oleh

Pekan Depan Ada Berita Buruk untuk Rupiah, Simak

Lampung (Netizenku.com): Pada 9 November 2018, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data penting yang akan menentukan nasib rupiah, yaitu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III-2018.

Data ini akan menunjukkan seberapa banyak pasokan valas yang keluar-masuk Indonesia.

Sepanjang tahun ini, rupiah sudah anjlok 12,16%. Mata uang Asia lainnya memang melemah, tetapi rupiah menjadi yang terlemah kedua di Benua Kuning. Rupiah hanya lebih baik dibandingkan rupee India.

Melihat mata uang lain yang melemah, memang betul bahwa faktor eksternal menjadi penyebab buruknya performa rupiah tahun ini.

Maklum, dolar AS memang terlalu kuat dan menjadi raja mata uang dunia.

Sejak awal tahun, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback terhadap enam mata uang dunia) menguat 5,34%. Jadi penguatan dolar AS tidak hanya berlaku di Asia, tapi sudah mendunia.

Keperkasaan dolar AS didukung oleh kebijakan moneter AS yang ketat. Sejak awal tahun, The Federal Reserve/The Fed sudah tiga kali menaikkan suku bunga acuan.

Bahkan diperkirakan ada sekali kenaikan lagi pada Desember, dengan kemungkinan 73,1%, menurut CME Fedwatch.

Presiden AS Donald Trump memang mengecam kebijakan Jerome \’Jay\’ Powell dan kolega. Menurut sang penghuni Oval Office, The Fed menghalangi upayanya untuk mendorong perekonomian AS lebih cepat.

Kenaikan suku bunga acuan akan membuat biaya dana menjadi lebih mahal sehingga dunia usaha maupun konsumen akan mengerem ekspansi.

\”Saya membayar bunga tinggi karena The Fed. Saya ingin The Fed tidak terlalu agresif karena menurut saya mereka melakukan kesalahan besar. The Fed sudah loco (gila) dan tidak ada alasan mereka melakukan itu, saya tidak senang,\” tegas Trump beberapa waktu lalu, mengutip Reuters.

Namun The Fed bergeming. Bank sentral menilai sudah saatnya ada upaya untuk mengerem permintaan, karena bila tidak maka akan terjadi tekanan inflasi yang tidak perlu alias overheating di perekonomian. Caranya adalah dengan menaikkan suku bunga.

Baca Juga  Rupiah Terlemah di Asia, 1 Dolar AS Rp 15.165

\”Dengan perkiraan ekonomi ke depan, peserta rapat mengantisipasi akan ada kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam target yang ditetapkan sehingga konsisten dengan ekspansi ekonomi yang berkelanjutan, pasar tenaga kerja yang kuat, dan inflasi di kisaran 2% dalam jangka menengah,\” sebut notulensi rapat (minutes of meeting) The Fed edisi Oktober 2018.

Saat ini suku bunga acuan AS berada di median 2,125%. The Fed menargetkan suku bunga akan naik menjadi median 3,1% pada akhir 2019 dan 3,4 pada akhir 2020. Dalam jangka panjang, suku bunga baru berangsur turun ke arah 3%.

\”Pendekatan (kenaikan suku bunga acuan) secara bertahap akan menyeimbangkan risiko akibat pengetatan moneter yang terlalu cepat yang bisa menyebabkan perlambatan ekonomi dan inflasi di bawah target Komite. Namun bila (kenaikan suku bunga acuan) dilakukan terlalu lambat, maka akan menyebabkan inflasi bergerak di atas target dan menyebabkan ketidakseimbangan di sistem keuangan,\” tulis notulensi rapat tersebut.

Walau bertujuan mengendalikan permintaan, kenaikan suku bunga acuan punya efek samping ikut mengerek imbalan investasi utamanya di instrumen berpendapatan tetap.

Oleh karena itu, dolar AS akan kembali mendapat energi penguatan setiap kali ada kabar kenaikan suku bunga acuan. Inilah yang terjadi pada 2018 sehingga dolar AS memang tidak bisa dibendung.

Baca Juga  GasNet Luncurkan program GasPlay untuk Warga Bandarlampung

Transaksi Berjalan Sepertinya Memburuk

Namun dengan posisi rupiah sebagai mata uang terlemah kedua di Asia, tentu ada faktor lain yang mempengaruhi.

Kondisi dalam negeri memang tidak suportif terhadap rupiah, terutama dari yang disebutkan di awal yaitu NPI.

Tahun ini, NPI terus mengalami defisit. Artinya devisa yang keluar lebih banyak ketimbang yang masuk, sehingga rupiah tidak punya modal untuk menguat.

Pada kuartal I-2018, NPI membukukan defisit US$ 3,9 miliar dan pada kuartal berikutnya tekor lebih dalam yaitu US$ 4,3 miliar. Padahal sejak Maret 2016, NPI belum pernah lagi defisit.

NPI terdiri dari dua komponen besar yaitu transaksi berjalan (current account) serta transaksi modal dan finansial.

Komponen yang pertama disebut menggambarkan aliran devisa dari ekspor-impor barang dan jasa, sementara yang belakangan adalah pasokan valas dari investasi di sektor riil maupun pasar keuangan atau portofolio.

Di sisi current account, Indonesia memang tidak pernah lagi mengalami surplus sejak kuartal IV-2011. Artinya, sektor perdagangan tidak pernah lagi memberikan sumbangan tetapi malah menyedot devisa.

Pada kuartal III-2018, kemungkinan besar transaksi berjalan kembali defisit. Indikator paling mudah adalah dari sisi perdagangan.

Sepanjang kuartal III-2018, neraca perdagangan defisit US$ 2,72 miliar. Bahkan lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu US$ 1,37 miliar.

Artinya, ada kemungkinan defisit transaksi berjalan kuartal III-2018 akan lebih dalam ketimbang kuartal sebelumnya. Padahal pada kuartal II-2018, defisit transaksi berjalan sudah yang paling dalam sejak 2014.

Morgan Stanley memperkirakan CAD bisa membengkak hingga 4,1% dari PDB. Sedangkan Bank Indonesia memperkirakan CAD akan berada di atas 3% tapi tak akan sampai 3,5% dari PDB.

Baca Juga  Awal Pekan Rupiah Kian Lemah, 1 Dolar AS Rp 15.190

Ada Harapan di Transaksi Modal dan Finansial

Kemudian di sisi transaksi modal dan finansial, hal yang patut dicermati adalah penanaman modal asing di sektor riil (Foreign Direct Investment/FDI). Kemarin, datang berita buruk dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Pada kuartal III-2018, FDI terkontraksi alias minus 20,2% secara year-on-year (YoY). Lebih dalam ketimbang kontraksi pada kuartal II-2018 yaitu 12,9%.

Namun ada sedikit harapan dari pasar keuangan. Pada kuartal III-2018, investor asing membukukan jual bersih Rp 1,74 triliun.

Masih ada outflow, tetapi jauh lebih sedikit ketimbang kuartal sebelumnya yang mencapai Rp 25,94 triliun.

Di pasar obligasi pemerintah, investor asing melakukan malah beli bersih Rp 23,39 triliun. Bandingkan dengan kuartal II-2018 di mana terjadi jual bersih Rp 31,18 triliun.

Artinya, ada kemungkinan transaksi modal dan finansial akan mampu sedikit menutupi lubang menganga yang disebabkan transaksi berjalan. Atau setidaknya transaksi modal dan finansial tidak menjadi beban tambahan, do no harm.

Akan tetapi, secara keseluruhan NPI kuartal III-2018 kemungkinan masih akan mengalami defisit.

Bahkan mungkin lebih dalam ketimbang kuartal sebelumnya, karena defisit yang lebih parah di transaksi berjalan akan sulit diimbangi oleh perbaikan di transaksi modal dan finansial.

Oleh karena itu, rupiah kemungkinan masih akan diterpa kabar negatif pada pekan depan. Kala NPI defisit, maka rupiah memang tidak punya pijak untuk menguat karena minimnya pasokan valas. (cnbci/lan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *