Di koperasi yang katanya milik bersama, rasa memiliki itu memang unik. Berlaku saat setor iuran, hilang saat bicara hak. Jadi anggota serasa punya rumah … tapi cuma boleh bayar listriknya saja.
Lampung Barat (Netizenku.com): Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Sai Betik Lampung Barat kembali unjuk gigi. Tanpa rapat anggota, tanpa diskusi, iuran wajib langsung dinaikkan 100 persen mulai April 2026. Keputusan kilat ini membuktikan satu hal: musyawarah itu penting … tapi tampaknya tidak wajib.
Rapat anggota yang katanya jadi “kekuasaan tertinggi” mungkin sekarang sudah berubah fungsi. Bukan lagi tempat mengambil keputusan, tapi sekadar legenda organisasi, sering disebut, jarang terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama ini anggota juga belum pernah merasakan yang namanya bagi hasil. Jadi alurnya sederhana: setor jalan terus, hasilnya jalan di tempat. Kalau pun ada yang butuh dana dan meminjam, bunganya malah lebih tinggi dari bank. Ini koperasi rasa pinjol, tapi tanpa notifikasi harian, langsung kerasa di kantong.
Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala, saat anggota memutuskan berhenti, yang harusnya jadi momen panen setelah puluhan tahun “menanam”, yang terjadi malah sebaliknya. Uang yang disetor bertahun-tahun bukannya berkembang, setoran wajib saja tidak kembali utuh 100 persen. Ibarat nabung di celengan, pas dipecah, isinya bukan nambah … malah berkurang. Ini konsep baru dalam dunia keuangan: investasi rasa ilusi.
Jadi posisi anggota ini sebenarnya apa? Pemilik? Penyumbang tetap? Atau donatur tanpa plakat penghargaan?
Logika sederhananya begini: kalau iuran naik, pelayanan dan manfaat juga harus ikut naik. Tapi di sini, yang naik cuma angka setoran. Hak anggota? Masih setia di posisi “segera hadir”. Bahkan mungkin masih loading.
Kadang rasanya seperti langganan layanan premium yang fiturnya tidak pernah dibuka. Bayar terus, nikmatnya nanti dulu. Dan “nanti”-nya itu entah kapan—mungkin menunggu koperasi ini benar-benar ingat bahwa mereka punya anggota, bukan cuma saldo.
Pada akhirnya, koperasi ini mengajarkan kita satu hal penting: transparansi itu bukan sekadar slogan di spanduk. Dan kepercayaan, sekali retak, susah ditambal, meskipun iurannya sudah dinaikkan dua kali lipat.
Ya semoga saja ke depan ada perubahan. Minimal, kalau uang anggota belum bisa bertambah, jangan sampai logikanya ikut berkurang. Karena kalau itu yang terjadi, yang tersisa dari koperasi ini tinggal satu: kewajiban … tanpa kejelasan. (*)








