Merajut Sinergisitas Jaga Taman Nasional Way Kambas

Redaksi

Rabu, 23 Desember 2020 - 09:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gajah jinak Taman Nasional Way Kambas di Desa Braja Harjosari, Selasa (22/12), yang dimanfaatkan untuk menghalau gajah liar yang akan memasuki desa. Foto: Netizenku.com

Gajah jinak Taman Nasional Way Kambas di Desa Braja Harjosari, Selasa (22/12), yang dimanfaatkan untuk menghalau gajah liar yang akan memasuki desa. Foto: Netizenku.com

Bandarlampung (Netizenku.com): Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan luas kurang lebih 125 ribu hektar dikelilingi 38 desa penyangga di Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur.

Permasalahan utama dalam pengelolaan TNWK adalah berkurangnya habitat dimana kebakaran hutan menjadi penyebab utama yang terjadi hampir setiap tahun selama dua dekade semenjak 1980-an.

Kebakaran hebat pernah terjadi di 1997 menghabiskan hampir 70 persen wilayahnya. TNWK berupaya melakukan reforestasi sejak 2010 di empat lokasi kawasan TNWK yaitu Mataran Bungur, Bambangan, Sandat, dan Susukan Baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Data Balai TNWK menyebutkan aktifitas perlindungan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melibatkan masyarakat di sekitar melalui Masyarakat Mitra Polhut (Polisi Kehutanan), penanaman tumbuhan pionir dan tumbuhan tahan pai, pemeliharaan tanaman dan pengurangan pertumbuhan alang-alang, serta pelibatan dan pelatihan masyarakat untuk bekerja di Program Reforestasi.

Sejak 2010, ada beberapa areal reforestasi yang sudah dilakukan, di Bungur SPTN II seluas kurang lebih 100 hektar dengan penanaman tumbuhan pionir, serta pakan gajah. Sekat kanal juga dilakukan di Bambangan, Sandat dan Susukan Baru seluas kurang lebih 50 hektar.

Ancaman Karhutla disebut Damsir selaku Fasilitator Wilayah Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera Tengah Selatan menjadi persoalan utama yang penting untuk dilakukan penanganan cepat.

“Kalau kita amati persoalan yang penting, ancaman serius di TNWK, saat ini, adalah kebakaran hutan dan lahan. Karhutla ini berakibat terganggunya juga ruang hidup satwa kunci di sana,” ujarnya dalam temu media, Senin (21/12), di Desa Labuhan Ratu 6, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur.

Baca Juga  Eva Dwiana Pastikan Semua Anak Tetap Bersekolah di SMP Negeri

Beberapa upaya dilakukan mitra yang didanai oleh TFCA juga fokus pada pengamanan kawasan, tidak hanya pada ancaman karhutla namun juga ancaman lainnya seperti perburuan, perambahan, dan pembalakan.

“Ada tim patroli ya dari teman-teman mitra, tidak hanya soal karhutla tapi juga pengamanan kawasan dan biodiversity yang ada di dalamnya. Ada juga dari Masyarakat Mitra Polhut, mereka para mitra ini melakukan kegiatan dalam kawasan. Ada yang per-15 hari, bervariasi tergantung kebutuhannya,” kata dia.

\"Merajut

Sinergisitas dukungan para pihak dalam pengelolaan TNWK juga dilakukan dalam mekanisme pembentukan Forum Rembug Desa Penyangga yang melibatkan 24 desa di Kabupaten Lampung Timur yang akan mulai berjalan di 2021 mendatang.

TNWK dengan satwa kunci yang khas di antaranya badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus) dan beruang madu (Helarctos malayanus) menjadi kebanggaan masyarakat Provinsi Lampung.

Populasi badak sumatra dinyatakan termasuk dalam kategori konservasi terancam punah (critically endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau Unit Internasional untuk Konservasi Alam.

Hasil analisis berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan lapangan yang dilakukan oleh ALeRT, RPU-YABI dan Patroli Resort lingkup Balai TNWK, estimasi populasi badak sumatra di TNWK pada 2019 terdapat 18-20 individu.

Baca Juga  HUT ke-344 Kota Bandar Lampung, Pemuda Panca Marga Raih Penghargaan di Momen Menuju Indonesia Emas

Data ini berdasarkan temuan ukuran tapak, jarak titik temuan dan didukung data kamera trap pada tahun 2019.

Jumlah ini di luar 7 ekor badak sumatra yang berada di pusat penangkaran badak sumatra atau Suaka Rhino Sumatra (SRS) TNWK.

\"Merajut

Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) Way Kambas, Arif Rubianto, menyebutkan badak sumatra paling sulit untuk diidentifikasi, karena tingkat perjumpaan yang rendah dan sampel terbatas.

\”Badak ini sangat sensitif dan kita butuh pembanding dengan yang ada di SRS, ternyata karakter morfologi, sifat dan kebiasaannya berbeda tiap individu. Memang perlu dengan cara khusus, baik melalui kamera trap, dengan software semacam artificial inteligent yang menganalisa data-data temuan di lapangan,” ujar Arif Rubianto.

Identifikasi dari cuplikan kamer trap tidak akan dapat dengan mudah untuk mengidentifikasi badak sumatera, karena jika dari cula, bisa saja patah sehingga mengalami pengecilan, dari liputan kulit juga tidak ada tanda-tanda khusus, sementara ditutupi dengan bekas kubangan sehingga jika ada bekas luka atau tanda lain di kulit tidak akan dapat terlihat jelas.

“Butuh puluhan clip dengan posisi foto yang tepat untuk identifikasinya, ada juga melalui DNA. Akan tetapi sampel yang diperoleh harus fresh. Misalnya feses harus kurang dari satu hari, urin juga harus kurang dari satu jam, rambut butuh ketelitian tinggi agar tidak tercampur sampah, darah dari bekas luka juga masih jaranglah,” lanjut Arif.

Baca Juga  Ratusan Ribu Warga Padati Jalan Sehat HUT Kota Bandar Lampung ke-344

Kesulitan identifikasi individu ini juga disebut Arif menjadi salah satu tantangan dalam melakukan Rencana Aksi Darurat (RAD) Penyelamatan Badak.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam hal ini Ditjen KSDAE telah membuat rencana aksi darurat melalui Surat Keputusan Dirjen KSDAE Nomor: SK.421/KSDAE/SET/KSA.2/12/2018 Tanggal 6 Desember 2018 tentang Rencana Aksi Darurat (RAD) Penyelamatan Badak Sumatera tahun 2018 – 2021.

Rencana aksi penyelamatan badak sumatra di TNWK mencakup upaya penangkapan individu badak sumatera dalam kondisi produktif, dan menggabungkan badak-badak tangkapan ke dalam sarana conservation breeding atau SRS.

Tujuannya adalah untuk mempercepat pengembangbiakan badak di SRS Way Kambas serta menghindari perkawinan sedarah (Inbreeding), perkawinan ini dapat menyebabkan hilangnya keragaman genetika khususnya badak sumatra.

“RAD tetap berjalan, sesuai rencana. Tapi butuh data awal individu harus jelas, jangan sampai niatnya menyelamatkan tapi fatal bagi badaknya. Karena harus jelas individu mana yang harus ditargetkan, diselamatkan. Secara umum akan tetap jalan terus. Persoalan timnya, pelatihan peralatan dan lainnya ini juga harus diperhatikan,” jelas Arif.

RAD ini juga mendapatkan dukungan dari KEHATI melalui pendanaan TFCA Sumatera dan TFCA Kalimantan. Saat ini TFCA Sumatera Wilayah Tengah-Selatan bekerja dengan mitra di delapan taman nasional (TN) di antaranya TN Kerinci Seblat, TN Bukit Tigapuluh, TN Tesso Nilo, TN Berbak Sembilang, TN Bukit Barisan Selatan, TN siberut, TN Tesso Nilo, dan Semenanjung Kampar. (Josua)

Berita Terkait

Konvoi 30 Jeep PPM Jadi Magnet Festival Budaya HUT ke-344 Kota Bandar Lampung
GKPI Bandar Lampung Gelar Pesta Gotilon, Hidupkan Semangat Marsiadapari
Bunda Eva Tinjau MBG, Pastikan Makanan Layak dan Berkualitas
Disdikbud Bandar Lampung Fasilitasi Siswa Tak Lolos PPDB
Eva Dwiana Pastikan Semua Anak Tetap Bersekolah di SMP Negeri
Ratusan Ribu Warga Padati Jalan Sehat HUT Kota Bandar Lampung ke-344
Jalan Sehat HUT Bandar Lampung Siapkan Hadiah Rumah dan Mobil
Rayakan HUT ke-344, Warga Bandar Lampung Sukses Bikin Kota Jadi ‘Pelangi’ Pagi-Pagi

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:30 WIB

DPRD Lampung Dorong Investasi Bioetanol Berujung pada Kesejahteraan Petani

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:39 WIB

DPRD Lampung Minta Pemprov Perkuat Sektor Energi, Potensi Migas Dinilai Sangat Menjanjikan

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:26 WIB

Biosolar B50 Mulai Didistribusikan ke Seluruh SPBU di Lampung, Pasokan Naik Jadi 2.797 KL per Hari

Senin, 20 Juli 2026 - 02:39 WIB

Chusnunia Ramaikan Nobar Final Piala Dunia Bersama Santri di Bandar Lampung

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:56 WIB

Golkar Lampung Tengah Panaskan Mesin Politik, Pasang Target 15 Kursi DPRD

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:58 WIB

Soroti Kinerja APBD 2025, Fraksi Golkar DPRD Lampung Desak Evaluasi Menyeluruh

Kamis, 16 Juli 2026 - 18:14 WIB

Guru PPPK Keluhkan Penempatan, DPRD Lampung Minta Pemerintah Bertindak

Kamis, 16 Juli 2026 - 18:01 WIB

Pemprov Lampung Gelar Nobar Semifinal Piala Dunia, UMKM Ikut Terdongkrak

Berita Terbaru

Tanggamus

RSUD Batin Mangunang Akui Minim Sosialisasi SOP Pelayanan

Senin, 20 Jul 2026 - 20:35 WIB