Ekonomi Lampung sepanjang 2025 terus berdenyut hangat. Di tengah bayangan perlambatan global, daerah ini justru mencatat pertumbuhan 5,04 persen (y-on-y) pada Triwulan III, sebuah langkah mantap yang menandai daya tahan dan daya cipta ekonomi rakyatnya. Di balik capaian itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga naik menjadi 73,98, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tetap terjaga rendah di 4,21 persen (Agustus 2025).
Meski naik tipis 0,02 poin dari tahun sebelumnya, tingkat pengangguran di Lampung masih menunjukkan tren penurunan jangka panjang dibanding beberapa tahun lalu, ketika sempat berada di atas 4,3 persen. Artinya, roda ekonomi dan kesempatan kerja masih bergerak ke arah yang benar, meski tak selalu mulus setiap triwulan.
Kenaikan IPM menjadi cermin meningkatnya kualitas hidup. Pendidikan meluas, kesehatan membaik, dan daya beli menguat. Dari ruang kelas hingga ladang singkong, dari pasar tradisional hingga pabrik kecil di pinggiran kota, geliat produktivitas terasa lebih merata. Masyarakat Lampung tidak lagi sekadar bekerja untuk bertahan, tetapi berkarya untuk tumbuh bersama.
Pertumbuhan yang disertai peningkatan IPM menandakan arah pembangunan yang makin inklusif, yakni pertumbuhan yang tak hanya berpihak pada angka besar, tetapi juga pada manusia di balik angka itu. Walau masih ada tantangan dalam pemerataan keterampilan dan transformasi sektor kerja, sinyalnya jelas yaitu kualitas manusia Lampung menjadi fondasi bagi ekonomi yang tangguh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, agar langkah ini tak kehilangan irama di tengah jalan, ada beberapa hal mendesak yang perlu diperkuat.
Percepatan pelatihan vokasi dan literasi digital menjadi kebutuhan utama. Dunia kerja berubah cepat, sementara sebagian tenaga kerja masih tertinggal keterampilannya. Kolaborasi pemerintah dan industri untuk membangun pusat vokasi terapan akan mempercepat adaptasi angkatan kerja muda.
Penguatan sektor padat karya dan UMKM juga penting agar pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja lebih luas, terutama di sektor pertanian modern, pengolahan hasil bumi, dan ekonomi kreatif berbasis lokal. Ketika UMKM tumbuh, bukan hanya ekonomi yang bergerak, tetapi juga jejaring sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, perluasan akses pendidikan menengah dan kesehatan dasar tetap menjadi kunci. IPM akan naik lebih cepat bila fondasi layanan publik makin merata, terutama di kabupaten dengan IPM di bawah rata-rata provinsi. Pemerataan ini akan memastikan setiap warga Lampung memiliki kesempatan yang sama untuk maju.
Tak kalah penting, peningkatan konektivitas antarwilayah harus terus didorong. Infrastruktur transportasi dan logistik yang efisien akan mempercepat pemerataan ekonomi dan membuka peluang kerja baru, menghubungkan potensi daerah yang selama ini tersembunyi.
Ekonomi Lampung 2025 memperlihatkan keseimbangan baru antara pertumbuhan dan pemerataan, antara angka dan makna. Di balik pertumbuhan 5,04 persen itu, tersimpan kisah tentang manusia yang kian berdaya, yang bekerja bukan hanya untuk hidup, melainkan untuk memajukan hidup bersama.***








