oleh

Andai Saja Rektor UIN Lampung Ketua FPI, Mungkin Beda Cerita

Kalau masih belum berubah, Islam mengajarkan pemeluknya untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah daripada keburukan. Amar ma’ruf nahi mungkar menjadi ajaran mendasar dari setiap muslim tanpa terkecuali. Dan kalimat itu pun menjadi bahan pengajaran utama yang ditekankan oleh para pendidik di sekolah modern (meski sistemnya kuno) ataupun sekolah alternatif seperti taman pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Berbicara soal Islam dan pendidikan, Indonesia punya paket komplit. Saking komplitnya, tak sedikit bangsa berkulit pucat meneliti dan mempelajari paket komplit kepunyaan Indonesia itu. Mungkin pembaca langsung terpikir apa paket komplit yang menyajikan pendidikan dan juga menekankan pembelajaran keislaman itu. Ya! Paket komplit itu adalah pondok pesantren atau singkatnya ponpes.

Ponpes sudah ada sejak masa kolinial Belanda dan berpengaruh besar dalam melecut semangat putra bangsa untuk menyuarakan kemerdekaan. Kalimat cinta tanah air sebagian dari iman yang dipopulerkan oleh KH. Hasyim Asyari terbukti ampuh membakar semangat bangsa. Misalnya Bung Tomo yang pada saat itu baru berumur 25 tahun, dengan lantang meneriakan Allahuakbar untuk mengusir tentara Inggris pada peristiwa 10 November 1945 melalui siaran radio.

Seiring dengan perkembangan Indonesia yang tak bisa dilepaskan dari pendidikannya, muncul lah ide mendirikan kampus Islam yang diinisiasi oleh Masyumi yang sebelumnya bernama MIAI. Sekolah Tinggi Islam yang berubah nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi kampus Islam pertama dan menjadi model bagi kampus-kampus Islam yang berdiri di abad ke-21 ini. Menjadi sebuah pertanyaan, apakah semangat macam KH. Hasyim Asyari dan Bung Tomo masih ada yang mewarisi?

Baca Juga  Sarjana, Ibu 2 Anak Ini Bergelut dengan Ban Bocor

Pro kontra pun muncul sejalan dengan meningkatnya popularitas kampus Islam, terutama soal pembukaan prodi baru yang tak ada ‘bau-bau’ Islam. Belum lagi soal beberapa kampus Islam yang membiarkan mahasiswinya tak mengenakan jilbab. Dan di Lampung, ada penolakan dari sebagian mahasiswa tentang penarikan infaq masjid bagi mahasiswa baru dan yang akan diwisuda. Katanya sih infaqnya itu iuran faksa, lantaran jumlahnya ditentukan dan kampus memberi fatwa bahwa hukum membayar infaq tersebut wajib.

Emhhhhhh..kok kayaknya tahu betul tentang kampus Islam di Lampung. Ya iya lah, orang gewe kuliah di situ, dan emang mau bahas kampus yang letaknya di Kecamatan Sukarame ini. Wokwkwkwkwkwkwkw…

Sebenarnya ini pembahasan klasik, tapi tetap hangat seperti bandrex yang dijual bareng bubur ayam dekat kampus. Entah ini masalah atau bukan, gewe cuma mau cerita kalau kampus ini berdiri dekat warung remang-remang. Atau warung remang-remangnya yang berdiri dekat kampus. Gewe yang kuliah sejak 2013 hingga 2019 ini, menjadi saksi 2 bangunan yang saling tatap ini. Jaraknya juga enggak jauh, cuma beberapa langkah saja. Kalau naik sepeda, sekali gowes sampai. Dekat sangat kan.

Baca Juga  Biker Subuhan Sebarkan Virus Solat Subuh Berjamaah

Coba deh kalau yang belum tahu tentang hal ini, mungkin hari ini atau kalau besok lewat, elu-elu coba nikmati nuansa Islami dan nuansa dugem sekaligus. Kalau pagi sampai sore, mata kalian para lelaki akan dimanjakan dengan gadis-gadis imut nan manis berjilbab yang memang sengaja sliweran sambil tebar-tebar pesona. Kalau tengah malam, pemandangannya berubah menjadi wanita seksi dengan hotpansnya yang nampak kedinginan. Dari luar musik dugemnya kedengaran sedikit sih, tapi cukup jelas bagi telinga kalian yang masih normal.

Namun sayangnya populasi yang hidup di kedua habitat ini tampak tak saling kenal. Soalnya gewe tidak pernah melihat atau mungkin memang enggak melihat cewek berjilbab mampir ke warung remang-remang depan kampus itu dan sebaliknya cewek berhotpans mampir ke kampus untuk menikmati senja di sekitaran danau buatan pas depan masjid yang hampir jadi.

Mungkin tak saling kenal ini menjadi penyebab tak ada mahasiswa kampus yang mencoba amar ma’ruf nahi mungkar ala-ala Gus Miftah di warung dugem yang terkenal dengan julukan Kafe Meteor ini kalik ya. Bisa jadi!

Baca Juga  Lampung, KPK dan Politik Uang

Padahal jelas dalam Islam, Ilmu yang bermanfaat itu pahalanya tak akan terputus. Ke depan mudah-mudahan pihak kampus dan kafe bisa buat seminar bareng, biar akrab.

Rektor kampus juga biasa aja kayaknya dengan adanya warung remang-remang ini. Padahal beliau sudah menjabat sebagai rektor beberapa periode, kabar burungnya sih kepingin nambah lagi kalau sudah habis. Gantian napa pak. Hihihihihihi…
Atau mungkin rektor sebenarnya enggak biasa aja, karena beliau Ketua NU Lampung, beliau mencoba mencontohkan bentuk toleransinya. Kalau rektor Ketua FPI mungkin beda cerita, tanpa kompromi langsung dibumi hanguskan tuh bangunan apapun resikonya. Ini masih kemungkinan loh, jangan serius-serius.

Dan kalau boleh mengutip, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata di dalam buku Bumi Manusia. “Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan,” kata Pram di dalam penjara. Seharusnya kalimat itu menjadi renungan bagi kita bersama, pendidikan yang kita dapatkan ini sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Dan ini hanyalah cerita tak penting untuk mengisi waktu senggang saja, mudah-mudahan masih banyak cerita tak penting lainnya yang bisa kita nikmati bersama.

\"\"

Penulis: Agis Dwi Prakoso (Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Lampung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *