Novelia Yulistin Sanggem yang juga merupakan Ketua Gamolan Institute Lampung, sangat \’ngotot\’ mengembalikan kelestarian budaya asli Lampung yang saat ini terkikis oleh kemajuan zaman.

\”Kita ketahui, di era kemajuan teknologi saat ini, hampir seluruh pemuda di Lampung tidak lagi antusias dengan kebudayaan lokal. Hal ini bisa dilihat dari tidak adanya kegiatan-kegiatan seni dan budaya khususnya lokal yang diinisisi oleh para pemuda di Lampung,\” ucap Novel, yang juga merupakan mantan Ketua Komite Pembebasan Seni dan Budaya Rakyat (KPSBR) Lampung ini, Sabtu (4/8).

Baca Juga  Paisaludin Ikhlas Tanggalkan Jabatan Wakil Ketua I DPRD Pesawaran

Tak hanya itu, kata dia, minimnya wadah bagi para pemuda untuk mengenal kembali kebudayaan Lampung, menjadi salah satu faktor terkikisnya kebudayaan Lampung. \”Saya dan teman-teman dari GIL selalu mendorong agar pemuda dan masyarakat lebih antusias dalam melestarikan budaya Lampung, namun dalam perkembangannya, Pemerintah sepertinya kurang peduli terhadap budaya lokal, hal ini bisa dilihat dari fasilitas dan wadah yang sangat minim,\” ujar Calon Anggota DPRD Kota Bandarlampung dapil Teluk Betung ini.

Baca Juga  KPK dan Penyelenggara Pemilu Tanda Tangan Pakta Integritas Anti Money Politic

Untuk itu, kata dia, jika diberi amanah untuk duduk sebagai legislator DPRD Bandarlampung, semaksimal mungkin dirinya akan memperjuangkan kembali kelestarian budaya daerah. \”Selama ini, saya dan teman-teman GIL selalu berjuang di bidang budaya. Seperti salah satunya mendorong alat musik tradisional Lampung, Gamolan ditetapkan WBTB di UNESCO. Sebab, WBTB Indonesia yang sudah diakui UNESCO belum ada satupun dari Lampung,\” jelasnya.

Baca Juga  Dari Februari hingga Juni, Elektabilitas Herman-Sutono Tertinggi

Namun hal ini tentunya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk persiapan dan penilaian. Bukan hal yang mudah dan singkat. Oleh karena itu, perdebatan nama gamolan bukan lagi persoalan yang harus menjadi perselisihan.

\”PR kita adalah bagaimana Gamolan ini mampu mendunia. Dan cita-cita mulia ini GIL berharap dapat didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, terkhusus untuk para tokoh adat Lampung agar bisa bersama-sama mendorong gamolan menjadi warisan budaya tak benda di UNESCO,\” pungkasnya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *