BERBAGI
Sedikitnya 734 Anak di Bandarlampung Menderita Gizi Buruk
Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana memberikan sambutan pada acara Rembuk Stunting di Ruang Tapis Pemkot setempat, Selasa (4/5). Foto: Netizenku.com

Bandarlampung (Netizenku.com): Pemerintah Kota Bandarlampung menggelar Rembuk Stunting untuk memastikan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegahan dan penurunan stunting dilakukan secara bersama-sama antara organisasi perangkat daerah (OPD) penanggung jawab layanan dengan sektor/lembaga non-pemerintah dan masyarakat.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, menetapkan Surat Keputusan (SK) Menteri PPN/Bappenas Nomor 42/M.PPN/HK/04/2020 tentang Penetapan Perluasan Kabupaten/Kota Lokasi Fokus Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi Tahun 2021.

Melalui SK yang diteken pada 9 April 2020 tersebut, percepatan penurunan stunting akan dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Indonesia termasuk Provinsi Lampung.

Ada 10 wilayah dari 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung yang masuk dalam Perluasan Kabupaten/Kota Lokasi Fokus Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Tahun 2021.

Yaitu Kabupaten Way Kanan, Tulang Bawang, Pringsewu, Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Tengah, Tanggamus, Lampung Utara, Pesawaran, dan Kota Bandarlampung.

Dari 20 kecamatan dan 126 kelurahan se-Kota Bandarlampung, terdapat 11 kelurahan yang tersebar di 4 kecamatan sebagai Lokus Stunting Tahun 2021 dengan jumlah anak stunting 734 jiwa.

Yaitu Kecamatan Telukbetung Timur (Kota Karang Raya, Sukamaju, Way Tataan), Kecamatan Panjang (Kuala, Ketapang, Way Lunik), Kecamatan Tanjungkarang Barat (Segala Mider, Susunan Baru), Kecamatan Kedaton (Sidodadi, Sukamenanti, Sukamenanti Baru).

Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana usai membuka kegiatan Rembuk Stunting di Ruang Tapis, Selasa (4/5), mengatakan masyarakat harus tetap waspada dan tidak lengah untuk mencegah stunting.

“Pengarahan kita berikan kepada ibu-ibu hamil untuk mencegah jangan sampai terjadi lagi, anak sehat ibu juga sehat,” ujar Eva Dwiana.

Stunting, merujuk pada kondisi kekurangan gizi kronis di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), tidak hanya memengaruhi tinggi badan balita, tetapi juga berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan dan kesehatan dalam jangka panjang.

“Ibu hamil kita pantau karena layanan gratis kan mereka rajin datang ke Puskesmas. Ini kita akui kerjasama masyarakat juga cukup baik,” kata dia.

Data Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung Tahun 2020 menyebutkan prevalensi stunting pada anak bawah dua tahun sepanjang 2016-2019 mengalami penurunan. Di 2016 (21.20), 2017 (23.80), 2018 (26.38), 2019 (6.1) persen.

“Ini (kerja) luar biasanya Dinas Kesehatan dan Puskesmas, pusat dan OPD yang tupoksinya berjalan lancar,” kata Eva Dwiana. (Josua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here