Di Lampung, peristiwa langka terjadi ketika kelompok pendidikan justru mengalami deflasi sangat dalam hingga -15,10 persen. Indeks harga pendidikan turun dari 108,59 pada Agustus 2024 menjadi 92,19 pada Agustus 2025. Fenomena ini berlangsung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi tahun ke tahun (yoy) Lampung pada Agustus 2025 hanya 1,05 persen, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,33 persen. Inflasi Lampung masih ditopang kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan angka 4,12 persen, terutama dari bawang merah, beras, dan tomat. Sementara itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya justru mencatat inflasi tinggi hingga 6,76 persen.
Yang mengejutkan, kelompok pendidikan menjadi penekan inflasi melalui deflasi tajam. Hal ini dipicu kebijakan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang melakukan restrukturisasi biaya sekolah dengan menghapus Uang Komite. Langkah tersebut meringankan beban masyarakat sekaligus menurunkan indeks biaya pendidikan, sebuah kondisi yang jarang sekali terjadi dalam catatan statistik daerah.
BPS melaporkan, dari empat subkelompok pendidikan, dua mengalami deflasi yakni pendidikan dasar dan anak usia dini sebesar -1,77 persen serta pendidikan menengah yang anjlok hingga -51,23 persen. Sebaliknya, pendidikan tinggi justru naik 11,95 persen dan pendidikan lainnya 4,30 persen. Secara keseluruhan, kelompok pendidikan menyumbang deflasi yoy sebesar 0,98 persen, terutama dari SMA, SMP, dan SD.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena ini semakin menarik bila dibandingkan dengan kondisi nasional. Pada Agustus 2025, kelompok pendidikan justru mencatat inflasi yoy sebesar 1,43 persen. Tiga subkelompok mengalami kenaikan, dengan inflasi tertinggi pada pendidikan lainnya sebesar 3,06 persen, sementara hanya pendidikan menengah yang mengalami deflasi tipis sebesar -0,40 persen. Artinya, ketika secara nasional biaya pendidikan meningkat, Lampung justru melawan arus dengan deflasi yang dalam.
Kelangkaan peristiwa ini membuat era Rahmat Mirzani Djausal tercatat unik dalam sejarah statistik Lampung. Pendidikan yang biasanya identik dengan kenaikan biaya, justru menjadi motor deflasi yang menekan inflasi daerah.***








