oleh

Di Kampung Oncom, Sekarung Ampas Jadi Rezeki Nomplok

Bandarlampung (Netizenku): Sampah atau limbah tak selamanya harus berakhir sia-sia ke pembuangan. Di tangan orang terampil atau memiliki kemampuan tertentu, limbah bisa memiliki nilai ekonomis yang tak jarang membikin kita berdecak kagum. Itu dibuktikan oleh warga di Kampung Oncom.

Kampung Oncom, demikian warga sekitar menyebut pemukiman yang berada di Jalan Sosonoloyo, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Wayhalim, ini. Sebutan tersebut merujuk pada aktivitas warga di sana yang mayoritas mengelola home industri pembuatan oncom.

Keberadaan para pembuat oncom atau dalam istilah Jawa dikenal sebagai tempe gembus ini, tak bisa terlepas dari eksistensi para pembuat tahu. Karena dari ampas kedelai sisa proses pembuatan tahu itulah oncom dihasilkan.

Maka bukan mendramatisir bila kemudian ada anggapan home industri di Kampung Oncom mendulang rezeki nomplok dari limbah pabrik tahu. Bagaimana tidak disebut ketiban durian runtuh, bila dari 1 ton ampas kedelai hasil pembuatan tahu, para pembuat oncom mampu menangguk keuntungan berkisar antara Rp250 ribu sampai Rp300 ribu per hari. Wow!

Baca Juga  Warung Bima, tak Hanya Tawarkan Harga Lebih Murah dari \'Toko Sebelah\'

Seperti yang dilakoni Uliah (52), yang sudah menjalankan usaha warisan keluarga memproduksi oncom sejak 1984. \”Dari orangtua dulu sampai sekarang saya menghidupi keluarga, ya hidup dari membuat oncom ini,\” ucapnya kepada Netizenku.com yang menyambangi kediamannya sekaligus merangkap tempat produksi oncom, Senin (2/4).

\"\"

Dituturkannya, saban hari dirinya dibantu anggota keluarga, menggarap tak kurang dari 1 ton ampas kedelai yang diperolehnya dari pabrik tahu langganan. \”Kalau awal kita dapat berat ampas tahu (kedelai, red) memang bisa mencapai 1 ton. Tapi itu kan istilahnya masih bahan mentah. Karena masih bercampur dengan air. Nanti setelah kita pres lagi paling beratnya tinggal setengahnya,\” papar Uliah.

Baca Juga  Wow! Telkomsel Hadirkan Paket Kuota Belajar 10GB Senilai Rp10

Usai dipres, imbuhnya menceritakan proses pembuatan oncom, kemudian dikukus di dalam drum kurang lebih selama dua jam. Pengukusan biasanya menggunakan api dengan kayu bakar. Bila sudah rampung dikukus, tahap selanjutnya ditiriskan untuk kemudian dihamparkan di atas papan yang sudah dipersiapkan. Kelar? Ternyata prosesnya tidak berhenti sampai disitu. \”Kita mesti menunggu 4 hari sampai ampas tahu menjadi oncom,\” timpal Uliah.

Mengingat ada jeda waktu untuk sampai proses finishing, maka sudah menjadi rutinitas bagi Uliah dan keluarga untuk tetap melakukan pengukusan dan mentiriskan ampas tahu setiap hari. Dengan demikian maka usahanya bisa rutin menjual oncom tanpa ada jeda. \”Kita sudah punya pembeli yang datang. Jadi sudah punya pelanggan sendiri. Dari mereka baru oncomnya dijual eceran,\” katanya, saat ditanya cara memasarkan oncom yang dihasilkannya.

Baca Juga  ASDP Indonesia Ferry Buka Lowongan Kerja Terbaru

Uliah pun terkesan terbuka mengungkapkan pendapatan per hari dari aktivitasnya membuat oncom. Menurutnya biaya per hari yang perlu dikeluarkan dari koceknya tak kurang dari setengah juta. Modal itu diperuntukkan membeli bahan baku berupa ampas tahu dan kayu bakar untuk mengukus.

\”Keuntungannya lumayan. Bisa untuk membiayai keperluan keluarga dan anak-anak,\” ucapnya seraya menyebut angka profit tak kurang dari Rp300 ribu per hari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *