Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, hingga Semester I Tahun 2026 menunjukkan serapan terbesar berasal dari jenis Urea dan NPK Phonska.
Tulang Bawang Barat (Netizenku.com): Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Tubaba, penyaluran pupuk Urea telah mencapai 4.028.746 kilogram atau sekitar 49 persen dari total alokasi. Sementara pupuk NPK Phonska terealisasi 7.505.187 kilogram atau 47 persen.
Kepala Dinas TPHP Tubaba, Sarwo Haddy Sumarsono, melalui Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian Wilayah Tubaba, Tri Meriyanto, mengatakan ketersediaan pupuk bersubsidi secara umum masih mencukupi kebutuhan petani karena kuota yang diberikan pemerintah telah disesuaikan dengan usulan melalui sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Secara umum alokasi pupuk bersubsidi yang diberikan pemerintah telah mencukupi kebutuhan komoditas pertanian di Kabupaten Tubaba, karena besaran kuota disesuaikan dengan usulan petani melalui sistem e-RDKK,” ujar Tri Meriyanto, Jumat (24/07/2026).
Kabupaten Tubaba pada Tahun 2026 memperoleh alokasi pupuk bersubsidi sebanyak 8.240.319 kilogram Urea, 16.046.119 kilogram NPK Phonska, 30.855 kilogram ZA, dan 2.915.326 kilogram pupuk Organik.
Sementara itu, realisasi pupuk Organik baru mencapai sekitar 9 persen, sedangkan pupuk ZA belum terealisasi hingga Semester I Tahun 2026.
Tri menjelaskan, belum tersalurkannya pupuk ZA bukan disebabkan kendala distribusi di daerah. Hal tersebut terjadi karena pemerintah pusat belum melakukan pengiriman pupuk ZA ke Tubaba, mengingat alokasinya diprioritaskan untuk kebutuhan petani tebu pada Musim Tanam (MT) III.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat terkait jadwal distribusi pupuk ZA. Jika sudah disalurkan, pupuk tersebut akan segera didistribusikan sesuai alokasi yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Dari sembilan kecamatan penerima pupuk bersubsidi, Kecamatan Tumijajar menjadi wilayah dengan alokasi terbesar. Hal ini sejalan dengan posisi Tumijajar sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Tubaba yang membutuhkan pasokan pupuk lebih tinggi.
Untuk realisasi penyaluran, Kecamatan Batu Putih mencatat capaian tertinggi pada pupuk Urea dengan serapan mencapai 70 persen, disusul Pagar Dewa 67 persen, Way Kenanga 60 persen, dan Gunung Agung 58 persen.
Sementara pada pupuk NPK Phonska, Batu Putih juga menjadi wilayah dengan realisasi tertinggi mencapai 58,6 persen, kemudian Pagar Dewa 53,7 persen, Way Kenanga 51 persen, dan Gunung Agung 50,8 persen.
Tri Meriyanto menambahkan, pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi dilakukan secara berjenjang melalui Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) bersama penyuluh pertanian lapangan. Pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan pupuk diterima oleh petani yang telah terdaftar dalam sistem e-RDKK.
Menurutnya, kendala yang masih ditemukan bukan pada ketersediaan stok pupuk, melainkan kemampuan sebagian petani dalam melakukan penebusan saat pupuk tersedia di kios resmi.
“Penyuluh terus mendorong kelompok tani agar membiasakan menabung secara bertahap sehingga ketika musim tanam tiba, petani sudah memiliki kesiapan biaya untuk menebus pupuk,” katanya.(*)








