AJI Usulkan KPU dan Cek Fakta Kolaborasi Cegah Hoaks Pemilu

Redaksi

Jumat, 8 Oktober 2021 - 23:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua KPU Bandarlampung Dedy Triadi (dua dari kiri) disaksikan Anggota Bawaslu Bandarlampung Yusni Ilham (kanan) memusnahkan surat suara rusak dengan cara dibakar di Sekretariat KPU setempat, Selasa (8/12) pagi. Foto: Netizenku.com

Ketua KPU Bandarlampung Dedy Triadi (dua dari kiri) disaksikan Anggota Bawaslu Bandarlampung Yusni Ilham (kanan) memusnahkan surat suara rusak dengan cara dibakar di Sekretariat KPU setempat, Selasa (8/12) pagi. Foto: Netizenku.com

Bandarlampung (Netizenku.com): Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim, menyampaikan peran media dalam mencegah dan memerangi informasi hoaks pada Pemilu dan Pemilihan.

KPU RI mengundang AJI Indonesia dalam Webinar Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan Seri Kelima: Teknik dan Metode Identifikasi Berita Hoaks Dalam Pemilu dan Pemilihan, Jumat (8/10).

Sasmito menggarisbawahi perbedaan berita dan informasi, bahwa berita tidak boleh bohong karena berita sebuah karya jurnalistik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mulai dari perencanaan redaksi, penggalian fakta, ada proses verifikasi yang sangat mendalam.

“Ketika teman-teman menemukan sebuah fakta di lapangan, dicek dengan reportase ke lapangan, kemudian diverifikasi dengan narasumber yang berbeda dengan data dan wawancara,” kata dia.

Baca Juga: Pakar UGM Ungkap Cara Deteksi Hoaks Pemilu dan Pemilihan

Sasmito menegaskan yang bisa disebut sebuah kebohongan seharusnya sebuah informasi tapi berita tidak tepat didefinisikan sebagai hoaks.

“Hoaks adalah berita bohong? Saya pikir lebih tepat adalah informasi palsu atau bohong karena cukup berbeda proses kerjanya,” ujar dia.

Kemudian jurnalis juga mempunyai kode etik jurnalis yang harus dipatuhi ketika bekerja.

“Berbeda dengan informasi, semua orang bisa menyebarkan informasi, mediumnya bisa di Facebook, Youtube, Twitter, Instagram, dan sebagainya. Di era digital sekarang, semua orang bisa menjadi penyebar informasi tapi belum tentu penyebar berita,” kata dia.

Informasi yang menyebar di media sosial, ujar Sasmito, belum tentu ada proses verifikasi, bisa jadi informasi yang disampaikan palsu dengan tujuan tertentu.

Bahkan, lanjut Sasmito, jurnalis yang melakukan framing tidak bisa lepas dari sebuah fakta.

“Apalagi menjelang pemilu, biasanya banyak sekali informasi palsu yang kemudian menyebar dengan cepat di masyarakat,” ujar dia.

AJI Usulkan KPU dan Cek Fakta Kolaborasi Cegah Hoaks Pemilu
Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim (bawah), dalam Webinar Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan Seri Kelima: Teknik dan Metode Identifikasi Berita Hoaks Dalam Pemilu dan Pemilihan, Jumat (8/10). Foto: Screenshot

Sasmito menjelaskan proses penyelesaian sengketa di antara keduanya juga berbeda ketika informasi atau berita merugikan penyelenggara pemilu, pasangan calon, atau masyarakat umum.

“Lembaga publik bisa mengadukan ke Dewan Pers ketika merasa dirugikan. Nanti Dewan Pers yang akan menguji, apakah karya jurnalistik yang dihasilkan melanggar kode etik atau tidak,” kata dia.

Sasmito melanjutkan ketika Dewan Pers memutuskan informasi atau berita yang dihasilkan oleh media bukan karya jurnalistik maka bisa diselesaikan dengan undang-undang lainnya, KUHP dan ITE.

Sasmito menuturkan, di 2018 AJI bekerja sama dengan MAFINDO, AMSI, dan didukung Google News Inisiatif, Internews meluncurkan platform Cek Fakta yang didukung 22 media di Indonesia.

“AJI sudah melatih hampir 2.000-an pengecek fakta di berbagai daerah yang tersebar di beberapa media. Mereka melakukan pengecekan fakta secara mandiri atau kerja-kerja kolaboratif,” ujar dia.

Publik bisa mengadukan ke Cek Fakta untuk kemudian ditelusuri dan hasilnya dipublikasikan di media masing-masing.

Ketika Pemilu 2019, tutur Sasmito, AJI juga melakukan kerja kolaborasi pada saat debat kandidat.

Para pengecek fakta melakukan kerja kolaborasi terhadap hal-hal yang disampaikan kandidat.

“Itu dicek secara langsung dan masyarakat bisa melihat, apakah yang disampaikan kandidat, betul atau bohong, atau keliru,” kata dia.

Pengecekan fakta ini bisa diduplikasikan di daerah dengan dukungan KPU. Kolaborasi bersama media-media daerah dan nasional pada pilkada serentak.

“Jadi edukasi terhadap publik bisa dilakukan dengan cepat,” ujar dia.

Namun, lanjut dia, jurnalis juga mendapatkan tantangan ketika melawan hoaks yang beredar di masyarakat.

Pertama, media sulit melakukan diseminasi secara cepat dan meluas kepada masyarakat.

Kedua, hoaks yang marak. Ketiga, deepfake sebuah video rekayasa yang dibuat oleh kecerdasan buatan dengan teknologi canggih. Gambar dan suara terdengar seperti aslinya.

“Tantangan ke depan akan semakin sulit, karena hoaksnya bukan dalam bentuk gambar dan tulisan,” kata dia.

Keempat, stempel hoaks sembarangan.

“Dari yang kami pantau, ini muncul di era pandemi. Ada beberapa berita yang sudah terkonfirmasi dan dihasilkan proses kerja jurnalistik, kemudian distempel hoaks oleh kepolisian,” ujar dia.

Sasmito menyarankan lembaga negara yang menemukan berita yang keliru atau tidak tepat, sebaiknya tidak distempel hoaks tapi melaporkan ke Dewan Pers.

AJI Indonesia merekomendasikan perlu ada literasi media. Publik perlu membedakan antara media atau pers dengan media sosial.

Kemudian perlu ada kolaborasi cek fakta. Ketika masyarakat menemukan informasi yang dianggap bohonh bisa menyampaikan melalui platform cekfakta.com.

Selanjutnya, publik perlu kembali ke media massa untuk mendapatkan informasi yang baik dan valid, bukan di media sosial.

Terakhir, jaminan akses internet. “Belajar dari kasus di Papua pada 2019, terjadi pemutusan akses internet di tengah kerusuhan. Kami kesulitan melakukan verifikasi dan menyebarkan hasil cek fakta,” kata dia.

“Kalau mau memerangi hoaks perlu ada jaminan akses internet yang merata di berbagai wilayah,” tutup dia. (Josua)

Berita Terkait

Kekuasaan dalam Dunia Fiksi
Pesan untuk Jakarta, “Ukur Ulang atau Kami Duduki!”
Otonomi Tanpa Dompet: Lampung Harus Berani Mandiri Fiskal (Jawaban Pasca Pemangkasan TKD)
Nasib Petani Singkong Lampung di Tengah Oligarki dan Kebijakan Mentan yang “Menjengkelkan”
Fiskal Ketat, Lampung Tak Ingin Sekadar Bertahan, Tapi Bertumbuh
Badai Proxy War Mengintai Fondasi Ekonomi Nasional
Jeritan Petani Singkong Lampung Ubah Arah Kebijakan Nasional
Jarnas.Indo Kecam DPR dan Pemerintah: Rakyat Tercekik, Elit Politik Malah Menikmati Fasilitas

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:11 WIB

Pemprov Lampung Perkuat Sinergi TNI-Polri Lewat NPHD

Rabu, 18 Februari 2026 - 09:34 WIB

Pemprov Lampung Tuntaskan Tunda Bayar 2025 Lebih Cepat

Selasa, 17 Februari 2026 - 16:05 WIB

FLL Ajak Penggiat Perkuat Kolaborasi Literasi

Sabtu, 14 Februari 2026 - 13:39 WIB

Lewat Mini Soccer, Pemprov Lampung dan Jurnalis Perkuat Sinergi Pembangunan Daerah

Jumat, 13 Februari 2026 - 13:51 WIB

Pemprov Lampung Tebar 50 Ribu Benih Ikan dan Bersih Bersih di PKOR Way Halim

Rabu, 11 Februari 2026 - 17:00 WIB

DPRD Lampung Dorong Keberlanjutan Rute Internasional Lampung–Malaysia

Selasa, 10 Februari 2026 - 23:27 WIB

Gubernur Mirza Pimpin HLM TPID Jaga Stabilitas Harga Jelang Ramadhan

Selasa, 10 Februari 2026 - 23:07 WIB

Pemprov Lampung Siapkan Percepatan Pembangunan Jalan Provinsi di 2026

Berita Terbaru

Lampung

Pemprov Lampung Perkuat Sinergi TNI-Polri Lewat NPHD

Rabu, 18 Feb 2026 - 21:11 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Tuntaskan Tunda Bayar 2025 Lebih Cepat

Rabu, 18 Feb 2026 - 09:34 WIB

Lampung

FLL Ajak Penggiat Perkuat Kolaborasi Literasi

Selasa, 17 Feb 2026 - 16:05 WIB