“Seistimewa Apa Batik Garuda Lambar?

Avatar

Kamis, 17 November 2022 - 21:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setelah lama tidak main ke lingkungan perkantoran Pemkab Lampung Barat (Lambar), ternyata membuat kangen. Maka setelah “bos” di redaksi menyampaikan tekad akan kembali all out mengelola media yang dia pimpin, saya yang ditugaskan di wilayah setempat ikut terpantik menapak tilas ranah kerja yang telah saya geluti 18 tahun terakhir.

Tujuan pertama masuk komplek perkantoran yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah adalah kantin. TKP favorit para PNS -baik pejabat maupun staf- untuk ngopi pada saat jam kerja. huft!

Saya ingat saat menjejakkan kaki di kantin jarum jam menunjuk pukul 10.00 WIB. Di sana sudah terlihat cukup banyak orang. Beberapa di antaranya mengenakan seragam putih. Tak tanggung-tanggung mereka itu mulai dari staf sampai pejabat eselon II.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain ngopi, ngudut, ternyata banyak obrolan yang dapat menjadi sumber berita bagi wartawan. Salah satu topik yang membuat saya tertegun datang dari pengakuan para PNS itu. Agaknya, mereka sedang menumpahkan uneg-uneg. Curhatannya seputar pemberlakuan terhadap PNS Lambar yang diwajibkan membeli “batik Garuda”.

Baca Juga  Lampung Dapat Apa dari MBG?

Kebijakan itu ternyata dianggap mengusik “ketenangan” mereka. Bahkan salah satu PNS yang sudah menduduki jabatan cukup tinggi mengaku kalau Batik Garuda merupakan baju termahal yang pernah dia punya, tetapi ironisnya justru merupakan baju dengan dasar terjelek.

Sebutan baju “termahal sekaligus terjelek” sontak memancing saya untuk ikut nimbrung di obrolan. Saya mengutip sebuah ungkapan, bukankah “Ada harga ada rupa”. Tak dinyana pernyataan saya langsung ditimpali oleh rekan PNS lainnya. “Itu kalau kita beli baju bukan diproyekan,” tukasnya.

Mendengar sanggahan tersebut saya makin tertarik. Sebenarnya saya sudah mendengar informasi kewajiban bagi PNS di Lambar untuk membeli Batik Garuda. Awalnya saya mengira itu baru sebatas wacana. Rupanya dugaan saya keliru. Kebijakan itu sudah dieksekusi. Wajib dijalankan.

Baca Juga  Saat Struktur Lebih Gemuk dari Kinerja: Lampung Barat Butuh Perombakan

Sebelum lebih jauh mengulasnya, saya perlu menggaris bawahi bahwa nama Garuda yang satu ini bukan merk. Tapi lebih pada pilihan istilah yang dipakai kalangan PNS kebanyakan. Lantaran di batik itu akan tergambar desain sebentuk burung Garuda.

‘Kenapa kok bisa dibilang mahal tapi jelek,” kejar saya, “Emang berapaan harga dasarnya?”

Pertanyaan ini langsung disambar PNS lain. “Untuk ukuran batik dengan kualitas serupa itu ya jelas mahal. Kain dasarnya aja dipatok Rp460 ribu. Belum lagi mesti ditambah ongkos jahit Rp200 ribu. Jadi total jenderal harganya Rp660 ribu buat selembar pakaian batik pegawai negeri. Celakanya, sudah mahal tapi kualitasnya gitu! saya kira lima kali dicuci juga gambar burung Garuda-nya sudah terbang alias terhapus,” selorohnya.

Harga fantastis itu menurut mereka jelas kurang bijaksana. Apalagi kondisi keuangan kebanyakan PNS di lingkup Pemkab Lambar sedang tidak baik-baik saja, mengingat sudah dua bulan belakangan mereka belum menerima Tunjangan Kinerja (Tukin).

Baca Juga  Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api

“Ampun pokoknya, sejak bos baru ini tiga bulan terakhir beban kami semakin berat. Semua jadi wajib, bahkan sudah ada pula surat edaran dari pejabat eselon II sampai staf harus menyediakan hadiah buat HUT Korpri nanti. Padahal saban bulan gaji kami sudah kena potong untuk iuran Korpri, yang kami sendiri tidak tahu digunakan untuk apa,” keluh PNS lainnya lagi.

Saya cuma bisa nyengir mendengar keluhan bertubi-tubi itu. Dalam hati saya bergumam, puas-puasin sumpah serapah, karena cuma itu yang mereka bisa. Selebihnya terpaksa harus ditelan walau getir. Sebab, belum tentu keluh kesah itu didengar atau bahkan sampai menyentuh hati si inisiator batik Garuda. “Sabarin aja, Bro,” batin saya. (Iwan Setiawan)

Berita Terkait

Bunda Eva (Memang) Bukan Margaret Thatcher
Skandal Setoran TPP Guru TK Tanggamus Terbongkar
Sekber Pantau MBG Lampung, “Nggak Ada Gunanya?”
Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api
Pemkab Lampung Selatan Tekankan Sinergi Pusat-Daerah di Hari Otda
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Minta MBG Berlanjut Puluhan Tahun, Gurih ya?
Saat Keputusan Gubernur Tentang MBG Lampung Diteken, Ratusan Siswa Keracunan
MBG Lampung Beruntung “Dikawal” Duet Kakak Beradik

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 12:49 WIB

Pemprov Lampung Kunci Anggaran BPJS Kesehatan Rp125 Miliar di 2026, Jamin Warga Tak Putus Berobat

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:49 WIB

Konsolidasi di Anak Ratu Aji, Golkar Lampung Tengah Targetkan Menang Pemilu

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:05 WIB

Gubernur Lampung Ajak Kemenkeu Orkestrasi Hilirisasi dan Ekonomi Lampung

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:38 WIB

Komitmen Gubernur Lampung Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis di Lampung

Senin, 18 Mei 2026 - 21:25 WIB

DPRD Lampung Soroti Peningkatan Kasus HIV

Senin, 18 Mei 2026 - 15:39 WIB

I Made Suarjaya Minta Kisruh Pimpinan Lamteng Diselesaikan

Senin, 18 Mei 2026 - 14:41 WIB

Pemprov Lampung Dukung Percepatan Koperasi Merah Putih

Senin, 18 Mei 2026 - 14:14 WIB

Sekber Konstituen Dewan Pers Provinsi Lampung Datangi KPPG

Berita Terbaru

Pringsewu

Bupati Pringsewu Dukung Polda Lampung Tindak Tegas Pelaku Begal

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:52 WIB