Pagi masih berembun di Sumberjaya, namun suasana terasa hangat oleh kabar yang dibawa langsung Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus. Di tengah pembagian seragam sekolah gratis untuk siswa SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, di bawah Kemendikbud maupun Kemenag, beliau menyampaikan berita yang membuat rakyat kecil tersenyum lebih lebar dari biasanya.
Lampung Barat (Netizenku.com): Setelah sukses dengan program seragam gratis yang telah dinikmati ribuan pelajar, Parosil kembali membuktikan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan bukan setengah-setengah. Program ini bukan sekadar simbol populis, melainkan hadir di waktu yang tepat, di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Bahkan sekolah swasta pun ikut merasakan manfaatnya. Artinya, Parosil benar-benar tidak pandang bulu dalam mengayomi masyarakat. Dan ternyata, seragam gratis ini baru pintu awal dari sesuatu yang lebih besar.
Beberapa waktu lalu, Pemkab di bawah kepemimpinannya juga telah menggulirkan program beasiswa bagi mahasiswa kedokteran umum serta seni budaya yang diterima di perguruan tinggi negeri. Kini, kabar baik itu diperluas ke bidang kedokteran gigi. Langkah ini penting, sebab profesi-profesi tersebut membutuhkan biaya kuliah yang tidak sedikit. Anak-anak Lampung Barat kini punya peluang lebih luas untuk mengejar mimpi tanpa dihantui masalah biaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kerumunan warga penerima seragam, Parosil melontarkan rencana yang bisa jadi salah satu program paling progresif di bidang pendidikan: “Satu Keluarga Satu Sarjana.” Sasarannya jelas, keluarga penerima bantuan seperti PKH dan BLT, yang selama ini anak-anaknya sulit melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya.
Dengan menggandeng Universitas Terbuka, program ini berusaha memastikan setidaknya ada satu anak dalam setiap keluarga miskin yang bisa menembus gerbang perguruan tinggi. Sebuah terobosan yang, jika dijalankan serius, berpotensi mengubah masa depan banyak keluarga.
Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Tapi niat baik, bila dipadukan dengan kebijakan yang tepat dan pelaksanaan yang jujur, bisa menjadi lompatan besar dalam sejarah pendidikan daerah. Parosil menunjukkan bahwa pembangunan tidak melulu soal infrastruktur, tetapi juga soal sumber daya manusia. Dan pendidikan adalah pintu gerbang utamanya.
Rakyat butuh bukti, bukan janji. Sejauh ini, apa yang dilakukan Parosil Mabsus sudah masuk kategori “bukti yang berjalan.” Seragam gratis bukan lagi kabar burung. Beasiswa kedokteran dan seni budaya sudah dinikmati. Kini, tinggal menunggu apakah program satu keluarga satu sarjana benar-benar bisa diwujudkan dan berkelanjutan.
Kalau iya, bukan mustahil dari dusun-dusun kecil di Lampung Barat akan lahir sarjana, dokter, seniman, hingga pemimpin masa depan yang dulunya hanya bisa bermimpi.
Dan hari ini, mimpi itu mulai terlihat ujungnya. (*)








