Lampung Menimbang Padi dan Jagung, Say Goodbye Singkong

Ilwadi Perkasa

Jumat, 12 September 2025 - 19:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Say Goodbye, Singkong

Say Goodbye, Singkong

Harga singkong di Lampung yang terus terpuruk membuat pemerintah daerah mencari jalan keluar baru. Gubernur Rahmat Mirzani mendorong petani mulai beralih menanam padi dan jagung yang dinilai lebih menguntungkan. Arahan ini terkesan realistis karena kedua komoditas tersebut memiliki harga dasar yang dijamin pemerintah. Namun di lapangan, peralihan tanaman pangan bukan perkara mudah sebab infrastruktur air masih minim, lahan singkong mayoritas tadah hujan, dan biaya investasi untuk irigasi sangat besar.

Anjloknya harga singkong membuat keresahan petani kian mendalam. Kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan harga dasar Rp1.350 per kilogram belum mampu menjadi penyangga. Pabrikan masih menolak dengan alasan mutu rendah, sementara harga tapioka internasional tetap lemah. Kondisi ini menempatkan Pemerintah Provinsi Lampung dalam dilema, apakah terus mempertahankan singkong sebagai komoditas unggulan atau membuka jalan baru bagi petani.

Di tengah kebuntuan itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani memberikan arahan yang dianggap lebih realistis. Ia mendorong petani beralih menanam tanaman pangan lain seperti padi dan jagung. Pertimbangannya sederhana, harga dua komoditas itu dijamin oleh pemerintah sehingga risiko gejolak pasar relatif kecil dibanding singkong. Secara makro, kebijakan ini juga selaras dengan program ketahanan pangan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, alih komoditas tidak bisa dilakukan seketika. Tantangan paling besar adalah ketersediaan air. Lahan singkong di Lampung sebagian besar berada di kawasan tadah hujan yang jauh dari jaringan irigasi teknis. Untuk mengubahnya menjadi sawah atau ladang jagung, diperlukan investasi besar dalam bentuk sumur bor, pompanisasi, dan bendungan kecil. Tanpa itu, imbauan alih tanam berpotensi menambah beban petani yang sudah terjepit oleh harga singkong murah.

Selain infrastruktur air, masalah lain adalah kesiapan petani. Bertahun-tahun menanam singkong, mereka membangun keterampilan dan jaringan pasar tersendiri. Peralihan ke padi atau jagung berarti butuh adaptasi teknologi, bibit, hingga akses pasar yang baru. Tanpa pendampingan intensif, perubahan pola tanam bisa memicu kerugian di tahun-tahun awal.

Jalan Tengah bagi Pemprov Lampung

Jika alih komoditas dianggap solusi strategis, Pemprov Lampung perlu menyiapkan beberapa langkah konkret. Peta Ulang Lahan untuk mengidentifikasi lahan singkong mana saja yang potensial dialihkan ke padi atau jagung, terutama yang dekat dengan sumber air atau mudah dibangun irigasi sederhana.

Penting menyiapkan infrastruktur air secara masif  melalui program sumur bor dan jaringan irigasi. Tanpa air, padi dan jagung hanya akan menjadi retorika.

Selain itu perlu adanya subsidi benih unggul, pupuk, dan pelatihan bagi petani perlu diberikan secara masif agar transisi tidak menyulitkan.  Pemprov juga harus memastikan akses pasar bagi jagung dan padi Lampung, misalnya lewat kerja sama dengan Bulog, industri pakan, dan penggilingan padi.

Baca Juga  Bendungan Marga Tiga Belum Beroperasi, DPRD Lampung Soroti Peresmian Seremonial

Perubahan tidak harus dilakukan secara total. Bisa dimulai dengan diversifikasi sebagian lahan singkong tetap dipertahankan, sebagian lagi dicoba untuk padi atau jagung.

Realistis tapi Butuh Modal Besar

Arah kebijakan untuk mendorong petani alih komoditas memang terkesan lebih logis dibanding mempertahankan singkong yang harganya terus tertekan. Namun, tanpa dukungan modal besar untuk infrastruktur, arahan ini sulit diwujudkan. Pemprov Lampung perlu menggandeng pemerintah pusat, BUMN, dan swasta untuk membiayai transisi besar-besaran ini.

Jika langkah itu berhasil, Lampung bisa keluar dari bayang-bayang gejolak harga singkong dan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun jika hanya berhenti sebagai imbauan tanpa eksekusi nyata, petani akan kembali menanggung beban, dan potensi unjuk rasa tetap menghantui.

Perbandingan Proyeksi Keuntungan Petani

1. Singkong (Risiko tinggi karena harga fluktuatif, pasar dikendalikan pabrikan, dan bergantung pada harga tapioka dunia.)

– Produktivitas rata-rata: 20–25 ton per hektar per tahun (sekali panen, umur 8–10 bulan).
– Harga jual saat ini: Rp900 – Rp1.200/kg (di bawah harga dasar Rp1.350/kg).
– Pendapatan kotor: Rp18–30 juta/ha.
– Biaya produksi: Rp8–10 juta/ha.
– Keuntungan bersih: Rp10–20 juta/ha per tahun.

Baca Juga  DPRD Lampung Soroti Dapur SPPG Sajikan Menu Tak Sehat di Lampung Utara

2. Padi (Lebih stabil karena ada harga pembelian pemerintah (HPP) lewat Bulog, tapi syaratnya harus tersedia air.)

– Produktivitas rata-rata: 5–6 ton gabah kering giling (GKG) per hektar per musim.

– Jumlah musim tanam: 2 kali setahun (di lahan beririgasi baik).

– Harga jual: Rp6.000 – Rp6.500/kg GKG.

– Pendapatan kotor: Rp60–78 juta/ha per tahun.

– Biaya produksi: Rp20–25 juta/ha per tahun.

– Keuntungan bersih: Rp35–50 juta/ha per tahun.

3. Jagung (Pasar relatif terjamin karena industri pakan ternak, ditopang kebijakan impor yang biasanya dikendalikan ketat pemerintah.)

3. Jagung (Pasar relatif terjamin karena industri pakan ternak, ditopang kebijakan impor yang biasanya dikendalikan ketat pemerintah.)

– Produktivitas rata-rata: 6–8 ton pipilan kering per hektar per musim.

– Jumlah musim tanam: 2 kali setahun (di lahan dengan air cukup).

– Harga jual: Rp4.500 – Rp5.000/kg.

– Pendapatan kotor: Rp54–80 juta/ha per tahun.

– Biaya produksi: Rp15–20 juta/ha per tahun.

– Keuntungan bersih: Rp30–45 juta/ha per tahun

Berita Terkait

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi
Triga Lampung Temui Kemenhan, Bahas Keberlanjutan Lahan Tebu Eks SGC
Kempeskan Ban Mobil Mahasiswa, Anggota DPRD Lampung Terancam Sidang Etik
KONI Lampung Intensif Pantau Atlet Berprestasi Jelang PON 2028 dan Persiapan Tuan Rumah PON 2032
KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032
Pemprov Lampung Prioritaskan Pembangunan Jembatan Kali Pasir untuk Akses Sekolah
Yusnadi, Sesalkan Kebijakan RSUD Sukadana yang Wajibkan Pasien Gunakan Ambulans Rumah Sakit Saat Rujukan
TRIGA Lampung Kepung Kejaksaan Agung–KPK, Bongkar Dugaan Oligarki Gula, Pajak, dan Politik Uang

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 00:02 WIB

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Senin, 2 Februari 2026 - 21:18 WIB

Triga Lampung Temui Kemenhan, Bahas Keberlanjutan Lahan Tebu Eks SGC

Senin, 2 Februari 2026 - 17:28 WIB

Kempeskan Ban Mobil Mahasiswa, Anggota DPRD Lampung Terancam Sidang Etik

Senin, 2 Februari 2026 - 13:53 WIB

KONI Lampung Intensif Pantau Atlet Berprestasi Jelang PON 2028 dan Persiapan Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Februari 2026 - 13:38 WIB

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:51 WIB

Yusnadi, Sesalkan Kebijakan RSUD Sukadana yang Wajibkan Pasien Gunakan Ambulans Rumah Sakit Saat Rujukan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:18 WIB

TRIGA Lampung Kepung Kejaksaan Agung–KPK, Bongkar Dugaan Oligarki Gula, Pajak, dan Politik Uang

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:13 WIB

Bapenda Lampung dan GGPC Perkuat Sinergi Optimalisasi PAD

Berita Terbaru

Lampung

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:02 WIB

Lampung

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Feb 2026 - 13:38 WIB