Keluh Kesah Pedagang Eks Pasar Smep

Redaksi

Kamis, 27 Februari 2020 - 13:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandarlampung (Netizenku.com): Bertahun-tahun mangkrak, sejumlah pedagang menanti pembangunan Eks Pasar Smep dapat segera diselesaikan.

Salah satunya, Tini (53), pedagang sembako ini berharap pembangunan pasar tersebut segera dapat diselesaikan, agar dirinya bersama pedagang lain dapat mendapatkan tempat nyaman untuk berdagang.

Pasalnya, pembangunan tersebut juga berdampak pada sejumlah pedagang yang masih bertahan. Di mana, pasar di wilayah setempat sangat minim disinggahi oleh pelanggan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

\”Ya begini mas. Nggak ada yang lewat. Ke sana nggak bisa. Maunya ya cepet jadi, biar rame lagi,\” kata Tini.

Hal itu tentunya berpengaruh pada anjloknya omzet para pedagang. Di mana penurunan omzet yang dialami secara merata itu turun berkali-kali lipat.

\”Ya lumayan, dari setengah 6 sampai jam segini (pukul 12.00 WIB) belum dapat Rp500 ribu. Kalau dahulu Rp4 juta sampai Rp5 juta. Udah jauh banget. 3 jam saja belum tentu melayani,\” ungkapnya.

Baca Juga  3 Konstituen Dewan Pers di Lampung Bentuk Sekretariat Bersama

Di tambah lagi, lanjutnya, Tini beserta sejumlah pedagang lain harus membayar uang sewa berjuta-juta rupiah.

\”Yah gimana, mau pindah kemana. Saya juga di sini nyewa. Saya sih sabar aja, harapanya cepat jadi pasarnya, jadi kan bisa hidup lagi,\” ujar Tini.

Terkait penempatan lapak di Pasar Smep, dirinya mengaku telah dilakukan pendataan oleh Dinas Perdagangan Kota Bandarlampung. Namun berapa jumlah harga yang akan dikeluarkan oleh pedagang yang menyewa lapak belum terungkap.

\”Kita juga masih nunggu udah jadi, udah didata sih. Cuma sistem kontrak, nggak boleh dibeli katanya,\” bebernya.

Dimintai komentar terkait pembangunan yang bakal bernuansa modern itu, Tini memiliki persepsi lain. Meskipun dirinya sangat mengapresiasi kebijakan yang diambil Pemerintah Kota Bandarlampung dalam melanjutkan kasus pembangunan pasar itu.

Menurut Tini, Pasar Smep lebih apik bernuansa modern. Ia membandingkan pada bangunan Mal Ramaya Tanjungkarang, di mana saat ini, keadaan gedung tak layak jika dinaiki oleh kendaraan di atasnya.

Baca Juga  Solusi Banjir Kota Bandar Lampung, Forum DAS Siapkan 1.500 Titik Prioritas

\”Pasar kok parkiran di atas ya, Mas. Contoh saja ramayana, mana sekarang? mobil nggak bisa naik. Masa pasar tradisional dijadiin modern?\” pungkasnya.

Dalam pantauan Netizenku.com, pembangunan Pasar yang sempat mangkrak bertahun-tahun itu kini telah berdiri dua lantai. Namun kondisinya cukup memprihatinkan. Pasalnya, pembangunan yang belum tuntas 100 persen pengerjaannya itu digenangi air di bagian basement.

Sementara pembangunan tahap ke dua sendiri akan segera dilanjutkan setelah selesainya masa pelelangan.

“Untuk pengerjaan belum dilakukan karena kan kita lelang dulu, pengadaan dulu, baru kemudian kita mulai pengerjaan di lapangan,” ungkap Iwan Gunawan, Kadis PU Bandarlampung beberapa waktu lalu.

Secara keseluruhan bangunan pasar ini terdiri dari tiga lantai. Pemkot Bandarlampung mengalokasikan anggaran sebesar Rp25 miliar dalam APBB 2019 dan biaya tambahan sebesar Rp20 miliar dari APBD 2020 untuk tahap kedua.

Nantinya, pasar dengan total keseluruhan pembangunan senilai Rp45 miliar itu akan menyediakan ruang sebanyak 600-700 kios. Termasuk area parkir dan basemant. Dalam desain sendiri bangunan Pasar Smep memiliki luas 63 x 56 meter.

Baca Juga  Baru 50 Persen SPPG di Bandar Lampung Kantongi SLHS

Sebelum diambil alih oleh Pemkot Bandarlampung, proyek pembangunan Pasar SMEP modern mulai dicetuskan pada 2013. Pembangunan Pasar SMEP awalnya berkonsep cukup megah, dengan konsep seperti mal dan hotel. Saat ini, pasar tersebut dirancang ulang dengan kemampuan keuangan yang ada.

Diketahui proyek tersebut semula dikerjakan oleh pihak ketiga, yakni PT Prabu Artha milik Ferry Sulistyo, dengan desain kian modern berlantai delapan.

Namun proyek yang dimulai dengan merubuhkan bangunan lama dan menggali tanah sedalam lebih dari lima meter untuk area basement justru mangkrak dan menjadi embung.

Ketika proyek belum tuntas, bos PT Prabu Artha sudah kabur. Pasar tradisional bersejarah tersebut pun telah dirubuhkan, padahal pemilik kios telah membayar uang muka untuk kios baru yang justru tak jelas nasibnya. (Adi)

Berita Terkait

Solusi Banjir Kota Bandar Lampung, Forum DAS Siapkan 1.500 Titik Prioritas
Smart BRT Itera, Model Transportasi Masa Depan Lampung
Baru 50 Persen SPPG di Bandar Lampung Kantongi SLHS
3 Konstituen Dewan Pers di Lampung Bentuk Sekretariat Bersama
Pompa Air di Perum Bukit Beringin Raya Rusak, Kadis Perkim Minta PT Sinar Waluyo Tanggung Jawab
Kwarda Lampung Sambut Pembentukan Racana UIM
Disdikbud Lampung Kembali Gelar UKG
Yuliana Safitri, Kontraktor Perempuan Lampung yang Kini Menjalani Penahanan, Tetap Teguh Menghadapi Proses Hukum

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 22:22 WIB

DPRD Lampung, Koperasi Merah Putih Harus Berpihak ke Petani

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:05 WIB

Lampung Siap Bangun 2 Pabrik Bioetanol, Harga Singkong Petani Bakal Melambung Tinggi

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:22 WIB

Lampung Jadi Pilot Project Bioetanol Nasional, Siap Pasok 10 Persen Kebutuhan E10 Indonesia

Selasa, 9 Juni 2026 - 08:36 WIB

Kisruh Verifikasi Domisili SPMB Lampung 2026, Ribuan Calon Siswa Terancam Gagal Masuk SMAN

Senin, 8 Juni 2026 - 22:55 WIB

Nasib Eks Pekerja BUMD Lampung, 3 Tahun Menanti Pesangon Meski Menang di Pengadilan

Senin, 8 Juni 2026 - 19:35 WIB

Jihan Nurlela Ajak Peserta PKN II Sumsel Gali Inovasi di Lampung

Senin, 8 Juni 2026 - 18:03 WIB

Kawal Aspirasi Warga, DPRD Lampung Teruskan Hasil Diskusi BPN Terkait Waydadi ke Pemprov

Senin, 8 Juni 2026 - 15:14 WIB

Hadiri Wisuda Perdana Universitas Indonesia Mandiri, Jihan Ajak Lulusan Kembali Bangun Daerah Asal

Berita Terbaru

Lampung

DPRD Lampung, Koperasi Merah Putih Harus Berpihak ke Petani

Selasa, 9 Jun 2026 - 22:22 WIB