Bandarlampung (Netizenku.com): Surat Kabar Harian (SKH) Lentera Swara Lampung telah rampung menggelar rangkaian hari ulang tahun (HUT) ke-10 yang ditandai dengan pembagian hadiah lomba penulisan esai pada Sabtu (17/12) malam di Kafe de Arte, Enggal, Bandarlampung.
Pimpinan Umum SKH Lentera Swara Lampung, Hendri Std, menjelaskan bahwa dirinya dan tim sengaja memperingati HUT ke-10 SKH Swara Lampung dengan cara yang tak biasa.
Menurut dia, surat kabar memang sudah semestinya konsen terhadap hal yang berbau jurnalistik, bukan malah memberi penghargaan terhadap pemerintah atas kinerjanya terhadap masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pada waktu yang berdekatan, beberapa media di Lampung juga merayakan hari jadi mereka. Ada yang menggelar gerak jalan dan senam, ada juga yang memberi penghargaan terhadap kinerja pemerintah. Kami tak melakukan itu, sebab tugas pemerintah itu ya memberi kinerja dan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Kru redaksi memilih melawan arus meski ada konsekuensi tentunya,” ujar pemilik koran yang lahir pada 1 November itu.
Ia juga menjelaskan bahwa SKH Lentera Swara Lampung bukan baru-baru ini menghelat kegiatan jurnalistik secara akbar. “Pada HUT ke-9 kami menggelar diskusi di Tulangbawang Barat dengan tema “Peran Literasi dalam Pembangunan Daerah”. Kami melibatkan berbagai elemen masyarakat di Lampung, dan kegiatan itu dihadiri ratusan pelajar Tubaba,” jelas penulis buku berjudul #Kawanlama tersebut.
Sementara itu, ketua panitia Wahyu Indarto, menjelaskan bahwa pendaftaran lomba penulisan esai HUT ke-10 SKH Lentera Swara Lampung dengan tema “Desa adalah Masa Depan Indonesia” diikuti 215 peserta yang berasal dari 15 kabupaten/kota di Lampung.
“Pendaftaran dan pengiriman naskah esai dimulai sejak tanggal 1-30 November 2022. Kemudian tahapan penilaian dewan juri dimulai pada 1-7 Desember 2022,” kata dia.
Ia juga mengatakan bahwa penilaian naskah dilakukan se-objektif mungkin dan menggunakan metode blind vote (menilai tanpa mengetahui identitas penulis).
“Penilaian dilakukan oleh para pelaku jurnalistik yakni Fitri restiana dan Andry Kurniawan tanpa mengetahui identitas penulis dengan mempertimbangkan berbagai aspek pada tulisan. Dewan juri baru mengetahui siapa dan apa setelah panitia mengumumkan nominasi juara.
Dari 215 naskah esai yang telah melalui proses penilaian, kami menetapkan 13 nominasi juara dengan rincian juara 1 mendapat hadiah uang tunai sebesar 3 juta rupiah, komputer tablet dan bingkisan. Juara 2 mendapat uang tunai 2 juta rupiah, komputer tablet dan bingkisan. Juara 3 mendapat uang tunai 1 juta rupiah, komputer tablet dan bingkisan. Kemudian 10 karya terbaik mendapat komputer tablet dan bingkisan,” jelas Wahyu.
Ia pun meminta maaf kepada calon peserta yang dengan berat hati tidak bisa mengikuti lomba lantaran batas waktu pengiriman naskah yang telah ditentukan panitia.
“Sebenarnya masih ada puluhan naskah yang terpaksa kami tolak lantaran dikirim di luar jadwal atau melewati waktu yang telah ditentukan panitia. Kami memohon maaf dan mengucapkan terimakasih atas segala bentuk partisipasi semua pihak,” pungkas Wahyu.
Diketahui, kegiatan lomba menulis esai dengan tema “Desa adalah Masa Depan Indonesia” tersebut, bekerjasama dengan Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin, dan tokoh pemuda di Lampung, Deddy Wijaya Candra.
Pada kesempatan tersebut turut hadir Deddy Wijaya Candra, Ketua PWI Lampung Wirahadi Kusuma, perwakilan Diskominfotik Kota Bandarlampung dan Diskominfotik Provinsi Lampung. Juga turut hadir jajaran direksi Bank Lampung dan para pelaku jurnalistik di Lampung. (Agis)








