Irham Jafar: 4 Pilar Kebangsaan Penting untuk Melawan Pergeseran Nilai

Ilwadi Perkasa

Sabtu, 1 Maret 2025 - 00:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pendopo kediaman Anggota DPRD Provinsi Lampung Abdullah Sura Jaya, Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah, Rabu (26/02/2025).

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pendopo kediaman Anggota DPRD Provinsi Lampung Abdullah Sura Jaya, Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah, Rabu (26/02/2025).

Gunung Sugih (Netizenku.com): Anggota MPR RI Irham Jafar Lan Putra mengatakan sosialisasi empat Pilar Kebangsaan (UUD ’45, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) penting dilakukan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menangkal pegeseran-pergeseran nilai yang terjadi di masyarakat.

Irham Jafar mengemukakan hal tersebut pada Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pendopo kediaman Anggota DPRD Provinsi Lampung Abdullah Sura Jaya, Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah, Rabu (26/02/2025).

Irham menyebut, sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang nilai-nilai yang terkandung dalam UUD ’45, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pemahaman tersebut akan memberi bobot kepada masyarakat untuk hidup dalam realitas nilai-nilai masyarakat yang terus berubah dengan tetap memegang teguh jati diri.

Baca Juga  RMD Serap Aspirasi Rakyat

Menurut Irham, masyarakat Indonesia wajib bersyukur dengan adanya Pancasila sebagai ideologi bangsa. Sebab, Pancasila terbukti ampuh mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, dan golongan. “Dengan Pancasila, sekitar 730 suku di Indonesia dapat hidup rukun dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Riza Yudha Patria, Wakil Rektor 3 Universitas Tulang Bawang (UTB) Lampung mengakui, dewasa ini telah terjadi pergeseran nilai di tengah masyarakat. Pada beberapa dasawarsa lalu, istri biasa menyambut kedatangan suami sepulang kerja dengan melepaskan sepatu suami. Lalu menyiapkan kopi dan memasakkan air panas untuk mandi suaminya. Tetapi sekarang, kebanyakan istri menyambut kedatangan suami dengan biasa-biasa saja, sembari memainkan handphone. “Itu bukan karena istri tidak lagi cinta kepada suami, tetapi pola relasi antara suami dan istri sudah berubah,” kata Riza.

Baca Juga  DPRD Minta Pemkot Data Ulang Pedagang Pasar SMEP

Pergeseran-pergeseran nilai itu lazim terjadi seiring dengan kemajuan zaman. Tetapi perubahan pola prilaku masyarakat itu harus dipandu pada tingkat yang masih dapat ditoleransi. Maka, harus ada standar untuk mengukur kepatutan prilaku masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Standar tersebut adalah Empat Pilar Kebangsaan: UUD ’45, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Baca Juga  Ketua Tim Relawan PDIP Lamteng Ajak Masyarakat Jaga Kondusifitas Pemilu 2019

Pada kesempatan Riza menjelaskan, pemerintah sedang berupaya mengembalikan mata pelajaran PMP dalam kurikulum SD sampai SMA. “Beberapa puluh tahun ini mata pelajaran PMP hilang dari kurikulum sekolah. Ke depan, mata pelajaran yang menitikberatkan pada ajaran sopan-santun dan nilai-nilai moral ini akan kembali diajarkan di sekolah-sekolah,” kata Riza.(*)

Berita Terkait

Presiden Prabowo Wanti-wanti Mendikti Agar Mahasiswa Tidak Terhasut
PAN Kembali Bantu Korban Banjir Bandar Lampung
PSU Pilkada Pesawaran di Tengah Keterbatasan Anggaran, Ini Solusi dari Pak Sam
Sengketa Pilkada Pesawaran Berakhir, MK Putuskan Ini!!!
PAN Terus Pantau Banjir Bandar Lampung
PAN Kembali Kunjungi Korban Banjir
Lampung Perkuat Ketahanan Pangan, Pj. Gubernur Samsudin Tinjau Vaksinasi Massal PMK di Lampung Tengah
Gelisahku, Mungkin Kegelisahan Pj Gubernur Samsudin Juga

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 14:19 WIB

Menerka Arah Media Massa, Mau Untung Malah Buntung

Selasa, 1 April 2025 - 12:37 WIB

Belajar Menambal Kredibilitas dari The New York Times

Senin, 31 Maret 2025 - 20:48 WIB

Obrolan Wartawan di Sela Ketupat Lebaran

Minggu, 30 Maret 2025 - 17:53 WIB

Wartawan, Storyteller yang Bukan Pengarang Bebas

Jumat, 28 Maret 2025 - 22:47 WIB

Kita Pernah Punya Wartawan Jihad, Kapan Ada Lagi?

Rabu, 26 Maret 2025 - 22:34 WIB

Tak Perlu Kepala Babi dan Bangkai Tikus untuk Membuat Kicep

Senin, 24 Maret 2025 - 05:01 WIB

Kebohongan Resmi dan Keterangan Palsu

Rabu, 19 Maret 2025 - 14:27 WIB

Jurnalis dan Macan dalam Kandang

Berita Terbaru

(Ilustrasi: ist)

Celoteh

Menerka Arah Media Massa, Mau Untung Malah Buntung

Kamis, 3 Apr 2025 - 14:19 WIB

Buku The New York Times karya Ignatius Haryanto. (foto: koleksi pribadi)

Celoteh

Belajar Menambal Kredibilitas dari The New York Times

Selasa, 1 Apr 2025 - 12:37 WIB

Ketupat (foto: ist)

Celoteh

Obrolan Wartawan di Sela Ketupat Lebaran

Senin, 31 Mar 2025 - 20:48 WIB

Ilustrasi buku jurnalisme sastrawi. (foto: dok pribadi)

Celoteh

Wartawan, Storyteller yang Bukan Pengarang Bebas

Minggu, 30 Mar 2025 - 17:53 WIB