Sumbang Pikir untuk Keberlanjutan Ubi Kayu Lampung: “Menata Hilir, Menguatkan Hulu”

Ilwadi Perkasa

Jumat, 31 Oktober 2025 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumbang Pikir untuk Keberlanjutan Ubi Kayu Lampung:

Sumbang Pikir untuk Keberlanjutan Ubi Kayu Lampung: "Menata Hilir, Menguatkan Hulu"

Pemerintah Provinsi Lampung sedang menyiapkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Tata Kelola dan Hilirisasi Ubi Kayu. Regulasi ini akan menjadi dasar bagi penetapan Harga Acuan Pembelian (HAP) atau Harga Hasil Panen (HHP) ubi kayu di seluruh provinsi. Langkah ini penting, sebab selama bertahun-tahun harga ubi kayu di Lampung berfluktuasi tanpa kendali yang jelas. Namun, kebijakan harga saja tidak cukup. Perlu adanya pengaturan tambahan perbaikan  di hulu, berupa instruksi gubernur atau peraturan teknis dari dinas terkait.

Pergub memang menjawab kebutuhan jangka pendek, memberikan kepastian bagi petani agar tidak lagi dirugikan oleh permainan harga lapak dan industri. Namun tetap berisiko ketidakpastian di tengah harga global tapioka yang terus tertekan. Untuk itu perlu adanya pengaturan yang menyentuh akar persoalan, yaitu rendahnya produktivitas, ketimpangan kualitas, dan ketidakteraturan siklus panen antar wilayah.

Ubi kayu adalah komoditas strategis Lampung dengan luas panen lebih dari 300 ribu hektare dan produksi mencapai 8–9 juta ton per tahun. Tetapi produktivitasnya masih jauh dari potensi terbaik.

Baca Juga  405 ASN Pemprov Lampung Dilantik, Gen Z Didorong Jadi Energi Baru Birokrasi

Sebagian besar petani masih menghasilkan 20–25 ton per hektare, padahal dengan varietas unggul dan budidaya terencana, hasil bisa menembus 40 ton per hektare.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesenjangan itu terjadi karena tidak adanya pengaturan dan pendampingan yang konsisten di tingkat hulu. Petani menanam tanpa memperhitungkan pola musim, varietas, dan umur panen. Akibatnya, sebagian besar panen dilakukan terlalu din, di bawah umur 10 bulan yang membuat kadar pati rendah dan kualitas umbi turun. Kondisi ini bukan hanya merugikan petani, tetapi juga industri pengolahan yang membutuhkan bahan baku berkualitas.

Di sinilah pentingnya pengaturan tambahan di luar Pergub. Harga tidak akan efektif jika tidak diikuti dengan kebijakan produksi. Pemerintah daerah perlu mengeluarkan instruksi gubernur atau peraturan teknis dari dinas pertanian dan perkebunan untuk mengatur tiga hal penting.

Pertama, penentuan masa tanam dan masa panen berbeda antar wilayah produksi. Dengan pembagian waktu tanam yang terencana, Lampung bisa menghindari panen serentak yang selalu menyebabkan harga jatuh di tingkat petani. Pasokan yang bergelombang akan membuat harga lebih stabil dan memberi ruang industri untuk menyerap hasil panen secara bertahap.

Baca Juga  Batin Wulan Lantik Pengurus PMI Kota Metro 2026–2031, Tekankan Kesiapsiagaan Bencana

Kedua, penetapan varietas unggul spesifik lokasi. Lampung memiliki banyak kantong produksi, seperti Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, dan Tulangbawang, dengan kondisi tanah yang berbeda. Varietas yang cocok di satu wilayah belum tentu optimal di wilayah lain. Kebijakan varietas unggul akan memastikan produktivitas meningkat dan kualitas umbi seragam.

Ketiga, program peningkatan kualitas dan produktivitas yang melibatkan penyuluh pertanian, lembaga riset, dan industri hilir.

Pergub harga hanya akan bermakna jika petani menghasilkan ubi kayu yang sesuai standar industri, baik dari kadar pati maupun ukuran umbi.

Pergub tentang harga memang memberi kepastian jangka pendek. Tetapi tanpa pengaturan masa tanam dan varietas, Pergub bisa kehilangan daya dorongnya. Harga acuan akan sulit diterapkan jika kualitas ubi kayu di lapangan tidak seragam. Industri akan keberatan membeli dengan harga tinggi untuk bahan baku berkadar pati rendah.

Baca Juga  Pemprov Lampung Perkuat Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat

Karena itu, politik harga harus disertai politik produksi. Pemerintah perlu menyeimbangkan antara perlindungan harga dan peningkatan kapasitas produksi.

Dua hal itu tidak dapat dipisahkan adalah harga yang stabil hanya akan bertahan jika pasokan terjaga, dan pasokan yang baik hanya tercapai jika produktivitas meningkat.

Ubi kayu adalah jantung ekonomi pedesaan Lampung. Ia menggerakkan rantai panjang dari petani kecil hingga industri besar tapioka dan pakan ternak. Karena itu, kebijakan di sektor ini harus berpikir jangka panjang. Pergub memang pondasi penting, tetapi ekosistem produksi yang berkelanjutan hanya bisa terwujud melalui kombinasi antara regulasi harga, pengaturan tanam, dan pembinaan kualitas.

Gubernur Lampung sudah memastikan akan mengambil langkah berani dengan mengatur harga. Langkah berikutnya adalah mengatur waktu dan cara tanam, agar setiap hektare yang ditanami menghasilkan nilai tambah lebih besar.

Dengan demikian, Lampung tidak hanya menjadi provinsi penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia, tetapi juga daerah dengan sistem pertanian yang paling terkelola, produktif, dan berkeadilan.

Berita Terkait

Komisi V DPRD Lampung Dorong Direktur Baru RSUDAM Lanjutkan Program Pendahulu
Razia Kendaraan di Lampung Sasar Kelengkapan STNK dan Pajak
Pemkot Bandar Lampung Sosialisasikan Bahaya Liquid Vape ke Sekolah Mulai 21 Oktober
Gubernur Lampung Instruksikan Percepatan Penanganan Karhutla dan Penguatan Mitigasi
Jihan Nurlela Perkuat Penanganan Karhutla TNWK, 350 Personel Gabungan Dikerahkan
HUT ke-18 PIRA Lampung, Salurkan 100 Paket Sembako dan Tebar Benih Ikan di Pesawaran
Batin Wulan Promosikan Mocaf dan Ikan Cobia Lampung di Ajang Kuliner Internasional
Rezki Wirmandi: Di Balik Kesibukan Politik, Keluarga Tetap Jadi Rumah untuk Pulang

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Bupati Tanggamus Pastikan Relokasi Pasar Talang Padang Berlanjut, Pedagang Digratiskan Sewa Selama 12 Bulan

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:55 WIB

Delapan Siswa SMPN 1 Talangpadang Alami Keluhan, Sampel Makanan Diuji Laboratorium

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:52 WIB

Tanggamus Jajaki Beasiswa dan Investasi dengan Turki

Senin, 20 Juli 2026 - 20:35 WIB

RSUD Batin Mangunang Akui Minim Sosialisasi SOP Pelayanan

Kamis, 16 Juli 2026 - 18:32 WIB

DPRD Tanggamus Setujui LKPj Bupati 2025, Rekomendasikan Perbaikan Kinerja Pemerintahan

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:37 WIB

Sekda Tanggamus Minta Pekon Prioritaskan Layanan Kesehatan Primer

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:59 WIB

PBI BPJS Kesehatan Dinonaktifkan, Dinsos Tanggamus Sarankan Warga Beralih Sementara ke Peserta Mandiri

Senin, 22 Juni 2026 - 20:19 WIB

Tanggamus Raih WTP Kedua Berturut-turut, Bupati Dorong Transparansi APBD

Berita Terbaru

Pringsewu

Wabup Pringsewu Imbau Orangtua Hargai Proses Tumbuh Kembang Anak

Selasa, 20 Okt 2026 - 19:13 WIB

Lampung Selatan

HUT ke-62 Golkar, DPD Lampung Selatan Santuni 20 Anak Yatim-Piatu

Selasa, 20 Okt 2026 - 12:49 WIB

Tulang Bawang Barat

Pemkab Tubaba Siapkan Anggaran Pelaksanaan Putusan MA Terkait SDN Pagar Dewa

Senin, 19 Okt 2026 - 19:11 WIB