oleh

Ajak Pemuda Renungi Kebhinekaan, Klasika Kembali Bagikan Kurma

Bandarlampung (Netizenku.com): Sukses dengan kuliah ramadhan (Kurma) pada tahun 2017 lalu, kini Kelompok Studi Kader (Klasika) kembali menggelar Kurma II.

Diketahui, agenda ini merupakan kegiatan rutin KLASIKA di bulan ramadhan. Kurma II kali ini akan dibagi menjadi 2 sesi, pertama akan dilaksanakan pada tangga 2 hingga 3 Juni 2018, kemudian dilanjutkan pada 7 hingga 8 Juni 2018.

Kegiatan ini diselenggarakan di Rumah Ideologi Klasika yang beralamat di Jalan Sentot Ali Basa, Gang Pembangunan A5, Sukarame, Bandarlampung.

Baca Juga  746 Pedagang Pasar di Bandarlampung Divaksinasi Covid-19

Penanggungjawab Program Klasika, Een Riansah mengatakan, Kurma II mengangkat tema Renung Kebhinekaan. Menurut dia, tema ini diusung karena belakangan ini muncul kembali tindak radikalisme di Indonesia yang mengatasnamakan agama.

\”Mulai dari pemberontakan napi di Mako Brimob, peledakan bom di tiga gereja di Surabaya yang disusul dengan serangan di Mabes Polresta Surabaya, hingga teror bom di Mall Transmart Lampung. Peristiwa-peristiwa tersebut sangat berpotensi menimbulkan konflik umat beragama di Indonesia. Dengan diangkatnya tema ini diharapkan dapat menjaga nilai toleransi di masyarakat khususnya para pemuda,\” ujar Een kepada Netizenku.com, Selasa (29/5).

Baca Juga  Wagub Bachtiar Basri Ajak Pensiunan PNS Bersama Bangun Lampung

Pada kesempatan ini, Klasika mengundang beberapa aktivis, akademisi serta pejabat dari kampus ternama di Bandarlampung sebagai narasumber. Mereka adalah Rektor Universitas Malahayati Muhammad Kadafi, Wakil Rektor III Unila, Aom Karomani, Dosen Hukum UIN Raden Intan, Siti Mahmudah, dan Chepry Chaeruman Hutabarat selaku Founder Klasika.

Een juga menerangkan, bahwa salah satu cara untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat adalah dengan membuka ruang-ruang diskusi yang bersifat edukatif prihal pemahaman kebangsaan.

Baca Juga  Eva Dwiana Lantik Pengurus POBSI Bandarlampung 2021-2025

“Belum usai masalah bangsa ini atas kebodohan, kemiskinan dan korupsi yang seakan tak ada habisnya, aksi terorisme oleh kelompok yang mengatasnamakan agama semakin membuat masyarakat cemas dan trauma akan keberagaman. Maka salah satu tindakan yang paling masif untuk memberikan edukasi pada masyarakat akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan adalah terus membuka ruang-ruang diskusi bagi masyarakat,\” pungkasnya.(Agis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 komentar