Pemandangan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Bandar Lampung kian memprihatinkan. Kendaraan pengangkut barang hingga mobil pribadi terpaksa mengantre berhari-hari demi mendapatkan solar subsidi.
Lampung (Netizenku.com): Kondisi ini memicu reaksi keras dari Anggota DPRD Provinsi Lampung, Budiman AS. Ia mendesak PT Pertamina (Persero) untuk segera transparan dan buka-bukaan kepada publik mengenai penyebab kelangkaan bahan bakar tersebut.
Menurut Budiman, kelangkaan solar subsidi di Bandar Lampung ini sudah masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan. Antrean truk yang memakan badan dan bahu jalan tidak hanya memicu kemacetan parah, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mereka bekerja untuk mencari nafkah keluarga. Kalau harus mengantre solar sampai berhari-hari, jelas sangat merugikan. Distribusi logistik bisa lumpuh karena armada tidak beroperasi normal,” ujar Ketua DPC Demokrat Bandar Lampung ini, Kamis (18/6).
Selain sopir truk, Anggota Komisi I DPRD Lampung ini juga menyoroti nasib para nelayan. BBM subsidi merupakan urat nadi bagi kapal-kapal nelayan untuk melaut. Ketika pasokan tersendat, otomatis aktivitas melaut terhenti dan langsung menghantam perekonomian keluarga mereka.
Budiman meminta Pertamina tidak tinggal diam dan segera membeberkan akar masalahnya. Masyarakat dan pelaku usaha berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Ia mempertanyakan beberapa kemungkinan pemicu kekosongan stok di SPBU, mulai dari adanya lonjakan konsumsi akibat migrasi pengguna BBM non-subsidi, terjadinya kendala pada jalur distribusi, hingga kemungkinan kuota solar subsidi yang memang sudah menipis.
“Kami butuh penjelasan yang terang benderang dari Pertamina. Apa penyebab utamanya? Jangan sampai masyarakat kecil terus yang menjadi korban,” tegas Budiman.
Ia berharap Pemerintah Daerah dan Pertamina segera duduk bersama untuk merumuskan langkah konkret. Solusi cepat sangat dibutuhkan agar roda perekonomian masyarakat yang bergantung pada solar subsidi bisa kembali berputar normal. (*)








