RENCANA pembangunan pabrik bioetanol di Lampung memberi harapan Lampung Emas terwujud lebih cepat melalui peningkatan nilai tambah komoditas pertanian yang selama ini terhenti di bahan mentah. Pemerintah Provinsi Lampung menyambut rencana ini dengan optimisme lantaran daerah ini memiliki seluruh prasyarat dasar untuk menjadi pusat industri bioetanol nasional.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan, menegaskan Lampung kaya bahan baku utama etanol. Tebu, jagung, ubi kayu, sorgum hingga sawit tersedia dalam skala luas dan produksinya relatif konsisten. Selama ini, menurutnya, komoditas tersebut belum dikembangkan optimal menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
“Lampung memiliki bahan baku yang lengkap. Selama ini pemanfaatannya masih terbatas. Dengan pabrik etanol, nilai tambah komoditas bisa dinikmati di daerah,” ujar Mulyadi, Jumat, 2 Januari 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Optimisme ini juga ditopang keyakinan bahwa luas lahan pertanian di Lampung cukup memadai untuk menopang kebutuhan industri etanol secara berkelanjutan. Pemerintah daerah berharap proyek ini tidak hanya menghadirkan investasi, tetapi juga membuka ruang kemitraan dengan petani dan koperasi desa, sehingga manfaat ekonomi tidak berhenti di pabrik, melainkan mengalir ke akar rumput.
Namun di balik optimisme tersebut, satu pertanyaan mendasar tetap menggantung adalah kapan rencana ini benar-benar menjadi proyek nyata?
Hingga kini, rencana pembangunan pabrik etanol oleh Toyota di Lampung masih berada pada tahap penjajakan. Yang muncul ke ruang publik baru sebatas pernyataan minat, kajian awal, dan narasi kebijakan. Belum ada keputusan investasi final, belum ada penetapan lokasi secara legal, dan belum ada jadwal pembangunan yang mengikat.
Masalah kuncinya terletak pada kepastian pasar. Industri etanol hanya masuk akal jika kebijakan campuran bioetanol 10 persen (E10) benar-benar diterapkan secara nasional. Tanpa E10 yang wajib dan konsisten, pabrik etanol akan kesulitan menjamin penyerapan produk. Hingga kini, E10 masih berupa rencana, dengan regulasi teknis dan skema harga yang belum sepenuhnya terkunci.
Di sisi lain, Lampung memang unggul secara agraris, tetapi tantangan tata kelola tidak kecil. Produksi singkong dan tebu masih berfluktuasi, harga komoditas kerap bergejolak, dan rantai pasok petani belum sepenuhnya terikat kontrak jangka panjang. Industri etanol membutuhkan kepastian bahan baku bertahun-tahun, bukan sekadar keyakinan musiman.
Pemerintah daerah menyadari tantangan ini. Karena itu, keterlibatan petani dan koperasi desa sejak awal menjadi bagian dari harapan yang terus disuarakan. Jika kemitraan benar-benar dirancang adil dan transparan, proyek etanol berpotensi menjadi instrumen penguatan ekonomi pedesaan, bukan sekadar proyek industri.
Nama Toyota yang dikaitkan dengan rencana ini pun menambah daya tarik. Namun perlu dipahami, Toyota adalah produsen kendaraan, bukan pemain hulu energi. Keterlibatannya sangat bergantung pada kepastian kebijakan dan kematangan ekosistem. Tanpa jaminan pasar dan pasokan, investor sekelas apa pun akan memilih menunggu.
Di titik ini, optimisme Pemprov Lampung menjadi penting sebagai energi pendorong, tetapi ia perlu ditopang oleh peta jalan yang jelas dan terukur. Tanpa itu, rencana pabrik etanol berisiko berhenti sebagai wacana yang berulang dari tahun ke tahun.
Lampung memiliki potensi dan niat. Kini yang diuji adalah konsistensi kebijakan dan keberanian menjadikannya nyata. Hilirisasi bukan soal siapa paling optimistis, melainkan siapa paling siap.***








