Dari Ladang ke Tangki, Dari Ubi ke Energi: Lampung Nyalakan Harapan Baru lewat Etanol

Ilwadi Perkasa

Minggu, 2 November 2025 - 22:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aroma perubahan mulai terasa di hamparan ladang singkong di Lampung.  Si umbi yang selama ini hanya dikenal sebagai sumber pangan pendukung (bukan utama), pelan-pelan menapaki takdir baru, menjadi sumber energi yang bisa menggerakkan masa depan. Dari satu ton singkong, tersimpan potensi 180 hingga 200 liter etanol, energi cair yang nilainya bisa mencapai Rp1,8 hingga Rp2 juta per ton. Nilai ini dua kali lipat dibanding jika dijual mentah. Bila industri etanol tumbuh, harga di tingkat petani pun bisa naik ke kisaran Rp1.400–1.600 per kilogram, menghadirkan napas segar bagi jutaan keluarga petani di Lampung.

Lampung sejatinya memiliki semua prasyarat untuk melangkah lebih jauh. Lahan yang luas, industri tapioka yang tersebar di berbagai kabupaten, serta infrastruktur jalan dan pelabuhan yang kian baik membuat provinsi ini layak menjadi pusat energi hijau berbasis pertanian. Bila hanya sepuluh persen dari produksi singkong diolah menjadi etanol, nilai tambahnya bisa melampaui Rp1 triliun per tahun, sebuah angka yang bukan hanya menggerakkan ekonomi daerah, tetapi juga memperkuat daya tahan fiskal dan kesejahteraan masyarakat.

Narasi itu bukan omong kosong, justru cerdas dan realistis. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam Rapat Percepatan Investasi Bioetanol bersama Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu dan Menteri Koperasi serta UKM Ferry Juliantono di Jakarta beberapa waktu menyatakan siap gaspol menggarap potensi itu.

Baca Juga  Pemprov Lampung Dorong Persaingan Usaha Sehat untuk Perkuat Investasi dan Hilirisasi

Dalam forum itu, Mirza menegaskan bahwa Lampung telah menyiapkan ratusan ribu hektare lahan untuk pengembangan bahan baku bioetanol dari singkong, tebu, hingga jagung. Lampung “rajanya” tiga komoditi tersebut. Lampung merupakan produsen utama singkong nasional, peringkat kedua untuk tebu, dan ketiga untuk jagung. Namun, sebagian besar potensi itu masih tertahan di hulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sudah memiliki dua perusahaan etanol yang beroperasi, tetapi serapannya terhadap hasil pertanian lokal masih kecil. Akibatnya, pasokan melimpah di tingkat petani dan harga menjadi tertekan. Karena itu, keterhubungan industri bioetanol ini menjadi penting,” ujar Mirza.

Dari sisi pusat, dukungan datang bertubi. Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menilai koperasi petani dapat menjadi tulang punggung rantai pasok bioetanol nasional. Dengan koperasi, energi terbarukan bisa tumbuh dari bawah, dari tangan-tangan petani sendiri.

Sementara Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menyebut Indonesia kini memasuki era bahan bakar E10, campuran 10 persen etanol dalam bensin, dengan potensi pasar domestik mencapai 3–4 juta kiloliter per tahun. Dukungan dari industri otomotif juga kian nyata. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, misalnya, menyatakan kesiapannya terlibat dari hulu hingga hilir untuk memastikan pasokan bahan baku bioetanol tetap terjaga.

Baca Juga  PDI Perjuangan Lampung Selatan Bagikan Masker dan Bentuk Tim Mitigasi Gunung Anak Krakatau

Tantangan dan Efek Positif Ke-ekonomian

Tantangan terbesar memang ada pada sisi biaya. Harga produksi etanol lokal dari singkong atau tebu saat ini berkisar Rp9.000–11.000 per liter, sedikit lebih tinggi dibanding etanol impor dari Brasil atau Amerika Serikat yang berada di kisaran Rp6.000–7.000. Namun jika dilihat dari dampak nasional, etanol lokal jauh lebih efisien. Ia menghemat devisa impor energi, membuka lapangan kerja di desa, dan menggerakkan ekonomi lokal. Bahkan bila dicampur dengan bensin, pengaruhnya terhadap harga di SPBU nyaris tak terasa. Jika bensin Rp10.000 per liter dan etanol Rp11.000, campuran E10 hanya akan naik menjadi sekitar Rp10.100, cuma naik “cepek” atau satu persen yang bisa diimbangi lewat mekanisme harga patokan atau subsidi silang.

Yang justru perlu diwaspadai adalah gelombang etanol impor murah yang bisa menekan produksi dalam negeri. Karena itu, pemerintah perlu memberi proteksi yang memadai, dari kewajiban Pertamina menyerap etanol lokal lebih dulu hingga pengenaan bea masuk impor, agar industri bioetanol di daerah tidak mati sebelum tumbuh.

Baca Juga  Gubernur Mirza Buka Road to Give 2026 di Pesawaran, Dorong Semangat Berbagi

Pada akhirnya, rendahnya harga singkong selama ini bukan karena petani berproduksi terlalu banyak, melainkan karena nilai tambahnya berhenti di ujung cangkul. Selama singkong dijual mentah, nilainya akan selalu rendah. Tapi ketika diolah menjadi energi, nilainya berlipat, pasarnya stabil, dan kesejahteraan bisa menetes ke bawah. Melalui hilirisasi bioetanol, semua pihak diuntungkan. Petani mendapat harga lebih baik, daerah memperoleh pendapatan tambahan, negara menghemat devisa, dan masyarakat melangkah menuju energi bersih.

Lampung kini berada di garis depan perubahan itu. Dengan dukungan pemerintah pusat dan semangat daerah yang kuat, provinsi ini berpeluang menjadi pionir energi hijau berbasis rakyat. Etanol singkong bukan hanya bahan bakar alternatif, tapi lambang kemandirian baru, bahwa dari ladang-ladang rakyat, bangsa ini mampu menyalakan api masa depan dengan energinya sendiri. Di masa depan, ubi bukan lagi sekadar pangan rakyat, melainkan sumber energi, harapan, dan kebangkitan ekonomi Lampung.***

Berita Terkait

Limbah PT Indo Thai Coco Diduga Cemari Sumur Warga, DPRD Lampung Desak DLH Bertindak
Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas
RSUDAM Pastikan Pembayaran Remunerasi Pegawai Sesuai Verifikasi
Pemprov Lampung Perkuat SDM Desa Lewat Program Satu Desa Satu Sarjana dan Hafiz Quran
Putra Jaya Umar Dorong Penindakan Tegas Jaringan Narkoba yang Libatkan Anak
Gubernur Mirza Buka Road to Give 2026 di Pesawaran, Dorong Semangat Berbagi
Cegah Rabies, Petugas Jemput Bola Vaksinasi Hewan Peliharaan di Lampung Selatan
Sampah Organik Lampung Dibidik Jadi Pupuk, Dorong Ekonomi Pertanian

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Limbah PT Indo Thai Coco Diduga Cemari Sumur Warga, DPRD Lampung Desak DLH Bertindak

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:55 WIB

RSUDAM Pastikan Pembayaran Remunerasi Pegawai Sesuai Verifikasi

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Pemprov Lampung Perkuat SDM Desa Lewat Program Satu Desa Satu Sarjana dan Hafiz Quran

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Gubernur Mirza Buka Road to Give 2026 di Pesawaran, Dorong Semangat Berbagi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:53 WIB

Cegah Rabies, Petugas Jemput Bola Vaksinasi Hewan Peliharaan di Lampung Selatan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Sampah Organik Lampung Dibidik Jadi Pupuk, Dorong Ekonomi Pertanian

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:40 WIB

Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol MTI Resmi Dikukuhkan di Lampung

Berita Terbaru

Pringsewu

Bupati Pringsewu Ajukan R-APBD 2027 Senilai Rp1,138 Triliun

Senin, 5 Okt 2026 - 18:09 WIB