DPRD Lampung Minta Sidak Peredaran Beras Usai Temuan 25 Merek Bermasalah

Tauriq Attala Gibran

Rabu, 16 September 2026 - 12:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Temuan Kementerian Pertanian (Kementan) terhadap 25 merek beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai standar dan kandungan label menjadi perhatian bagi daerah penghasil beras, termasuk Lampung.

Lampung (Netizenku.com): Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas, meminta pemerintah daerah tidak sekadar memantau gejolak harga beras dan gabah, tetapi segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan tidak terjadi praktik serupa di Lampung.

Mikdar mengatakan persoalan beras tidak hanya berkaitan dengan harga di tingkat konsumen, tetapi juga berpengaruh terhadap rantai pasok gabah dari sentra produksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini harus menjadi perhatian kita. Jangan sampai praktik yang merugikan masyarakat seperti yang ditemukan Kementan terjadi juga di Lampung,” kata Mikdar, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, hasil pemeriksaan Kementan terhadap produk beras fortifikasi menunjukkan adanya produk yang tidak memenuhi standar sebagaimana klaim pada label. Pemerintah pun telah mengambil langkah terhadap produk yang terbukti bermasalah, mulai dari penarikan produk, pencabutan izin hingga proses hukum.

Baca Juga  Gubernur Lampung Ajak Pramuka Perkuat Pengabdian dan Sinergi Bangun Generasi Muda

Mikdar mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena tingginya harga gabah di sejumlah wilayah dapat memicu persaingan pembelian bahan baku semakin ketat.

Gabah Lampung, kata dia, berpotensi terserap ke daerah lain ketika harga pembelian di luar daerah lebih tinggi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi itu dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku untuk produksi beras di Lampung.

“Kalau gabah kita terus keluar karena dibeli dengan harga tinggi, tentu akan berpengaruh terhadap produksi beras di Lampung. Dampaknya kemudian kembali kepada masyarakat melalui harga beras yang meningkat,” ujarnya.

Mikdar mengakui kenaikan harga gabah pada musim tanam dapat memberikan keuntungan bagi petani. Namun, menurutnya, kenaikan yang terlalu tinggi perlu ditelusuri untuk mengetahui faktor yang mendorongnya.

Baca Juga  Gubernur Mirza: Pembangunan SDM Jadi Fokus Utama Kemajuan Lampung

“Kalau kenaikan harga gabah memang karena mekanisme pasar dan menguntungkan petani, tentu kita dukung. Tetapi kalau ada permainan dalam pengolahan, pelabelan atau perdagangan beras yang membuat harga menjadi tidak wajar, itu yang harus diperiksa,” tegasnya.

Ia menilai konsumen harus mendapatkan beras sesuai kualitas dan harga yang semestinya. Jangan sampai masyarakat membayar mahal karena sebuah produk dikemas dan dipasarkan dengan klaim kualitas tertentu, sementara hasil pemeriksaan justru menunjukkan ketidaksesuaian.

Kondisi tersebut, lanjut Mikdar, pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang menjadikan beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari.

Karena itu, Mikdar meminta dinas terkait di Provinsi Lampung segera melakukan pengawasan dan sidak terhadap peredaran serta pengolahan beras di daerah.

“Jangan menunggu ada temuan dulu. Dinas terkait harus turun mengecek. Siapa tahu kondisi seperti ini juga terjadi di Lampung,” katanya.

Baca Juga  RSUDAM Siapkan Fertility Center, Perkuat Layanan Kesehatan Reproduksi

Ia menegaskan pengawasan harus dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari pembelian gabah, proses penggilingan, pengemasan, pelabelan hingga harga yang dibebankan kepada konsumen.

Mikdar juga mendukung langkah tegas Kementan terhadap perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran. Menurutnya, pencabutan izin dapat dilakukan apabila pelanggaran telah terbukti secara hukum.

“Kalau memang terbukti melanggar, izinnya harus dicabut. Kalau memenuhi unsur pidana, proses secara hukum. Jangan sampai keuntungan pengusaha justru dibayar mahal oleh masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap pengawasan tersebut dapat memastikan tata niaga beras di Lampung tetap sehat, petani memperoleh harga yang layak, sementara masyarakat mendapatkan beras sesuai kualitas dengan harga yang wajar.

“Jangan sampai masyarakat menjadi korban. Petani harus untung, pengusaha boleh mendapatkan keuntungan, tetapi konsumen juga harus mendapatkan haknya,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Limbah PT Indo Thai Coco Diduga Cemari Sumur Warga, DPRD Lampung Desak DLH Bertindak
Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas
RSUDAM Pastikan Pembayaran Remunerasi Pegawai Sesuai Verifikasi
Pemprov Lampung Perkuat SDM Desa Lewat Program Satu Desa Satu Sarjana dan Hafiz Quran
Putra Jaya Umar Dorong Penindakan Tegas Jaringan Narkoba yang Libatkan Anak
Gubernur Mirza Buka Road to Give 2026 di Pesawaran, Dorong Semangat Berbagi
Cegah Rabies, Petugas Jemput Bola Vaksinasi Hewan Peliharaan di Lampung Selatan
Sampah Organik Lampung Dibidik Jadi Pupuk, Dorong Ekonomi Pertanian

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Limbah PT Indo Thai Coco Diduga Cemari Sumur Warga, DPRD Lampung Desak DLH Bertindak

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:55 WIB

RSUDAM Pastikan Pembayaran Remunerasi Pegawai Sesuai Verifikasi

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Pemprov Lampung Perkuat SDM Desa Lewat Program Satu Desa Satu Sarjana dan Hafiz Quran

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Gubernur Mirza Buka Road to Give 2026 di Pesawaran, Dorong Semangat Berbagi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:53 WIB

Cegah Rabies, Petugas Jemput Bola Vaksinasi Hewan Peliharaan di Lampung Selatan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Sampah Organik Lampung Dibidik Jadi Pupuk, Dorong Ekonomi Pertanian

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:40 WIB

Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol MTI Resmi Dikukuhkan di Lampung

Berita Terbaru

Pringsewu

Bupati Pringsewu Ajukan R-APBD 2027 Senilai Rp1,138 Triliun

Senin, 5 Okt 2026 - 18:09 WIB