4 Fraksi Siap Kawal Pansus, 3 Tegaskan Nolak

Redaksi

Selasa, 3 Juli 2018 - 10:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandarlampung (Netizenku.com): Tiga fraksi DPRD Lampung menolak Pembentukan panitia khusus (Pansus) tindak pidana kejahatan money politics atau politik uang.

Ketiganya yakni Fraksi Partai Golkar, PAN dan PKB. Alasannya, mereka berdalih DPRD tidak boleh mengintervensi lembaga penyelenggara pilkada.

\”Setelah kita pelajari dari berbagai aturan Pilkada Gubernur dan PKPU, yang harus digaris bawahi adalah bahwa Lembaga DPRD tidak ada kewenangan mencampuri urusan tehnis, oleh karena itu DPRD tidak ada aturannya mengintervensi itu, \” jelas Ketua Fraksi PAN Lampung, Agus Bhakti Nugroho.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, tiga Fraksi tidak ikutan dalam masalah itu dan menilai dinamika politik di Lampung biasa saja. \”Kami sudah perintahkan kepada anggota kita di Banmus untuk mengecek, apakah benar akan dibuatkan jadwal pansus itu  dan apakah 5 pimpinan itu dipanggil,  makanya kami mengutus anggota kita di Banmus mengecek itu,\” kata Agus.

Anggota Komisi III DPRD Lampung ini juga menilai, produk apa yang akan ditanggapi oleh pansus tersebut, karena sampai saat ini tahapannya masih belum selesai.

\”Pleno KPU kan tanggal 9 Juli,  jadi produk hukum apa yang mau dipansusin. Mau mansusin apa, keputusannya (KPU) belum ada,\” tegas Agus.

Senada, Ketua Fraksi Golkar Lampung, Tony Eka Candra, mengatakan bahwa sebenarnya pihaknya bukan menolak pembuatan pansus tersebut. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah produk hukumnya, tidak ada lembaga DPRD mengintervensi hasil pilkada tersebut.

\”Kita sebetulnya bukan menolak, tapi setelah kita pelajari bahwa sesuai aturan, tidak ada yang mengatur dibuatnya pansus tersebut,\” katanya.

Oleh karena itu, dia meminta agar fraksi lainnya menunggu hasil akhir dari pleno KPU Lampung pada 9 Juli mendatang. \”Kan hasil pleno KPU tentang keputusan  hasil pilkada gubernur itu belum selesai,  nanti 9 Juli,  maka kita tunggu saja,\” katanya.

Pihaknya juga mendukung langkah-langkah dari KPU dan Bawaslu Lampung dan mempercayai bahwa sebagai penyelenggara pemilu mereka bisa menjalankan fungsinya. \”Kita tunggu saja,  dan hormati apapun keputusan dari KPU nanti,\” harapnya.

Sama halnya, Ketua Fraksi PKB DPRD Lampung, M. Effendi, menegaskan menolak pembentukan pansus tersebut. \”Intinya kita menolak Pembentukan pansus itu,\” tegasnya kepada Netizenku.com.

Terpisah, empat fraksi di DPRD Lampung menggelar rapat di ruangannya masing-masing untuk memantapkan hal itu. Masing-masing Fraksi PDIP, Gerindra, Partai Demokrat, dan NasDem.

Ketua Fraksi PDIP DPRD Lampung, Watoni Noerdin, membenarkan, rapat membahas pembentukan pansus politik uang. \”Artinya kita akan melihat lembaga DPRD bersikap sejauh mana terkait persoalan ini,\” tegas Watoni.

Menurutnya, permasalahan tersebut harus disikapi dengan tegas. Pasalnya, money politics adalah bentuk kejahatan.

Komunikasi dengan partai lain pun sudah dilakukan. Dan, hampir semua fraksi mendukung dibentuknya pansus. \”Karena Lampung sudah darurat money politics. Sekarang pembahasan sudah di tingkat pimpinan,\” tandasnya.

Ketua Fraksi Nasdem, Fauzan Sibron, menyatakan partainya sepenuhnya mendukung dan mengawal proses ini sampai selesai. \”Insyaallah kita sudah tandatangani pansus ini. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dijadwalkan di badan musyawarah (banmus) dan diparipurnakan. Ini bukan menang atau kalah. Tapi kita lihat money politics ini sudah terstruktur, sistematis, dan masif (TSM),\” ucap dia.

Menurutnya, politik uang sangat menciderai pilkada di Lampung dan sudah merendahkan martabat provinsi ini. Fraksi NasDem akan mengirimkan satu orang perwakilan untuk duduk di pansus.

\”Kita hanya diwakili satu orang karena pansus berjumlah delapan anggota. Sisanya, PDIP 2 orang,  Demokrat 2, Gerindra 2,  dan PKS 1,\” jelasnya. (Red)

Berita Terkait

Kekuasaan dalam Dunia Fiksi
Pesan untuk Jakarta, “Ukur Ulang atau Kami Duduki!”
Otonomi Tanpa Dompet: Lampung Harus Berani Mandiri Fiskal (Jawaban Pasca Pemangkasan TKD)
Nasib Petani Singkong Lampung di Tengah Oligarki dan Kebijakan Mentan yang “Menjengkelkan”
Fiskal Ketat, Lampung Tak Ingin Sekadar Bertahan, Tapi Bertumbuh
Badai Proxy War Mengintai Fondasi Ekonomi Nasional
Jeritan Petani Singkong Lampung Ubah Arah Kebijakan Nasional
Jarnas.Indo Kecam DPR dan Pemerintah: Rakyat Tercekik, Elit Politik Malah Menikmati Fasilitas

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:23 WIB

BPBD Lampung Siap Bantu Korban Gempa NTT

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:25 WIB

Gubernur Lampung Ikuti Upacara Detik Detik Proklamasi Secara Virtual

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:22 WIB

Gubernur Lampung, Kemerdekaan Harus Dirasakan Masyarakat melalui Pembangunan yang Nyata

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Pengusaha Jambi Laporkan Dugaan Penipuan Proyek Fiktif Rp465 Juta ke Polda Lampung

Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:57 WIB

Konflik PT BSA Memanas, Wahrul Desak Pemerintah Pusat Turun Tangan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 17:56 WIB

Putra Jaya Umar, Antara Kebun, Petani, dan Tanggung Jawab Sebagai Wakil Rakyat

Rabu, 12 Agustus 2026 - 18:43 WIB

Pulung Kencana Berseru, Putra Jaya Umar Siap Kawal Jalan hingga Sumur Bor

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Peduli Lingkungan, Mahasiswa Universitas Malahayati Edukasi Dasawisma Yosorejo Bikin Ecobrick

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

PAD Tubaba Digenjot, Aset Daerah dan Pajak Mulai Dioptimalkan

Rabu, 19 Agu 2026 - 20:24 WIB

Tulang Bawang Barat

HUT ke-25, Demokrat Tubaba Hadir Lewat Aksi Nyata di Tengah Masyarakat

Rabu, 19 Agu 2026 - 16:24 WIB

E-Paper

Lentera Swara Lampung | 165 | Rabu, 19 Agustus 2026

Rabu, 19 Agu 2026 - 08:09 WIB

Lampung

BPBD Lampung Siap Bantu Korban Gempa NTT

Selasa, 18 Agu 2026 - 18:23 WIB