Nurhayatun Nufus, Kembangkan Seni Merawat Budaya Lampung

Suryani

Kamis, 25 September 2025 - 21:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Nurhayatun Nufus, Pegiat Seni dan Budaya Lampung. Foto: Ist.

Muhammad Nurhayatun Nufus, Pegiat Seni dan Budaya Lampung. Foto: Ist.

Meskipun usianya masih muda, Muhammad Nurhayatun Nufus telah banyak mendedikasikan dirinya untuk kemajuan budaya di Lampung. Melalui ide kreatifnya, ia telah mengangkat budaya Lampung ke tingkat nasional bahkan dunia.

Lampung (Netizenku.com): Sebanyak sepuluh anak berkostum biru muda menari lincah di depan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Diiringi tabuhan Talo Balak, anak-anak asli Kecamatan Jabung, Lampung Timur, itu menari pada acara Hari Ulang Tahun Provinsi Lampung ke-61.

“Bisa dikatakan saya adalah satu-satunya seniman yang mengangkat kebudayaan Jabung, Lampung Timur,” kenang Nufus bangga pada saat ditemui di rumahnya, Sabtu (24/5/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tari Cetik Deghani adalah satu dari banyaknya karya Nufus yang mengangkat kebudayaan Lampung.

Awal Mula Mengenal Seni

Nufus mulai mengenal dunia seni pada saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Di kampungnya, ia dikenal sebagai vokalis qasidah pada grup hadrah Al-Hikmah.

Kepiawaiannya dalam melantunkan selawat membuat ia sering dipanggil ke berbagai acara. Bahkan jika kelompok qasidah lain tidak ada vokalisnya, Nufus akan diminta sebagai penggantinya.

“Walau cakupannya di tingkat desa, tapi sudah bisa melatih mental saya,” kata Nufus dengan antusias.

Untuk mengembangkan bakatnya, saat duduk di bangku SMP ia bergabung dengan sanggar seni tari di Kabupaten Lampung Utara. Dari sanggar ini, ia mulai mengenal seni tari.

Berbagai kompetisi dan gelaran budaya pernah ia ikuti. Modal ini juga yang membuat Nufus mendapatkan beasiswa pada saat

melanjutkan pendidikan di jenjang sekolah menengah atas. “Alhamdulillah dari sertifikat-sertifikat itu saya bisa mendapatkan beasiswa,” terangnya.

Baca Juga  Setahun Kepengurusan IJP Lampung, Dari Solidaritas Menuju Kontribusi

Di tempatnya yang baru, MAN 1 Lampung Utara, Nufus semakin berkembang. Meski masih sebagai siswa baru, pengalaman yang ia dapatkan sebelumnya membuat ia dipercaya untuk membimbing berbagai kegiatan tari.

Pengalaman adalah guru terbaik, Nufus semakin mencintai kesenian. Ia memantapkan diri untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Ia melanjutkan pendidikan di Program Studi Seni Tari Universitas Lampung. Atas prestasinya di masa sekolah, Nufus mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

Sebagai mahasiswa baru, Nufus harus tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Unila. Sedangkan kampus ia belajar jaraknya harus ditempuh dengan dua kali naik angkot.

Untuk menutupi kebutuhannya tersebut ia berjualan gorengan. “Lumayan, bisa buat menutup ongkos angkot setiap hari,” imbuhnya.

Aktivitas ini ia jalankan selama kurang lebih satu tahun pertama pada masa kuliah.Di tahun berikutnya, Nufus memilih tinggal di indekos yang lebih dekat dengan kampusnya. Di kamar berukuran 2,5×3 meter inilah ia merintis sebagai pekerja seni.

Ia mulai ikut bergabung dengan sanggar-sanggar dan menerima pekerjaan sebagai penari lepas. “Menari kan hobi saya, jadi ya seperti bukan bekerja. Tapi menambah pengalaman dan relasi,” terangnya.

Selama menerima pekerjaan menari, Nufus tidak pernah berorientasi pada uang. Jika beruntung, uang sebesar Rp80.000–Rp100.000 bisa dikantongi. Tapi kadang juga hanya sekadar makan gratis. “Lumayan tiap minggu kita bisa makan daging,” kelakarnya.

Merintis Karir sebagai Profesional

Bagi pria kelahiran Kotabumi, 30 tahun silam itu, kesulitan selama menempuh pendidikan di perkuliahan bukanlah sebuah hambatan.

Baca Juga  Empat Kandidat Ramaikan Perebutan Ketua Apindo Lampung

Kepiawaiannya dalam mengolah tubuh dalam gerakan tari membukakan peluang besar untuknya berkarir. Banyaknya pekerjaan yang ia ambil saat masa perkuliahan membuat

Nufus bertemu banyak pegiat seni di Lampung. Relasi itulah yang kemudian ia jaga untuk membesarkan namanya sebagai seniman dan budayawan asal Lampung.

Meskipun berasal dari Program Studi Pendidikan Seni Tari, Nufus memilih untuk tidak menjadi guru. Mencoba menjadi guru telah ia rasakan ketika awal setelah selesai kuliah, namun kemudian dia memilih untuk tidak melanjutkannya.

Nufus merasa waktunya banyak terkuras saat menjadi guru, sehingga ide-ide kreatif yang tiba-tiba datang kerap tidak terealisasi.

“Gimana ya, bukannya nggak mau, tapi nggak ada waktu untuk mengeksekusi ide-ide yang sudah terkumpul di pikiran. Toh, rezeki kan nggak hanya dari satu jalan. Nggak harus menyerok ikan di kolam yang sama,” jelas Nufus.

Kostum-kostum tari dengan sentuhan wastra budaya memenuhi rumahnya yang minimalis berukuran sekitar 8×6 meter. Sebagian digantung di dalam lemari, sebagian lagi dibiarkan menggantung pada palang besi.

Sisanya, baju-baju lawas ia tumpuk di dalam kardus. Ada juga mesin jahit yang ia gunakan

untuk membuat baju-baju tari. Barang-barang ini adalah saksi, bagaimana Nurhayatun Nufus serius menggeluti dunia seni.

Sanggar Nuvusa Etnika adalah langkah awal Nufus memulai karir profesional di bidang bisnis kreatif ini. Nufus bukan sekadar menari, namun ia mengangkat budaya Lampung ke permukaan.

Ia telah menciptakan sejumlah tarian yang mengangkat budaya Lampung dalam berbagai acara. Kupak Kapay, Melinting Agung, Tari Keagungan 1200 Tahun Borobudur, The Aesthetic of East Lampung dan Harmoni Sai Bumi Khua Jurai adalah contoh tarian yang pernah ia ciptakan.

Baca Juga  Lampung Raih WTP ke-12 Berturut-turut

Kecintaannya terhadap dunia seni ini tak terbatas pada tarian. Nufus juga mengembangkan kreativitasnya dalam memajukan wastra Lampung. Rancangan busana yang dipadukan dengan wastra

Lampung telah membawanya ke panggung nasional bahkan internasional.

Karyanya berhasil melenggang dalam gelaran Indonesia Fashion Week pada tahun 2023 dan 2024, serta acara JIEXPO di Kemayoran. Selain itu Nufus juga telah mewakili Indonesia dalam perhelatan seni budaya tingkat internasional pada ajang Festival Music and Dance di Kathmandu, Nepal. Kemudian pada acara King Abdul Aziz Festival di Arab Saudi, dan empat negara lain seperti Kyrgyzstan, Thailand, Malaysia, dan Australia.

“Kalau sudah cinta, apapun pasti dilakukan. Nggak bisa dihitung dengan materi apapun. Dan kalau kita melakukan sesuatu yang baik, nantinya akan kembali ke kita, kok,” tuturnya.

Nufus mengatakan bahwa semua yang ia lakukan di dunia kesenian bukan semata-mata untuk eksistensi dirinya secara pribadi. Namun juga untuk merawat budaya, terutama budaya Lampung–tempat ia berasal.

Nufus berharap, agar kalangan pemuda sadar bahwa apa yang telah diberikan untuk tanah

kelahirannya. Tidak terpaku pada kesenian, hal apapun itu yang dapat berdedikasi. Ia juga berpesan, bahwa setiap orang mempunyai bakat dan keahliannya masing-masing.

“Carilah tempat di mana kita bersinar terang. Dan seni adalah jalan yang saya pilih untuk bersinar,” tutupnya. (*)

Penulis: Fathur Rohman Fauzi, siswa SMAN 1 Way Kenanga.

Berita Terkait

DPRD Lampung Apresiasi Program Pupuk Organik Cair, Dinilai Tingkatkan Hasil Panen
Mikdar Ilyas, Liburnya Program MBG Berdampak pada Harga Hasil Pertanian di Lampung
Temu Wilayah Pesantren Warnai Harlah ke-28 PKB, Perkuat Sinergi Ciptakan Lingkungan Aman
Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB
Gubernur Lampung Dorong POC dan Hilirisasi Demi Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Mirzani, Petani Harus Nikmati Hasil, Bukan Hanya Menanggung Risiko
Imelda Minta Publik Bijak Sikapi Informasi Gunung Anak Krakatau
Elly Wahyuni Minta Disdik Tegas terhadap Sekolah yang Paksa Siswa Beli Seragam

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:55 WIB

DPRD Lampung Apresiasi Program Pupuk Organik Cair, Dinilai Tingkatkan Hasil Panen

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:47 WIB

Mikdar Ilyas, Liburnya Program MBG Berdampak pada Harga Hasil Pertanian di Lampung

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:07 WIB

Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB

Selasa, 7 Juli 2026 - 16:14 WIB

Gubernur Lampung Dorong POC dan Hilirisasi Demi Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Selasa, 7 Juli 2026 - 16:05 WIB

Mirzani, Petani Harus Nikmati Hasil, Bukan Hanya Menanggung Risiko

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:11 WIB

Imelda Minta Publik Bijak Sikapi Informasi Gunung Anak Krakatau

Senin, 6 Juli 2026 - 21:06 WIB

Elly Wahyuni Minta Disdik Tegas terhadap Sekolah yang Paksa Siswa Beli Seragam

Senin, 6 Juli 2026 - 15:32 WIB

Wahrul Fauzi Siap Maju Pimpin Karang Taruna Lampung, Usung Pemberdayaan Pemuda dan 1.000 UMKM

Berita Terbaru

Pringsewu

Wabup Pringsewu Gelar Penetrasi Pasar Kendalikan Inflasi

Kamis, 9 Jul 2026 - 11:16 WIB

Bandarlampung

Disdikbud Bandar Lampung Fasilitasi Siswa Tak Lolos PPDB

Kamis, 9 Jul 2026 - 00:05 WIB