oleh

Anjau Silau, Metode Pembinaan Preventif di Lapas Gunung Sugih

Lampung Tengah (Netizenku): Tingginya jumlah hunian di dalam lapas (over crowded) sangat rentan gesekan antar penghuni lapas yang berdampak pada gangguan keamanan dan ketertiban.

Kondisi ini langsung disikapi oleh pejabat di Lapas Gunung Sugih untuk memimpin instansinya dengan metode memimpin dengan hati, mengutamakan pendekatan kekeluargaan dengan mengakomodir budaya lokal yang dikenal dengan Anjau Silau.

Baca Juga  Program Jempol Layani Masyarakat Lamteng

Hal ini disampaikan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas III Gunung Sugih, Syarpani saat meninjau Kamar Hunian.

\”Over crowded ini perlu metode khusus untuk menanganinya,\” tutur Syarpani, Kamis (29/3).

Syarpani menjelaskan, dalam bahasa Lampung, anjau silau berarti saling datang berkunjung.

Dalam pengertian umum, melalui anjau silau, petugas dan warga binaan saling berkunjung untuk menjalin komunikasi sebelum terjadi gangguan keamanan (konflik).

Baca Juga  Pameran Alutista Tutup Bhakti Sosial TNI AL di Bandar Agung

Sementara, silau merupakan suatu kegiatan menengok dan memantau keadaan tertentu yang biasanya dilakukan berulang-ulang, sehingga dapat diartikan anjau silau merupakan kegiatan silaturahmi, berkunjung, sekaligus memantau keadaan.

\”Saling silaturahmi, pendekatan kekeluargaan dan saling berbagi adalah metode yang tepat untuk mengetahui jika terdapat keluhan dalam pelayanaan. Saya sudah perintahkan seluruh pejabat struktural untuk menjemput bola ke blok hunian untuk menanyakan keluhan dan memastikan hak hak terpenuhi,\” ujarnya.

Baca Juga  Chrisna Putra Pimpin Rakor Kominfo se-Lampung

\”Saya pikir ini bagus untuk diadopsi dalam kepemimpinan,\” tambahnya.

Diketahui, Anjau silau awalnya digagas oleh Raja Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong, Edward Syah Pernong saat menjadi Kapolda Lampung.(Sansurya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *