BERBAGI
Seminar Kebencanaan: Generasi Muda Pelopor Tanggap Bencana
Seminar Kebencanaan Nasional UPT MKG Institut Teknologi Sumatera (Itera) secara dalam jaringan, Jumat (9/10). Foto: Netizenku.com

Bandarlampung (Netizenku.com): Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia Prof Ir Dwikorita Karnawati  menekankan bahwa salah satu kunci dalam mitigasi bencana nasional adalah generasi muda.

Ia meminta generasi muda terutama mahasiswa mampu memahami mitigasi kebencanaan, hingga menjadi pelopor tanggap bencana di masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Kebencanaan Nasional yang diadakan UPT MKG Institut Teknologi Sumatera (Itera) secara dalam jaringan, Jumat (9/10).

“Generasi muda harus berperan handal dalam mitigasi bencana. Generasi muda harus paham apa-apa saja tantangan yang harus dihadapi mengenai kebencanaan yang patut diwaspadai di Indonesia,” ujar Dwikorita yang juga penerima penghargaan Itera Adi Karsa Madya dalam Dies Natalis Ke-6 Itera, beberapa waktu lalu.

Seminar nasional kebencanaan yang dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Non Akademik, Prof Dr Sukrasno MS, tersebut merupakan rangkaian Dies Natalis Ke-6 Itera , dan menjadi Seminar Kebencanaan online ke-3 yang diadakan UPT MKG Itera.

Dalam seminar tersebut UPT MKG Itera menghadirkan beberapa ahli kebencanaan dan mitigasi bencana nasional, serta mengundang badan terkait seperti BPBD, Kepala Stasiun BMKG di Provinsi Lampung meliputi Stasiun Meteorologi, Stasiun Klimatologi, Stasiun Geofisika dan Stasiun Meteorologi Maritim  serta komunitas sukarelawan Lampung.

Pemateri kunci Prof Dwikorita yang membawakan materi “Peran Generasi Muda Sebagai Penopang Pembangunan Berkelanjutan dan Pelopor Tanggap Bencana dalam Bidang Meteorologi,Klimatologi, dan Geofisika” menekankan bahwa  kompleksitas cuaca di Indonesia yang berdampak pada La Nina dan El nino dapat menambah secara masif peningkatan curah hujan di Indonesia yang dapat mengakibatkan bencana.

Untuk itu perlu disiapkan generasi muda yang benar-benar handal berperan untuk pengurangan risiko bencana.

“Mohon agar para generasi muda memahami apa yang dihadapi di kepulauan Indonesia. Fenomena meteorologi dan klimatologi sangat kompleks dan dinamis terlihat adanya pengaruh Samudra Pasifik-Hindia terjadinya aliran udara basah dan aliran masa-masa yang masif di kepulauan Indonesia,” ungkap Prof Dwikorita.

Generasi muda diharapkan mau memperdalam ilmu-ilmu yang terkait tentang information communication teknologi sebagai integrasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang saat ini berkembang ke arah artificial inteligence dalam mitigasi bencana alam.

Ia mencontohkan adanya sistem instrumen New Generation yaitu sistem untuk memberikan informasi gempa bumi 5 sampai 4 menit setelah gempa terjadi.

Sehingga apabila gempa berpotensi tsunami bisa diketahui secara dini sehingga mitigasi bisa dilakukan dengan cepat.

“Silakan generasi muda menemukan sistem-sistem yang baru untuk dapat menyelamatkan jiwa manusia,” tutup Prof. Dwikorita.

Sementara pemateri lainnya, Kepala Laboratorium Divisi Geoteknik LIPI Dr Adrin Tohari MEng memaparkan perkembangan mitigasi bencana tanah longsor di Indonesia.

Adrin menyebut hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan LIPI sejak 2009 – 2017 teknologi pembangunan bahaya tanah longsor sangat penting karena teknologi inilah yang akan membantu mengurangi risiko.

Tanah longsor tidak hanya satu bentukan saja, akan tetapi bisa mempunyai bentuk yang berbeda di tiap-tiap daerah yang dipengaruhi oleh kondisi geologi hidrologi dan juga kemiringan lereng. Tanah longsor juga bisa dibagi menjadi sangat-sangat lambat hingga yang sangat cepat dengan kecepatan dari 16 mm pertahun hingga mencapai 5 meter perdetik.

“Untuk bisa menetapkan suatu sistem peringatan dini yang efektif maka kita perlu memahami jenis longsornya, pergerakannya seperti apa, apakah bergerak cepat atau bergerak lambat sehingga nantinya semua data dapat digunakan untuk deteksi dini dan menghasilkan peringatan dini yang efektif,” ujar Dr Adrin.

Pemateri ketiga Prof Ir Sri Widiyantoro yang merupakan Kepala Pusat Studi Gempa Nasional/PusGEN/ Kelompok Keahlian Geofisika Global, FTTM-ITB menyebut Indonesia yang memiliki kepulauan yang sangat banyak dan dilalui ring of fire, perlu menjadi dorongan agar generai muda melakukan studi bencana.

Pusat Studi Gempa Nasional bersama badan terkait juga telah melakukan instalasi 10 Broadband Seismic Stations di Januari untuk memperkuat jaringan kegempaan di Indonesia bersama 6 Broadband Seismic BMKG yang telah terinstal sebelumnya.

Pada paparan materi ini juga dibahas mengenai potensi tsunami selatan Pulau Jawa yang berpotensi memiliki ketinggian 20 meter atau “Implications For Megathrust Earthquakes and Tsunamis From Seismic Gaps South of Java Indonesia” hasil kolaborasi antara lain Prof Nick Rawlinson (Universitas Cambridge), Prof Sri Widiyantoro (ITB), Dr Pepen Supendi (BMKG) dan beberapa peneliti lain yang terkait.

Kepala Kantor Pertolongan dan Pencarian (SAR) Kelas A, Basarnas Lampung Jumaril, menjelaskan mengenai landasan hukum serta potensi SAR yang bisa dilakukan generasi muda sebagai langkah dalam mitigasi bencana dan kecelakaan.

Kepala Basarnas Lampung berpesan agar generasi muda mampu merencanakan dengan baik aktifitas yang akan dilaksanakan, terutama saat menjadi sukarelawan tanggap bencana.

Pada Seminar Nasional Online UPT MKG ini juga diumumkan pemenang dari kompetisi fotografi nasional.

Juara I diraih oleh Rendi Prayoga dari Universitas Negeri Padang, Juara II diraih oleh Rahmad Arizki dari Institut PLN , serta Juara III diraih oleh Jubey Simanjuntak yang berasal dari DEL Institute.

Kepala UPT MKG Drs Zadrach L Dupe berharap kegiatan seperti ini akan menjadi kegiatan yang akan terus diselenggarakan serta peningkatan kegiatan menuju international event untuk mengenalkan Itera kepada masyarakat luas. (Josua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here