Pesawaran (Netizenku.com): Perekrutan pendaftaran calon mitra statistik guna kegiatan survei/sensus di Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tahun 2024 yang dilaksanakan pada 12 November 2023, diduga adanya permainan oleh pihak BPS Kabupaten Pesawaran. Ini dibuktikan ada salah satu peserta yang jelas-jelas namanya muncul dan diterima oleh BPS pusat, namun saat dicek di BPS kabupaten namanya menghilang .
Seperti yang dialami Ahmad Nurdin, warga Desa Sidodadi, Kecamatan Waylima, yang merupakan salah satu peserta yang akan direkrut menjadi mitra untuk kegiatan survey dan sensus tersebut. Ia menuding BPS Pesawaran tidak transparan dalam melakukan perekrutan, bahkan diduga telah sengaja menghilangkan namanya dari daftar peserta yang diterima.
“Pastinya saya tidak terima dengan keputusan dari BPS Pesawaran, yang tanpa dasar dan alasan telah menganulir saya, sebagai peserta yang diterima pada kegiatan tersebut,” ucap Ahmad Nurdin, usai mendatangi Kantor FMPB Pesawaran, dalam rangka melaporkan nasibnya atas masalahnya tersebut, Jumat (15/12/23).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalahnya kata Nurdin, pada pengumuman yang dikeluarkan oleh BPS Pusat, namanya jelas-jelas tercantum sebagai pendaftar peserta, yang diterima dalam program kegiatan survey dan sensus tersebut.
“Ada apa ini, sudah jelas saya lihat nama saya ada dalam daftar peserta yang diterima yang dikeluarkan oleh BPS Pusat, kok bisanya di daftar yang dikeluarkan oleh BPS Pesawaran, ngapa nama saya mendadak bisa hilang begitu, tanpa ada kejelasannya,” keluhnya.
Sementara Ketua Harian Forum Masyarakat Pesawaran Bersatu (FMPB) Pesawaran, Saprudin Tanjung, terkait atas apa yang dialami Nurdin ini mengatakan, pihaknya akan segera mendatangi Kantor BPS Pesawaran, guna menindak lanjuti laporan yang telah disampaikan Ahmad Nurdin ke lembaganya tersebut.
“Ya, kita akan segera menindak lanjuti laporan tersebut. Kita ingin membuktikan kebenaran dari tata cara dan mekanisme yang diterapkan BPS, dalam perekrutan peserta survey dan sensus itu,” ucap Tanjung.
Sebab kata Tanjung, tidak menutup kemungkinan adanya permainan yang dilakukan pihak BPS, yang terkesan tidak transparan dalam melakukan perekrutan peserta itu. Tidak itu saja pihaknya juga menduga masih banyak peserta lain yang bernasib sama dengan Ahmad Nurdin, yang belum atau tidak tahu ke mana harus melapor dan mengadukan nasibnya atas ulah BPS yang sangat merugikan dirinya.
“Kita yakini masih banyak korban lain, yang bernasib sama dengan Nurdin, akibat ulah yang dilakukan BPS dalam melaksanakan perekrutannya, yang kita duga dilakukan secara tidak transparan tersebut. Kesan adanya permainan yang dilakukan BPS, sangat terlihat dengan tidak adanya ketransparanan dalam perekrutan itu, nah ini nanti yang akan kita buktikan kebenarannya,” pungkasnya. (soheh )








