Sssttt…Jangan Bilang-bilang, Silent Please!

Redaksi

Rabu, 11 April 2018 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto ilustrasi: Netizenku.com)

(Foto ilustrasi: Netizenku.com)

Kalau mencermati pasukan khusus yang diandalkan oleh setiap negara di sekujur bumi ini, hanya ada satu kunci sukses yang digenggam erat pasukan-pasukan itu; operasi senyap. Semakin silent, harapan buat menohok langsung ke jantung pertahanan lawan semakin terbuka lebar. Itu prinsip!

Sesuai namanya, operasi senyap, maka gerakannya pun anteng tapi bukan berarti selow. Senyap jauh dari berisik, tapi jangan kira tak merayap, dan bahkan sambil mengendap-endap itu bukan berarti tak bernyali. Semua mesti dibungkus rapat-rapat serahasia mungkin. Tak boleh bocor. Karena satu saja di antara yang terlibat operasi itu bermulut nyinyir doyan ngerumpi mirip ember bocor, hampir dapat dipastikan taruhannya nyawa seluruh pasukan.

Dipastikan pula anggota pasukan tak boleh narsis. Apalagi keranjingan selfi lalu buru-buru posting foto di instagram. Jangan sampai melintas batas negara, lalu selfi di tugu penanda perbatasan. Sedang mengintai musuh di ketinggian pohon malah nyempetin selfi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mau serbu markas lawan, masih bela-belain swafoto di depan pasukan musuh yang sedang kokang senjata sambil bidik kepalanya. Pasukan begini bakal banyak yang wasalam, innalilahi sebelum sempat posting foto ke medsos. Pokoknya personil ganjen macam ini diharamkan terlibat dalam operasi rahasia.

Anggota pasukan khusus juga mesti yang sudah lolos latihan survival. Mampu menekan rasa lapar dan sanggup menelan daging mentah hasil buruan. Tidak ada tempat bagi anggota pasukan yang perutnya buncit lantaran doyan ngemil dan sering nyusupin cokelat atau chiki di ranselnya. Kalau ada yang coba-coba melanggar, siap-siap kena tampol komandan.

Baca Juga  32 Pramuka Tubaba Siap Bawa Nama Daerah ke Jambore Nasional XII 2026

Pokoknya semua harus steril. Bekal yang dibawa sebatas barang-barang fungsional pendukung operasi. Pasukan yang betah silent dan nggak geragas yang bisa diandalkan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Nah, kalau melihat kontestasi Pilgub Lampung saat ini, situasinya juga nyaris mirip pertempuran di dunia ketentaraan. Masing-masing pasangan calon (paslon) beritikad memenangi pertarungan. Mereka pun membentuk tim-tim dengan spesifikasinya masing-masing.

\"\"

Bahkan pola gerak dan langgam irama yang dimainkan juga setali tiga uang dengan strategi perang. Tim sukses pilgub juga pakai peluru. Hanya saja amunisi yang dipakai bukan peluru tajam, melainkan logistik sembako atau iming-iming duit.

Mengenai langgam, memang ada banyak cara yang dipakai. Ada paslon yang tim suksesnya memakai acuan operasi senyap. Misi-misi pentingnya dilakukan sesenyap mungkin tanpa kegaduhan, apalagi sampai pasang panggung dan tarup lalu ditingkahi suara orgen tunggal dari sound segede kulkas dua pintu. Singkat kata semua berlangsung tanpa woro-woro. Datang, sosialisasi, lalu hengkang tanpa meninggalkan jejak yang bisa diendus tim lawan.

Kalau ditelisik lebih jauh, aneh juga operasi rahasia tapi masih bisa ditelisik. Apapun namanya, kalau dianalisa dan menyadap bocoran dari \’dinding bertelinga\’, upaya-upaya demikian biasa dilakukan untuk menghindari radar lawan. Terutama terhadap lawan politik yang punya banyak logistik sembako dan duit sekarung.

Tim penganut operasi senyap tidak mau jerih payah menguasai suatu wilayah, hapus sia-sia manakala lawan berhasil mengendus pola gerakan mereka, lalu sesaat kemudian mendatangi zona yang diperebutkan itu, sambil memberondongkan amunisi sembako atau duit yang sudah diselipin dalam amplop. Bisa berabe urusannya!

Baca Juga  Tubaba Memikat Desainer Dunia Naoto Fukasawa "Tubaba Bak Syurga"

Pelaku paham operasi senyap ini sangat yakin upayanya bakal berbuah manis. Bagi mereka biarlah berjuang lebih keras, gerilya ke sana ke mari, sambil menyapa sekaligus menyerap aspirasi warga, asalkan mereka dapat kawan yang ikhlas menghibahkan suara dukungannya di bilik tempat pemungutan suara (TPS) nanti.

Pola taktis lainnya adalah psywar atau biasa disebut perang urat saraf. Pola yang satu ini tak terlalu mengandalkan militansi personil tim untuk benar-benar bermandi peluh blusukan ke pelosok-pelosok.

Itu bisa dilakukan lantaran penyerangan terhadap musuh dan penguasaan area yang disasar dapat dilakukan dari \’jarak jauh\’. Psywar lebih mengandalkan pada koar-koar lewat propaganda. Namanya propaganda sudah barang tentu tidak perlu berdasarkan fakta dan data konkrit. Cuap-cuap aja. Tapi jangan lupa sebelumnya mesti mematut diri di depan cermin lebih dulu.

Belajarlah memoles diri. Belajar cara senyum yang menawan dan diyakini mampu menghipnotis siapa pun yang melihat. Bila perlu panggil guru kepribadian untuk mengeluarkan aura positif lewat mimik muka, intonasi suara, dan gerak tingkah. Pokoknya upgrade abis!

Usaha-usaha demikian sangat dibutuhkan, karena propaganda bakal lebih meyakinkan kalau disampaikan oleh orang yang tampilannya juga meyakinkan. Lalu bentuk tim sebanyak mungkin. Dimodali sambil tak lupa pula ikut didandani biar turut memancarkan optimisme.

Baca Juga  Dukung Tubaba Cerdas, Disperpusip Gelar Layanan Keliling ke Sekolah dan Pesantren

Sehingga ketika publik melihat sang kandidat maupun orang-orang di sekitarnya benar-benar berpenampilan meyakinkan. Sehingga tumbuh sugesti bila kandidat itu dipilih dan menang, siapa tahu juga bisa membikin orang yang memilihnya ikut kecipratan aura optimisme itu.

Tak sulit toh, karena tak perlu bicara soal data dan fakta konkrit, terus saja berpenampilan dan berperilaku elok pasti orang akan tersihir lantas kepincut, sembari mengenyampingkan soal data dan fakta.

Sekali lagi isi nggak penting, asalkan dibungkus apik, lantaran titik serang paling penting dalam perang urat saraf adalah pikiran manusia. Itulah kunci propaganda lewat psywar. Sejatinya mengubah sikap publik atau lawan agar berkurang tingkat penentangan atau militansinya.

Dahsyat bukan atau lebih tepatnya sangat dahsyat? Iya, memang hasilnya amazing. Bukankah propaganda adalah salah satu media komunikasi, dan siapa yang menguasai informasi dan komunikasi bakal pula menguasai dunia, Beuh!

Memang tidak murah buat mengongkosi strategi psywar. Namun bagi kandidat berduit yang merasa reputasinya sudah meredup dan tim-tim pasukannya tidak terbiasa militan, alternatif ini menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa buat merebut hati pemilih.

Perpaduan taktik psywar dan berondongan amunisi sembako inilah yang sangat diwaspadai pasukan pelakon operasi senyap. Tak heran bila mereka terus putar otak buat mematahkan gempuran psywar dan hujan sembako. Caranya dengan melipatgandakan gerilya, sambil menyapa orang-orang baik yang masih terjaga nuraninya.  Tapi sssttt….jangan bilang-bilang, please silent, ini rahasia. Ehem!… (Hendri Std)

Berita Terkait

Gubernur Lampung Perkuat Operasi Terpadu Tangani Karhutla
Tubaba Nihil PHK Semester I 2026, Disnakertrans Siapkan Tim Monitoring ke Perusahaan
32 Pramuka Tubaba Siap Bawa Nama Daerah ke Jambore Nasional XII 2026
Tubaba Gandeng ATR/BPN Integrasikan Data Pertanahan, Bidik Optimalisasi PAD
Sekolah Rakyat Tubaba Siap Dibangun, 2.520 Anak Keluarga Kurang Mampu Bakal Dapat Pendidikan Gratis
Tubaba Masih Nol Kasus PMK, Tapi Vaksinasi Ternak Baru Capai 30 Persen
Tubaba Gandeng Tel-U, Sulap Sampah dan ZISWAF Jadi Kekuatan Ekonomi Berbasis AI
Bukan Sekadar Bersih, Tubaba Ingin Ubah Kebiasaan Pelajar Peduli Lingkungan

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:26 WIB

Lampung Dorong Produk Desa Tembus Pasar Ekspor

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Mirzani Dorong IWAPI Hilirisasi Pangan dan Digitalisasi Usaha

Kamis, 27 Agustus 2026 - 15:51 WIB

Garinca Soroti 540,78 Hektare Aset Pemprov Bermasalah

Kamis, 27 Agustus 2026 - 15:40 WIB

Lampung Mulai Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:40 WIB

Ketua PP PMKRI Temui Massa Pati Melawan Jelang Aksi 27 Agustus

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:44 WIB

Angkasa Pura Indonesia Siap Dukung HPN dan Porwanas 2027 di Lampung

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:42 WIB

Yozi Rizal Soroti Lemahnya Perhatian Pemprov Lampung terhadap Dunia Sastra

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:55 WIB

203 Titik Hotspot Terdeteksi, Karang Taruna Desa Diminta Waspada Karhutla

Berita Terbaru

Bandarlampung

PPM Bandarlampung Gandeng Kodim 0410/KBL Gelar LKBB Tingkat SMP

Jumat, 28 Agu 2026 - 17:20 WIB

Lampung

Lampung Dorong Produk Desa Tembus Pasar Ekspor

Kamis, 27 Agu 2026 - 19:26 WIB

Tulang Bawang Barat

Kapolres Tubaba Ajak Pers Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Kamis, 27 Agu 2026 - 19:11 WIB